TIPS MENGATASI INSOMNIA | PENYAKIT SUSAH TIDUR

 

Setiap manusia membutuhkan waktu tidur kurang lebih sekitar 1/3 waktu hidupnya atau sekitar 6-8 jam sehari. Secara alami dan otomatis jika tubuh lelah maka kita akan merasa mengantuk sehingga memaksa tubuh kita untuk beristirahat secara fisik dan mental.

Menurut penelitian, orang yang tidur selama 6,5 sampai 7,5 jam dalam sehari akan memiliki hidup yang lebih panjang dari pada yang tidurnya hanya memakan waktu kurang dari 6,5 jam atau lebih dari 8 jam perhari.

Insomnia dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang mana seseorang mengalami kesulitan untuk tidur atau tidak dapat tidur dengan nyenyak. Rata-rata setiap orang pernah mengalami insomnia sekali dalam hidupnya. Bahkan ada yang lebih ekstrim menyebutkan 30 – 50% populasi mengalami insomnia.

Insomnia dapat menyerang semua golongan usia. Meskipun demikian, angka kejadian insomnia akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini mungkin disebabkan oleh stress yang sering menghinggapi orang yang berusia lebih tua. Disamping itu, perempuan dikatakan lebih sering menderita insomnia bila dibandingkan laki-laki.

CARA MENGATASI PENYAKIT SUSAH TIDUR

* Hindari makan dan minum terlalu banyak menjelang tidur. Makanan yang terlalu banyak akan menyebabkan perut menjadi tidak nyaman, sementara minum yang terlalu banyak akan menyebabkan anda sering ke belakang untuk buang air kecil. Sudah tentu kedua keadaan ini akan menganggu kenyenyakan tidur anda.

* Tidurlah dalam lingkungan yang nyaman. Saat tidur, matikan lampu, matikan hal-hal yang menimbulan suara, pastikan anda nyaman dengan suhu ruangan tidur anda. Jauhkan jam meja dari pandangan anda karena benda itu dapat membuat anda cemas karena belum dapat terlelap sementara jarum jam kian larut.

* Gunakanlah tempat tidur anda khusus untuk tidur. Hal ini akan membantu tubuh anda menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tidur. Saat anda berbaring di tempat tidur, maka akan timbul rangsangan untuk tidur.

* Tidur dan bangunlah dalam periode waktu yang teratur setiap hari. Waktu tidur yang kacau akan mengacaukan waktu tidur anda selanjutnya.

* Makanlah makanan ringan yang mengandung sedikit karbohidrat menjelang tidur, bila tersedia, tambahkan dengan segelas susu hangat.

* Kurangi mengkonsumsi minuman yang bersifat stimulan atau yang membuat anda terjaga seperti teh, kopi, alkohol dan rokok. Minuman ini akan menyebabkan anda terjaga yang tentu saja tidak anda perlukan bila anda ingin tidur.

* Mandilah dengan air hangat 30 menit atau 1 jam sebelum tidur. Mandi air hangat akan menyebabkan efek sedasi atau merangsang tidur. Selain itu, mandi air hangat juga mengurangi ketengangan tubuh.

* Berolah raga yang teratur dapat membantu orang yang mengalami masalah dengan tidur. Olah raga sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan bukan beberapa menit menjelang tidur. Dengan berolah raga, kesehatan anda menjadi lebih optimal sehingga tubuh dapat melawan stress yang muncul dengan lebih baik.

* Lakukan aktivitas relaksasi secara rutin. Mendengarkan musik, melatih pernafasan, meditasi dan lain lain akan membantu memperlambat proses yang terjadi dalam tubuh sehingga tubuh anda menjadi lebih santai. Keadaan ini akan mempemudah anda untuk tidur.

* Hentikan menonton TV atau membaca buku, setidaknya 1 jam sebelum tidur.

Itulah beberapa tips mengatasi susah tidur anda. Ingatlah selalu bahwa tidur merupakan kebutuhan pokok tubuh untuk pertumbuhan dan memperbaiki fungsi organ yang terganggu. Dengan waktu tidur yang cukup, maka kita akan merasa segar bugar ketika bangun pagi dan siap melakukan berbagai aktifitas sepanjang hari dari pagi hingga malam.

Normalnya manusia tidur pada saat malam hari hingga pagi hari, namun tidak jarang ada orang yang bisa tidur dari siang sampai malam hari karena tuntutan pekerjaan atau karena sudah terbiasa.

Insomnia bukan merupakan penyakit bawaan dan dengan demikian tentu akan mudah disembuhkan.

Selain faktor depresi, insomnia bisa juga akibat pengaruh minuman keras atau minuman yang banyak mengandung kafein, penggunaan obat tidur atau penenang dalam waktu lama, obat penurun tekanan darah tinggi golongan beta-blocker (seperti atenadol, madolol, dan propanodol).

  • TEH PALA

Mengatasi gangguan tidur tidak perlu ke dokter, apalagi mengonsumsi obat penenang. Dari ranah tanaman ada beberapa tanaman yang bisa didayakan untuk menyamankan tidur Anda. Weiss E.A. dalam Essential Oil Crops Chapter 7: Myristicaceae (1997) menyebut, senyawa aromatik myristicin, elimicin, dan safrole sebesar 2 – 18% yang terdapat pada biji dan bunga pala bersifat merangsang tidur berkhayal (halusigenik) dengan dosis kurang dan 5 g. Jangan banyak-banyak sebab bila mengonsumsi sekitar 8 g (setara dengan dua biji) pala, akan berubah sifat menjadi narkotik yang berbahaya, bahkan bisa merenggut nyawa.

Di beberapa negara Eropa, biji pala di gunakan dalam porsi sedikit sebagai bumbu masakan daging dan sup. Fulinya (kulit pembungkus biji pala) lebih disukai digunakan dalam penyedap masakan, acar, dan kecap. Minyak yang mudah menguap dari biji, fuli, kulit, kayu, daun, dan bunga hasil sarinya sebagai oleoresins sering digunakan dalam industri pengawetan minuman ringan sampai alkohol dan kosmetik.

Minyak pala secara luas digunakan sebagai bahan penyedap pada produk makanan dengan dosis yang dianjurkan sekitar 0,08%. Minyak ini memiliki kemampuan mematikan serangga (insektisidal), antijamur (fungisidal), dan antibakteri. Sebagai obat, pala berkhasiat sebagai bahan perangsang (stimulan), mengeluarkan angin (karminatif), menciutkan selaput lendir atau pori-pori (astrinjen), dan meng atasi lemah syahwat (afrodisiak).

Pala (Myristica fragrans Houtt) termasuk tumbuhan dari famili Myristicaceae (pala-palaan). Tumbuhan berbatang sedang dengan tinggi mencapai 18 m itu memiliki daun berbentuk bulat telur atau lonjong yang selalu hijau sepanjang tahun. Buahnya bulat berkulit kuning jika sudah tua, berdaging putih yang merupakan bahan manisan yang dikenal khas di Bogor. Bijinya berkulit tipis agak keras berwarna hitam kecokelatan yang dibungkus fuli berwarna merah padam. Isi bijinya putih, bila dikeringkan menjadi kecokelatan gelap dengan aroma khas mirip cengkih.

Pohon pala dapat tumbuh di daerah tropis pada ketinggian di bawah 700 m dari permukaan laut, beriklim lembab dan panas, curah hujan 2.000 – 3.500 mm tanpa mengalami periode musim kering secara nyata. Tanaman pala umumnya dibudidayakan di Kepulauan Maluku, khususnya Ambon dan Banda. Ditanam dalam skala kecil di kepulauan lainnya sekitar Banda, Manado, Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Papua.

Per 100 g daging buah pala yang bisa dimakan kira-kira terkandung air 10 g, protein 7 g, lemak 33 g, minyak yang menguap dengan komponen utama mono terpene hydrocarbons (61 – 88% seperti alpha pinene, beta pinene, sabinene), asam monoterpenes (5 – 15%), aromatik eter (2 – 18% seperti myristicin, elemicin, safrole).

Sedangkan bunga pala dapat digunakan sebagai obat tidur dalam bentuk teh. Setiap 100 g bunga kira-kira mengandung air 16 g, lemak 22 g, minyak yang menguap 10 g, karbohidrat 48 g, fosfor 0,1 g, zat besi 13 mg. Warna merah dari fulinya adalah lycopene yang sama dengan warna merah pada tomat.

  • BIJI ADAS

Jika tiada pala, bolehlah mencoba biji adas. Tanaman yang yang memiliki nama ilmiah Foeniculum vulgare Miller ini termasuk keluarga Apiaceae (pegagan-pegaganan). Di Jawa dibudidayakan di daerah pegunungan seperti di Tengger yang buahnya dipanen sebagai bahan ramuan dengan kulit pulasari (Alyxia sp.) untuk memperbaiki aroma jamu dan bumbu penyedap masakan.

Adas termasuk tumbuhan perdu tahunan yang tingginya sampai 2 m. Batangnya beruas, berlubang, beralur dengan percabangan monopodial warna hijau keputihan. Daunnya majemuk, menyirip ganda, bentuk jarum, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, panjang 30 – 50 cm, lebar 15 – 25 cm, panjang pelepah 5 – 7 cm berwarna hijau muda sampai hijau.

Bunganya juga majemuk berbentuk payung, tumbuh di ujung batang, kelopak bentuk tabung, hijau, dan mahkota ada lima berwarna kuning. Buahnya berbentuk lonjong, beralur, panjang 6 – 10 mm, lebar 3 – 4 mm, masih muda hijau setelah tua hijau keabu-abuan.

Buahnya diketahui secara umum sebagai obat perangsang (stimulan), menguatkan lambung, peluruh dahak (ekspektoran), dan mengeluarkan angin (karminatif). Secara resmi telah digunakan pada industri farmasi. Di India daunnya digunakan sebagai obat peluruh kencing (diuretik), jus buahnya dapat memperbaiki penglihatan mata. Dalam pengobatan tradisional Cina, adas digunakan sebagai bahan obat radang lambung, hernia, gangguan pencernaan, luka usus, dan merangsang produksi susu (laktagoga). Di Jerman digunakan dalam pengobatan gangguan kejang akibat asam lambung dan peluruh dahak dalam bentuk sirup obat batuk anak-anak.

Menurut Bernath dkk. dalam journal of Essential Oil Research (1996) menyebutkan, buah adas mengandung minyak yang mudah menguap anetol di atas 70 – 80% pinen, fenchon, limonen, estragol, 14 – 22% protein, dan 12 – 18,5% lemak. Buahnya juga mengandung flavanoid dan stigmasterol sebagai antioksidan, antijamur, antibak ten, antivirus, dan bertindak sebagai penenang pada jaringan saraf yang berhubungan dengan kejiwaan (spasmolitik)

  • DAUN PENENANG

Di samping adas dan pala, terdapat putri malu yang bisa digunakan sebagai obat tradisional penderita insomnia. Tanaman dari keluarga Fabaceae (kacang-kacangan) ini memiliki sejumlah nama. Orang Jawa menyebutnya pis kucing, di Sunda dikenal sebagai jukud riyud, dan orang Papua memberi nama mat mat. Jenis ini mungkin berasal dari Amerika Selatan, tetapi telah menyebar ke daerah tropis lainnya termasuk Asia Tenggara.

Baik di Indonesia, Malaysia, maupun Thailand digunakan secara tradisional untuk pengobatan insomnia. Di Vietnam daunnya sebagai obat tradisional untuk penenang, sehingga dihargai sebagai obat tidur penderita insomnia. Di India dan Thailand rebusan seluruh bagian tanaman untuk pengobatan penderita kencing berdarah. Di Brunei rebusan akarnya diminum penderita asma dan murus atau mencret. Rebusan yang sama di India digunakan sebagai pengobatan gangguan kencing dan lemah syahwat (afrodisiak).

Englert dkk. dalam Planta Medica menyebutkan, tanaman putri malu mengandung senyawa yang sensitif, yakni momosine, sebuah asam amino hasil biosintetik turunan dari lysine. Senyawa itu bersifat racun bagi beberapa binatang seperti babi, kelinci, dan binatang memamah biak.

Hasil eksperimen dengan menyuntikkan 10% sari daunnya berpengaruh menurunkan tekanan darah pada anjing yang sekaligus sebagai penenang (sedatif), antiradang, tidak melekatnya pembuahan telur pada rahim (anti implantasi), dan antiradang rematik. Hasil tes pada tikus memperlihatkan bertambahnya waktu tidur. Dapat menurunkan kadar gula tikus-tikus dengan kadar gula tinggi (diabetes) setelah memberikan pakan dua jam dan jangka maksimum setelah enam jam menunjukkan gejala normal.

Nah, buat Yanto tinggal pilih, mau pakai pala, adas, atau putri malu. Semoga tidak uring-uringan lagi hanya karena pergelaran Piala Dunia Jerman 2006 sudah berakhir. Jika dulu begadang, sekarang bisa tidur nyenyak.

 

fungsi agama dalam masyarakat “(B.R Wilson)”

BAB II

Pembahasan

Gambar

 

  1. A.      Pengertian Agama

Menurut hendro puspito agama adalah suatu jenis sistem sosial yang di buat oleh penganut-penganut nya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non empiris yang di percayainya dan di daya gunakan nya untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umum nya. Adapun menurut sebagian tokoh lain mengatakan bahwa agama adalah sebuah sandaran hidup bagi penganut nya. Dalam kamus sosiologi ada tiga macam yaitu

  1. Kepercayaan pada hal hal yang spiritual
  2. Perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang di anggap sebagai tujuan tersendiri.
  3. Ideologi mengenai hal hal yang bersipat natural.

Merumuskan pengertian agama bukan suatu perkara mudah, dan ketidak sanggupan manusia untuk mendefinisikan agama karena disebabkan oleh persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena itu tidak mengherankan jika secara internal  muncul pendapat-pendapat yang secara apriori menyatakan bahwa agama tertentu saja sebagai satu-satunya agama samawi, meskipun dalam waktu yang bersamaan menyatakan bahwa agama samawi itu meliputi Islam, Kristen dan Yahudi.

Sumber terjadinya agama terdapat dua katagori, pada umumnya agama Samawi dari langit, agama yang diperoleh melalui Wahyu Illahi antara lain Islam, Kristen dan Yahudi.—-dan agama Wad’i atau agama bumi yang juga sering disebut sebagai agama budaya yang diperoleh berdasarkan kekuatan pikiran atau akal budi manusia antara lain Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan berbagai aliran keagamaan lain atau kepercayaan.

Dalam prakteknya, sulit memisahkan antara wahyu Illahi dengan budaya, karena pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, seruan-seruan pemuka agama meskipun diluar Kitab Sucinya, tetapi oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai Perintah Illahi, sedangkan pemuka-pemuka agama itu sendiri merupakan bagian dari budaya dan tidak dapat melepaskan diri dari budaya dalam masa kehidupannya, manusia selalu dalam jalinan lingkup budaya karena manusia berpikir dan berperilaku.

Beberapa acuan yang berkaitan dengan kata  “Agama” pada umumnya; berdasarkan Sansekerta yang menunjukkan adanya keyakinan manusia berdasarkan Wahyu Illahi dari kata A-GAM-A, awalan A berarti “tidak” dan GAM berarti “pergi atau berjalan, sedangkan akhiran A bersifat menguatkan yang kekal, dengan demikian “agama: berarti pedoman hidup yang kekal” Berdasarkan kitab, SUNARIGAMA yang memunculkan dua istilah; AGAMA dan UGAMA, agama berasal dari kata A-GA-MA, huruf A berarti “awang-awang, kosong atau hampa”, GA berarti “genah atau tempat” dan MA berarti “matahari, terang atau bersinar”, sehingga agama dimaknai sebagai ajaran untuk menguak rahasia misteri Tuhan, sedangkan istilah UGAMA mengandung makna, U atau UDDAHA yang berarti “tirta atau air suci” dan kata GA atau Gni berarti “api”, sedangkan MA atau Maruta berarti “angin atau udara” sehingga dalam hal ini agama berarti sebagai upacara yang harus dilaksanakan dengan sarana air, api, kidung kemenyan atau mantra. Berdasarkan kitab SADARIGAMA dari bahasa sansekerta IGAMA yang mengandung arti I atau Iswara, GA berarti Jasmani atau tubuh dan MA berarti Amartha berarti “hidup”, sehingga agama berarti Ilmu guna memahami tentang hakikat hidup dan keberadaan Tuhan.

  1. B.       Pengertian masyarakat

Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan (Soerjono Soekanto, 1983). Sedangkan agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut. Sedangkan Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5,7% Protestan, 3% Katolik, 1,8% Hindu, dan 3,4% kepercayaan lainnya.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

Berdasar sejarah, kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia.

  1. C.      Fungsi agama dalam masyarakat (Bryan Wilson)

Menurut Bryan Wilson, agama memiliki fungsi[1] manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan. Untuk mendapatkan gambaran dari persoalan-persoalan yang di kaji, para sosiolog menggunakan dua corak metodologi penelitian, yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Penelitian kuantitatif dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktik kehadiran di gereja. Pendekatan seperti ini digunakan oleh Rodney Stark dan William Bainbridge dalam The Future of Religion saat mengumpulkan sejumlah besar database statistik nasional dan regional tentang kehadiran di gereja dan keanggotaan peribadatan dalam upaya menghasilkan teori sosial yang telah direvisi mengenai posisi agama dalam masyarakat modern. Sedangkan penelitian kualitatif terhadap agama disandarkan pada komunitas atau jama’ah keagamaan dalam skala kecil dengan menggunakan metode seperti pengamatan partisipan atau wawancara mendalam. Metode ini diprakarsai oleh Max Weber dan kemudian disempurnakan oleh Ernst Troeltsch dari Jerman. Jelasnya bahwa dua metode tersebut (kuantitatif dan kualitatif) dapat digunakan untuk meneliti agama melalui pendekatan sosiologi.

Menurut B. R. Wilson, agama terlibat sedikit dalam masyarakat. Namun, dia mengakui terlalu pagi untuk mengatakan bahwa masyarakat modern dapat berfungsi tanpa agama. Masyarakat sekuler masa kini, demikian Wilson, di mana pemikiran, praktik, dan institusi  keagamaan hanya sebagian kecil saja, hanya mewarisi sedikit nilai, watak, dan orientasi agama masa lampau. Masyarakat yang sepenuhnya sekuler belum ada. Mungkin, apabila respon terhadap institusionalisme makin subur, birokrasi dalam masyarakat modern makin berkembang, demikian Wilson, agama akan menemukan fungsi-funsgi baru untuk dijalankan–tetapi, barangkali bukan agama yang menerima nilai-nilai institusionalisme dan agama ekumenisme, melainkan agama sekte-sekte.

  1. Sekte sekte B.R Wilson

Sekte adalah gerakan ideologi yang mempunyai sasaran yang eksplisit dan di ikrarkan, mempertahankan, dan bahan penyebaran ideologi tersebut. Oleh karna itu, dapat di catat bahwa orang orang yang kepentingan nya terletak di atas semua ideologi (sumber dan kredibilietas gagasan mengenai tuhan, dan pembenaran atas perlakuan namanya). Mempunyai kepentingan yang absah atas namanya. Dalam pembahasan mengenai sekte-sekte agama ada beberapa macam sekte yang di kemukakan oleh B.R Wilson, yaitu sebagai berikut:

  • Sekte konversionis

            Sekte[2] konversionis adalah sekte khas dari kristen mentalis dan “evangelis” reaksinya terhadap dunia luar menunjukan bahwa sekte terahir ini menyimpang karna manusia menyimpang. Jika manusia dapat di ubah maka dunia akan berubah. Tipe sekte ini tidak berminat untuk melakukan repormasi sosial atau menempuh cara pemecahan politik terhadam masalah sosial, dan bahkan secara aktif membencinya.

  • Sekte introversionist

            Tipe introversionist memberikan respon kepada dunia dalam bentuk ketidak pedulian terhadap mualaaf. Dan juga tak peduli kejadian apapun di dunia, melainkan menarik dari diri dunia dan asik dengan kelompok sendiri yang di pimpin oleh pemimimpin yang suci. Tipe sekte ini sepenuh nya tak acuh terhadap segala repormasi sosial, terhadap konverensi individual dan revolusi sosial.

  • Sekte manipulationist

            Sekte manipulationist adalah yang terutama berdasarkan pada pengetahuan husus tertentu. Mereka mendefinisikan dirinya sebagai lawan (vis-a-vis) dunia luar secara esensial dengan cara menerima tujuan tujuan nya.mereka meringkali pernyataan persi yang lebih spirit tual dari tujuan kebudayaan masyarakat secara keseluruhan tetapi tidak menolaknya. Sekte ini lebih suka berusaha mengebah metode-metode yang sesuai untuk mencapai tujuan itu.

  • sekteThaumaturgikal[3]

            sekte thaumaturgikal adalah gerakan yang berpendapat bahwa manusia dapat mengalami akibat yang luarbiasa dari supernatural dalam kehidupan mereka. Sekte ini mendefinisikan diri sendiri dalam kaitanya dengan masyarakat yang lebih luas dengan menegaskan bahwa kenyataan dan penyebab normal dapat di paduklan untuk manfaat difensiasi husus dan pribadi, dan merekapun tidak mengakui adanya proses fisik menua dan matti dan berhimpun untuk menegaskan pengecualian husus dari pernyataan sehari-hari yang diberi jaminan setiap individu dan orang yang di cintainya hidup abadi di akhirat nanti.

  • Sekte reformist

            Sekte reformist maknanya merupakan kasus tersendiri. Tetapi pendekatan analitik yang dinamik terhadap gerakan keagamaan membutuhkan suatu kategori yang sesuai dengan kelompok nya, walaupun sektarian di dalam hal-hal tertentu, telah mempengaruhi transpormasi dalam respon awal mereka terhadap dunia luar. Meski pada mulanya sekte ini revolusioner, sikap ini kemudian bisa menjadi introvet.

  • Sekte utopia

            Sekte utopia barangkali adalah tipe sekteyang paling komplek sebagian responya terhadap dunia luar adalah penarikan diri: dan sebagianlagi bercita-cita membangun lagi dunia agar lebih baik. Dalam kasus sekte utopian agak nya sangat tidak perlu membedakan antara orang-orang yang di anggap membutuhkan”koloni” sebagai misi keagamaan mereka yang esensial, sebagai sarana yang spesipik dalam mencapai kemulyaan, dan orang-orang yang menganggap misi itu untuk mencapai kepentingan rasional tertentu.

  • Sekte legion

Sekte legion adalah sekte yang berpengaruh terhadap kristen. Dalam sejumlah kasus tertentu para pemimpin mereka adalah para penduduk asli yang memperoleh kesempatan yang langka untuk memperoleh martabat dan kekuasaan yang di tawarkan oleh misi yang dimana mereka dididik. Sebagai contoh kasus rimbangon.[4]

 

 

 

 

BAB III

Penutup

  1. A.      Kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan bahwa agama memiliki fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan.

Agama pun dapat berfungsi pada masyarakat dalam perananya mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat di pecahkan secara empiris karana adanya keterbatasan dan kemampuan dan ketidak pastian.

  1. B.       Daftar pustaka

Kahmad dadang sosiologi agama

Dadang Kahmad, “Sosiologi Agam” (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002)

Dikutip dari fotocopy roland robersont,ed agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis oleh Drs. Fedyani achmad s, M.A (Rajagrafindo persada, jakarta, 1995)


[1] Dua fungsi menurut B.R Wilson, lihat pada buku Aneka pendekatan studi agama terjemaahan, imam khoiri halaman 284/287

[2] Pembahasan mengenai sekte sekte menurut B.R. Wilson, lihat pada buku agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis terjemaahan Achmad Fedyani S, halaman 432/439

[3] Pembahasan mengenai sekte sekte menurut B.R. Wilson, lihat pada buku agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis terjemaahan Achmad Fedyani S, halaman 441/456

[4] Kasus kimbangon. lihat pada buku agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis terjemaahan Achmad Fedyani S, halaman 455

teologi pembebasan

Gambar

Pmbahasan

  1. A.    Metode Teologi Pembebasan

Teologi pembebasan adalah sebuah gebrakan baru dalam teologi. Gebrakan itu pertama-tama bukan terletak pada obyek kajian dan isi melainkan pada metodologinya, pada cara berteologi. Cara berteologinya adalah transformatif, bertolak dari praksis atau iman yang dialami dalam sejarah tertentu. Cara demikian berbeda dengan metode berteologi di Barat (Eropa dan Amerika Utara). Metode teologi barat, atau teologi tradisional, atau teologi dominan, bertolak dari teori, dari iman yang diajarkan dan dipikirkan. Oleh karena itu, seringkali kritik atas teologi pembebasan datang dari tradisi teologi barat. Menurut Hans Urs von Balthasar, teologi pembebasan bukan asli berasal dari Amerika Latin, melainkan masih menjadi bagian dari teologi Kerajaan Allah.[1]

Antara teologi barat dan teologi pembebasan terdapat perbedaan-perbedaan mendasar terutama dalam hal metodologi, pelaku kegiatan berteologi, analisis, kemasyarakatannya, dan locus-theologicus-nya. Pelaku teologi pembebasan adalah rakyat yang tertindas sendiri. Para teolog (salah satunya Gutierrez) berperan menyintesiskan kutipan-kutipan yang diedarkan oleh rakyat jelata di banyak umat basis, juga dari kelompok-kelompok studi Kitab Suci dan diskusi-diskusi sosial politik, bahkan dari omongan dan tindakan di perkampungan-perkampungan yang miskin dan kotor. Metodologi teologi pembebasan betolak dari reaksi terhadap sistem masyarakat yang tidak adil. Teologi pembebasan menangani orang yang dianggap bukan orang lagi (non person). Locus theologicus teologi pembebasan adalah orang yang menghayati religiositasnya dalam tantangan konflik kelas di Dunia Ketiga. Dari segi isi dan obyeknya, tidak ada perbedaan dengan teologi Barat. Keduanya berbicara mengenai citra Allah, kedosaan manusia, Kerajaan Allah, kristologi, eklesiologi, eskatologi, dan sebagainya. Perbedaan keduanya terletak dari pendekatan yang dipakai, sebagaimana telah ditulis sebelumnya.

Pendekatan teologi pembebasan yang dipakai tentu merupakan sebuah perubahan yang radikal dalam berteologi. Dalam teologi pembebasan terjadi perubahan yang sangat mendasar mengenai metodologi, yakni berteologi dengan titik pangkal tantangan zaman. Dalam menginterpretasi Injil dan Magisterium, teologi pembebasan dipengaruhi oleh komitmen untuk pembebasan.

 

 

 

  1. B.     Sejarah Munculnya Teologi Pembebasan

Permulaan teologi pembebasan ditetapkan Erique Dussel pada tahun 1564 ketika Bartolome de Las Casas, sebagai cikal bakal teologi pembebasan, mengatakan bahwa dia merasa dipilih Tuhan menjadi pelayan untuk mengangkat martabat orang-orang Indian yang telah dirampas kebebasannya dengan tidak adil. Dussel juga memberi nama “teologi kenabian” pada teologi dari zaman de Las Casas tersebut yang memperjuangkan hak hidup orang Indian.[2] Cikal bakal teologi pembebasan tersebut tenggelam pada masa kolonialisasi (1553-1808). Pada masa ini, “teologi Kerajaan Kristiani” mulai memberi pengaruhnya. Teologi tersebut bercirikan “menutupi dan menyembunyikan praktik ketidakadilan.” Tahap perkembangan selanjutnya adalah “teologi emansipasi politik” (1808-1831) yang timbul sebelum kemerdekaan dan memperjuangkan persamaan dalam politik dan kehidupan kemasyarakatan. Kemudian teologi tersebut digantikan oleh “teologi konservatif” yang mempertahankan neokolonial. “Teologi Kerajaan Kristiani Baru” (1930-1962) muncul kembali dengan memusatkan perhatian pada keprihatinan sosial. Teologi pada masa ini masih menggunakan cara berteologi rasioanilistis spekulatif sebagaimana teologi klasik barat. Munculnya teologi tersebut ditandai dengan timbulnya gerakan sosial Prancis dan Amerika Latin, pusat studi sosial Centro Belarmino di Santiago, terbentuknya Konferensi para Uskup Amerika Latin (CELAM), dan pembaharuan studi Kitab Suci di mana-mana.

Bagi Segundo dan Dussel, tahap perkembangan teologi pembebasan selanjutnya diperkirakan kurang lebih “sebelum gelombang pertama Konsili Vatikan II” (1962). Sedangkan, Vidales mengatakan bahwa pembentukan refleksi teologi pembebasan ditempatkan pada tahun 1965, tahun terbitnya konstitusi pastoral Gaudium et Spes.[3] Pada tahap ini masih dibagi lagi menjadi tiga bagian perkembangan. Pertama, berlangsung dari tahun 1962 sampai konferensi para uskup Amerika Latin di Medellin, tahun 1968. Pada kurung waktu ini teologi pembebasan masih mempunyai ciri tinjauan kemasyarakatan yang dipengaruhi oleh aliran ilmu sosial, “pertumbuhan ekonomi” atau “pembangunan” (development).

Kedua, berlangsung dari tahun 1968 sampai tahun 1972. Pada masa ini refleksi teologi pembebasan mengalami pembakuan. Konferensi dan simposium mengenai teologi pembebasan dalam kurun waktu ini sudah menjadi umum di Amerika Latin. Misalnya, simposium internasional di Bogota, Colombia, tanggal 2 sampai 7 Maret 1970; pertemuan para ahli Kitab Suci yang membahas tema “Eksodus dan Pembebasan” di Buenos Aires, Argentina; dan lain sebagainya. Menjadi semakin tersebar luas dan umum ketika terbit buku A Theology of Liberation dari Gustavo Gutierrez, seorang Pastor Peru, pada tahun 1972. Praksis revolusioner diakui sebagai kerangka, peta kegiatan masyarakat, yang menelurkan tindakan-tindakan refleksi teologi.

Ketiga, pada waktu “penjeblosan ke dalam penjara” dan “pembuangan” oleh rezim militer di kebanyakan negara-negara Amerika Latin. Kemudian, teologi pembebasan menyebar ke Dunia Ketiga lainnya yakni Afrika dan Asia. Hal ini salah satunya disebabkan oleh keadaan keamanan di Amerika Latin yang tidak kondusif. Cara berteologi Dunia Ketiga tersebut memiliki dua ciri pokok:[4]

  1. Menginterpretasi kehendak Tuhan untuk masyarakat Dunia Ketiga secara bermutu, maksudnya dengan menggali akar “ke Dunia Ketiga-an (the Third Worldness)”. Dalam berteologi orang harus membuat analisis sosio-ekonomi, politik, dan budaya Dunia Ketiga.
  2. Berteologi di Dunia Ketiga menuntut prasyarat yang berupa komitmen dan keterlibatan pelaku teologi dalam perjuangan dan hidup rakyat bagian Dunia Ketiga tersebut.
  1. Teologi pembebasan Gutierrez dapat dikatakan bukan hanya bersifat orthodoxy (memantapkan ajaran) dan bukan pula hanya orthopraxis (menuntut dijalankan dalam tindakan mendunia dan menuju Allah), tetapi bersifat heteropraxis yakni orthodoxy sejauh bersumber pada orthopraxis (rumusan ajaran sejauh berpangkal dari pengalaman konkret dan kembali secara baru kepada tindakan yang dituntut oleh rumusan ajaran tersebut).
  2. Gutierrez melihat bahwa orang Kristen yang ikut melibatkan diri dalam usaha pembebasan telah yakin, meski secara samar-samar dan intuitif, keterlibatannya merupakan tuntutan iman. Itu berarti bahwa refleksi teologi atas praksis pembebasan diharapkan memperjelas hubungan antara iman dan praksis pembebasan. Refleksi teologi diharapkan menjawab soal hubungan antara iman dan eksistensi manusia, soal-soal sosial, aksi politik atau hubungan antara Kerajaan Allah dan bangunan dunia. Ringkasnya, bagaimana hubungan antara iman dan penciptaan manusia baru yang merupakan tujuan perjuangan pembebasan. Memahami kembali iman berarti mengajak orang untuk kembali memahami misi Gereja di dunia ini. Maka, dua pertanyaan fundamental yang diajukan Gutierrez adalah Apa arti perjuangan pembebasan bagi iman Kristen? Apa misi Gereja dalam rangka perjuangan pembebasan?

 

  1. C.    Teologi Pembebasan Gutierrez

[5]Gustavo Gutierrez Merino Lahir pada tanggal 8 Juni 1928 di Monserat, sebuah kawasan miskin di Lima, Ibu kota Peru. Ia berasal dari keluarga sederhana yang berdarah Mestizo, keturunan campuran Hispanic (Spanyol) dan Indian. Gutierrez adalah satu-satunya anak laki-laki dari tiga bersaudara. Meskipun ada kesulitan-kesulitan ekonomi, ia tidak mengalami kekurangan cinta dari keluarganya.

Ketika berada di bangku sekolah menengah, Gutierrez diserang penyakit Osteomiletis. Penyakit ini menyebabkan kepincangan permanen pada kakinya. Penyakit ini pulalah yang menuntun dia memilih jurusan farmasi pada Universitas San Marcos, Lima. Tetapi, kemudian ia memutuskan untuk masuk seminari dan belajar filsafat-teologi di Seminari Santiago de Chile.

Pada tahun 1951-1955, ia melakukan tugas belajar pada Universitas Katolik Louvain, Belgia. Ia memperoleh gelar master dalam bidang filsafat dan psikologi dengan tesis Konflik Psikis dalam Freud. Di Louvain, ia bersahabat baik dngan Francois Houtart, yang kelak menjadi teolog sosial garda depan Gereja Katolik. Ia juga bersahabat baik dengan Camilo Torres, yang kelak menjadi Pastor gerilyawan di Amerika Latin. Pada tahun 1955-1959, ia melanjutkan kuliah teologi di Universitas Katolik Lyon, Prancis, dan memperoleh master Teologi dengan tesis Kebebasan Religius. Di Lyon, ia diperkenalkan dengan “la nouvelle theologie”, yakni upaya beberapa pemikir Katolik Prancis menghubungkan secara nyata iman dengan masalah-masalah abad ke-20, di antaranya Henri de Lubac, Jean Daniellou, Yves Congar. Mereka adalah teolog-teolog barat yang cukup berpengaruh dalam pemikiran Gutierrez selain Karl Rahner dan G. von Rad.

Gutierrez sempat belajar teologi di Universitas Katolik Gregoriana, Roma pada tahun 1959-1960. Di Roma pula, ia ditahbiskan imam pada tanggal 6 Januari 1959. Setelah itu pada tahun 1960, ia kembali ke Amerika Latin dan mengajar di Universitas Katolik Lima, Peru. Namun, tugas utama yang dilakukan Gutierrez adalah menjadi pastor yang hidup dan berkarya di antara kaum miskin di Rimac, Lima. Di sini, ia memperoleh landasan dan arah baru dalam pemikiran teologinya.

Dalam keterlibatannya di tengah-tengah kaum miskin, Gutierrez merasakan bahwa perjalanan studi di Eropa selama ini tidak memberikan dasar kokoh baginya untuk memahami dan menghayati situasi Amerika Latin. Ia menemukan ketidakcocokkan antara teologi Barat yang dipelajari dengan kenyataan konkret yang ada. Karena itu, ia mulai mempelajari dengan serius sejarah bangsanya sendiri. Ia membaca lagi Injil dan Teologi dalam konteks Amerika Latin, yakni situasi kaum miskin dan tertindas.

Gustavo Gutierrez terkenal sebagai teolog pembebasan. Pengalaman tinggal bersama orang-orang kecil yang tertindas mendorongnya untuk melakukan kontekstualisasi dalam berteologi. Menurut Gutierrez pendekatan teologi Barat yang dia pelajari tidak dapat diaplikasikan dalam situasi masyarakat di Amerika Latin. Menurut dia, butuh pendekatan khas untuk berteologi dalam situasi yang sangat memprihatinkan di Amerika Latin waktu itu. Namun, teologi pembebasan tidak selalu mendapat dukungan dari pihak Gereja sendiri. Di Amerika Latin sempat terjadi perpecahan antara kelompok yang menyatakan bahwa “Gereja harus netral terhadap pilihan politik” dengan para teolog pembebasan. Perlawanan yang muncul terhadap teologi pembebasan tidak lain menunjukkan betapa Gereja waktu itu berada dalam ketakutan terhadap suatu kekuatan politik yang menindas. Pendapat Gutierrez benar bahwa Gereja dari dulu sampai sekarang banyak berhubungan dan bersahabat dengan mereka yang mengendalikan ekonomi dan politik. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Gereja berada di pihak golongan penindas. Memang, sekarang kondisinya sudah agak berubah, yakni ketika muncul kelompok pembaharuan dalam Gereja, khususnya para penegak teologi pembebasan. Lantas, bagaimana metode teologi pembebasan yang dianggap sebagai sebuah pendekatan baru dalam berteologi?

Hal ini memperkenalkan ia dengan pemikir-pemikir besar Amerika Latin. Salah satu tokoh yang berpengaruh besar terhadap Gutierrez adalah Bartolome de Las Casas (1474-1566). Las Casas adalah imam Dominikan yang menjadi pembela orang-orang Indian Amerika terhadap penjajahan Spanyol. Gutierrez melihat kesamaan besar antar apa yang ditemukan oleh de Las Casas pada abad ke-16 dan kenyataan  Amerika Latin pada abad ke-20 ini: kenyataan orang-orang mati sebelum waktunya (people died before their time). Penjajahan Spanyol mengakibatkan begitu banyak orang Indian mati secara prematur dan tidak adil. Karena itu, evangelisasi gereja di Amerika Latin menurut de Las Casas bukan terutama menginisasi orang kafir masuk ke dalam kebudayaan Kristiani Barat, tetapi melakukan advokasi terhadap kaum miskin yang tertindas

Selain de Las Casas, pemikir Amerika Latin yang memberikan banyak inspirasi kepada Gutierrez adalah Jose Carlos Mariategui (1895-1930). Ia adalah seorang pemikir marxis dari peru. Menurut Michael Candelaria, Mariategui memberikan tiga sumbangan penting bagi pemikiran Gutierrez. Tokoh lainnya adalah Jose Maria Arguedas (1911-1969). Ia adalah seorang antropolog, penyair dan Novelis. Arguedas sungguh menyadari situasi konflik sosial di Peru antara golongan kaya dan golongan miskin. Hal ini yang mempertalikan mereka secara pribadi, yakni dalam keprihatinan dasar yang sama untuk memahami dan bersuara bagi kaum miskin

Pada tahun 1971, Gutierrez menerbitkan karya monumentalnya A Theology of Liberation (terjemahan dalam bahasa Inggris tahun 1973). Sebuah buku yang menguraikan secara sistematis dan komprehensif refleksi teologis Gutierrez dalam konfrontasi dengan dunia kaum miskin di Amerika Latin yang ia hidupi selama ini. Dalam tahun-tahun berikutnya terbit beberapa buku lainnya dari Gutierrez yang bertolak dari keprihatinan dasar yang sama, yaitu bagaimana menyuarakan jeritan kaum miskin Amerika Latin dalam bahasa Teologis.

Bagi Gutierrez ada tiga cara berteologi. Pertama, teologi sebagai sumber hidup rohani. Kedua, teologi sebagai pengetahuan rasional. Ketiga, teologi sebagai refleksi kritis dalam terang Sabda Allah atas praksis hidup orang Kristen. Gutierrez menekankan fungsi yang ketiga, meskipun fungsi ini tidak dapat dipisahkan dari kedua fungsi lainnya. Maka, teologi pembebasan Gutierrez adalah refleksi kritis dalam terang Sabda Allah atas praktis hidup orang Kristen, yang ikut melibatkan diri dalam usaha pembebasan.  Motivasi dasarnya adalah keyakinan bahwa masyarakat yang tidak adil sama sekali tidak sesuai dengan tuntutan injil. Mereka merasa tidak pantas disebut orang Kristen jika tidak ikut berjuang melakukan pembebasan, meskipun kesadaran ini masih dalam taraf intuisi serta meraba-raba. Tugas teologi adalah menunjukkan dengan jelas hubungan antara iman dan perjuangan pembebasan. Namun, bukan berarti bahwa refleksi teologi dimaksudkan sebagai iustifikasi praksis yang sudah ada. Sebaliknya, refleksi teologi, menurut Gutierrez, harus menunjukkan nilai positif dan nilai negatif yang ada dalam praksis pembebasan. Bahkan, dari refleksi teologi diharapkan ada koreksi-koreksi atas kesalahan-kesalahan yang mungkin ada, misalnya ada aspek hidup Kristen yang dilupakan karena orang terlalu tergesa-gesa mengambil tindakan politik. Inilah yang dimaksud dengan teologi sebagai refleksi kritis.[6]

  1. D.    Teologi Pembebasan dan Gereja Indonesia

Apakah kesan kita terhadap Amerika Latin? Penuh dengan pertumpahan darah. Di negara dengan mayoritas penduduk Katolik, terjadi peristiwa-peristiwa yang mengerikan. Kekerasan dan ketidakadilan terjadi di berbagai tempat di negara yang memiliki norma cinta kasih. Banyak peristiwa berdarah yang tidak akan saya sebut di sini yang terjadi di Amerika Latin. Pembantaian menimpa banyak pastor, suster, dan masyarakat sipil yang dianggap sebagai musuh kepentingan kapitalis Amerika Serikat dan birokrat-militer beserta tuan tanah setempat.

Praksis mereka adalah praksis untuk pembebasan manusia. Bukan saja pembebasan dari kendala sosial, ekonomi, dan politik di dunia, melainkan pembebasan yang utuh dan menyeluruh sebagaimana manusia dicintai Tuhan Allah untuk berpartisipasi dalam citra-Nya. Bagi Gutierrez, “pembebasa” bukan saja sebuah proses, melainkan juga sebuah kerangka berbagai tataran arti yang saling bertautan:

  1. Pembebasan ekonomi, sosial, dan politik
  2. Pembebasan manusiawi, yang menciptakan manusia baru dalam masyarakat solidaritas yang baru
  3. Pembebasan dari dosa dan masuk dalam persekutuan dengan Tuhan Allah dan semua manusia

Dari refleksi kritis Gutierrez, jelas bahwa yang diperjuangkan oleh para teolog pembebasan Amerika Latin bukan saja kepentingan dunia semata, melainkan pembebasan dalam arti sebagai peziarahan seluruh manusia dalam segala keutuhan dan kedalaman hidupnya serta sekaligus pembebasan dalam arti penyelamatan manusia dari dosa.

Penggunaan kekerasan subversif, bergabung dengan kelompok gerilya, memanggul senjata simbol kekerasan, terpaksa dipakai karena tidak tersedia alternatif lain lagi. Pemerintah dan aparat militer tidak dapat diajak berbicara lagi. Para aktivis dan gerilyawan tidak ada pilihan lagi selain mempertahankan hidup.

Memang pada akhirnya, praksis pembebasan manusia tidak otomatis menjadi keprihatinan di seluruh warga Gereja Katolik, termasuk di Indonesia. Tentu dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini, teologi pembebasan dapat diterapkan untuk Indonesia. Bahkan radikalitas dalam arti melakukan tindakan subversif dengan mengangkat senjata atau dengan kekerasan bisa dipakai untuk melawan pemangku jabatan yang bebal. Kondisi masyarakat Indonesia butuh pembebasan dari segala kesulitan ekonomi, masalah sosial, dan politik. Jerat kapitalisme, kemiskinan, dan ketidakadilan yang ditandai dengan pejabat yang korup, dan kurangnya tanggung jawab terhadap lingkungan dari para kapitalis yang menyengsarakan rakyat kecil, menandai bahwa bangsa Indonesia sekarang menuntut adanya revolusi sosial segera. Usaha pembebasan itu menurut Gutierrez harus dilakukan oleh rakyat yang tertindas sendiri agar usaha pembebasan itu otentik dan konkret.[7]

 

 

 

BAB III

Kesimpulan

Teologi Pembebasan merupakan sebuah paham tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial. Dengan kata lain Teologi Pembebasan adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya dan Teologi Pembebasan merupakan upaya berteologi secara kontekstual. Teologi Pembebasan yang diterjemahkan dari Bahasa Inggris Liberation Theology menjadi keharusan bagi kegiatan gereja-gereja dalam komitmen kristianinya pada kehidupan sosial. Teologi pembebasan lahir sebagai respons terhadap situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat. Masalah-masalah itu dijabarkan dalam penindasan, rasisme, kemiskinan, penjajahan, bias ideologi dsb. Pada kalangan Jesuit, baik di Asia termasuk Indonesia, Brazil , Amerika Latin, dan Afrika Selatan Teologi ini berkembang pesat sebagai dampak dari hermeneutika Alkitab secara kontekstual untuk menjawab persoalan yang dihadapi umat manusia. Teologi Pembebasan merupakan refleksi bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial. Karena itu masyarakat terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan.Mereka mempertanyakan seperti apa tanggung jawab agama dan apa yang harus dilakukan agama dalam konteks pemiskinan struktural.pada intinya teologi pembesan ingin menjadikan atau membebaskan masyarakat dari keterbelakangan menuju masyarakat yang beradab dengan cara menjadikan semanngat atauh agama dijadikan ruh untuk melawan pemerintah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Suryawasita, A, Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez, Yoyakarta: Jendela, 2001.

Nitiprawiro, Wahono, Teologi Pembebasan: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya, Yogyakarta: LKIS, 2000.

 


[1] Wahono, Teologi Pembebasan, hlm. 12

[2]       Francis Wahono, Teologi Pembebasa: Sejarah, Metode, Praksis, dan Isinya (Yogyakarta: LKIS,  2000), hlm. 18.

[3]       Wahono, Teologi Pembebasan, hlm. 20.

[4] Wahono, Teologi Pembebasan, hlm. 23

[5] Lih. http://diaryabdis.wordpress.com/2008/09/26/gustavo-gutierrez/, diakses pada 26 Maret 2009, Pkl. 10.57 WIB.

 

[6] Suryawasita, Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez, (Yogyakarta: Jendela, 2001), hlm. 19.

[7] Suryawasita, Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez, hlm. 23.

8 Manfaat Teknologi untuk Percintaan

 

Manfaat Teknologi untuk Percintaan

Teknologi memang diciptakan untuk membuat kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Tentunya, termasuk untuk kepentingan percintaan. Kini bahkan hubungan manusia, cinta, dan teknologi secara sekaligus semakin akrab di telinga. Tak ada salahnya mengambil keuntungan dari kemajuan teknologi untuk memperlancar urusan percintaan.

Saling berhubungan
Untuk yang sudah berpasangan, teknologi sangat membantu dalam saling berhubungan sehari-hari. Menanyakan kabar dan memastikan janji, mudah dilakukan hanya dalam genggaman. Pesan singkat atau jejaring sosial merupakan media yang sering digunakan untuk saling berkirim pesan. Komunikasi pun semakin lancar.

Riset kecil
Hampir semua orang yang akrab dengan teknologi kini akan mengetik nama calon kekasihnya pada mesin pencari di Internet. Saat baru dikenalkan, saat akan kencan pertama atau setelah pertemuan perdana, tak sedikit yang tergelitik untuk melakukan riset lebih jauh tentang siapa dia. Akun jejaring sosial merupakan salah satu media yang umum digunakan untuk mempelajari lebih jauh siapa yang Anda hadapi.

Hasil ini sedikit banyak mempengaruhi penilaian seseorang dan prospek lanjut atau tidaknya hubungan tersebut. Selain tempat mencari tahu, Internet juga sering menjadi tempat bertanya. Tak sedikit orang yang mencari referensi tentang hubungan atau kencan yang baik lewat artikel-artikel di berbagai media online. Riset-riset kecil ini bisa sedikit demi sedikit membantu memperlancar hubungan cinta yang baru atau menjaga cinta yang lama.

Jarak jauh
Untuk yang memiliki hubungan jarak jauh, teknologi merupakan teman setia yang tak bisa dilepaskan. Tak sekadar bertukar pesan singkat, kini pasangan yang berjauhan juga bisa saling mengobrol lewat Facetime, Skype, atau layanan chat video lainnya. Walau saling berjauhan, komunikasi bisa berlangsung seakan seperti tatap muka dalam jarak dekat. Kemajuan teknologi seperti ini cukup efektif dalam membantu pasangan yang terpisah jarak cukup jauh untuk menjaga hubungannya.

Mencari pasangan
Tak sedikit pula pasangan yang memulai kisah cinta mereka lewat perkenalan di jejaring sosial atau situs kencan. Teman yang lama tak bertemu, teman dari teman, atau orang yang tak dikenal sama sekali ternyata bisa berakhir menjadi kekasih setelah berhubungan lewat jejaring sosial atau kemajuan teknologi lainnya. Tentunya seseorang juga jangan melupakan etika umum dan berhati-hati jika memulai hubungan dengan orang yang tidak dikenal lewat Internet. Luangkan waktu lebih banyak untuk mengenal dan mempelajari orang tersebut sebelum memutuskan bertemu fisik.

Menambah kemesraan
Mengirim bunga, cokelat, atau mengirimkan pesan cinta kini bisa dilakukan di facebook atau pesan singkat bergambar. Saat jatuh cinta atau dimabuk asmara tak sedikit orang yang ingin ‘seluruh dunia’ tahu perasaannya. Mengirim bunga ke rumah kekasih, yang tahu hanya si dia, mengirim bunga di facebook , bisa ratusan bahkan ribuan orang yang tahu. Kegiatan-kegiatan yang dulu hanya bisa dilakukan di dunia nyata kini bisa dilakukan lewat jejaring sosial atau pesan singkat.

Jika perlu mengirim bunga atau coklat yang sesungguhnya pun kini sudah dimudahkan oleh kemajuan teknologi. Banyak situs yang menawarkan pemesanan secara online dan langsung dikirim ke alamat sang kekasih. Pembayaran pun bisa dilakukan lewat e-banking. Memanjakan kekasih atau calon kekasih pun menjadi lebih mudah.

Berbagi dan menyimpan
Lupakan album foto yang bisa rusak dimakan rayap. Kini ada banyak situs yang menawarkan penyimpanan foto digital secara gratis. Menyimpan foto di Facebook, Flickr, Google+, atau situs-situs lainnya bisa menjadi pilihan yang baik. Puluhan tahun lagi, foto-foto tersebut masih bisa dilihat dan tersimpan rapi.

Begitu juga ketika Anda perlu mengumumkan pernikahan, pertunangan, atau bahkan jadian. Saat ini bukan hal yang aneh lagi membaca hal tersebut di jejaring sosial teman Anda. Berbagi dan menyimpan kenangan cinta Anda bisa menjadi semakin mudah.

Irit
Yang terakhir ini merupakan favorit hampir semua orang. Dengan kemajuan teknologi, biaya bisa semakin dihemat. Tak perlu SMS, cukup kirim pesan singkat lewat BlackBerry Messengger atau lewat pesan pribadi di email, Twitter, atau Facebook. Tak sedikit juga operator yang menyediakan penawaran gratis bertelepon sesama operator tersebut. Terutama untuk pasangan yang terpisah jarak jauh.

Nah, teknologi memang bisa membantu membuat kehidupan cinta Anda lebih menyenangkan. Tapi hati-hati, jangan sampai kemajuan teknologi justru bisa berbalik arah dan merusak percintaan manis Anda.

dalam diri manu…

dalam diri manusia terdapat sebuah elemen yang tak akan mampu di ketahui oleh setiap insan, tuhan menciptakan itu agar manusia sadar dan menyadari bahwa dari hal yang terkecil itu sudah membuktikan bahwa tuhan itu ada, sadar atau tidak tuhan telah memberikan yang terbaik untuk setiap umat nya, karna yuhan tak pernah memberikan hal kejelekan kepada manusia tanpa seijin manusia itu sendiri,,,,,,,,,,,,,,

vespa bikin semua orang panatik

Wow Wow wowwww lagi lagi vespa ngexisssssss ahaiiiii ahaiiiiiiiiiiiiiii

TENG TERENGTENG TENG TENG TENG TENG……………………………… SUARA VESPA YANG SANGAT MENGGODA JIWA DAN RAGA…………..UNTUK MENGENDARAI DAN BERDENDANG RIA…… DI ATAS PUNDAK NYA………..

UYEEEEEEEEEEEEEE

Suatu kekecewaan besar bagi saya sang pecinta speda motor gendut si bahenolll,,,terhadap pemilik motor sekaligus pencetus selogan dari Yama@@,,, yang mengatakan ,,,,,,,, metic MOTOR M@@ adalah yang paling pertama ada di Indonesia,,,,,,,, huhhhhhhhhh kekeliruuuuaaaaaaan yang sangat menjengkelkannn………

Ya sudah saya akan uraikan di bawah tentang spedamotor metic yang pertama ada di Indonesia………

Hem hemm….. Bagi banyak orang, sekarang ini yang bisa disebut pelopor motor matik adalah Yama@@M yang pertama kali dirilis pada tahun 2004 silam. Tapi anggapan itu sebenarnya salah sama sekali, karena pada tahun 1991 setahun sebelum saya lahir kebumi dan selama M@@ masih menjadi angan-angan oleh insinyur-insinyur Yama@@, Vespa sudah duluan melenggang dengan produk matik pertamanya di Indonesia dengan nama Corsa 125, atau didunia lebih dikenal dengan nama Vespa PK 125 yang telah lahir pada tahun 1984 dinegera Italia sana.

huuuuuuuuuuhhhhh ngaku2 aja tu Yama@@…… vis ahhhhhhh…………

Corsa Diproduksi oleh PT. Dan Motor Vespa Indonesia (PT.DMVI) sebagai salah satu ATPM lokal produk Piagio waktu itu, pada kisaran tahun 1991 sampai dengan 2006, yang telah mendapat apresiasi cukup lumayan bagi para penggemar produk Vespa. Dan sampai sekarangpun keberadaan motor ini masih menjadi incaran bagi para penghobi, kolektor ataupun pecinta produk-produk keluaran dari Piaggio.

Dengan manyandang mesin 2 langkah berpendingin udara berkapasitas 121.2cc, silinder bore 55mm, piston stroke 51mm, berhorse power 6.87 pada 5.600rpm, karburator Dell Orto 19E, bertrasmisi otomatis, double stater, otomatis mixer oli samping, berpenghenti laju tipe drum depan belakang, menggunakan ban berdiameter 10″-300 depan belakang juga…membuat skuter ini mampu digeber pada kecepatan maksimum 90kph…lumayankan untuk berkomuter ditengah kemacetan kota besar. Heheheheeeeee

Ada satu hal lagi niiiiiiiiii……….. kelebihan motor matik ini dibandingkan dengan matik keluaran sekarang adalah adanya gear posisi netral, gear ini berfungsi mencegah resiko pengendara terpental ketika motor distater dengan menarik throtle gas terlalu kedalam. Jadi jika ingin menjalankan motor ini, setelah distater dan mesin dalam kondisi menyala langsam, tidak serta merta bisa langsung digeber seperti halnya matik-matik jaman sekarang. Untuk menjalankannya ubah terlebih dulu posisi perseneling pada handle setang sebelah kiri kemode jalan dengan cara menggeser tuas handgripnya. Baru setelah itu gas ditarik secara perlahan hingga motor bisa berjalan stabil……….. haaaahhhhh ribeeeeeettttttttt….. hehehehehe

Hummmmmmmmmmmmmhhhhhhhhhhhh

Tapi sayang seribu sayang yahhhhh

Andai sajaaaaaaaaa pihak ATPM (PT Dan Motor-red) pada waktu itu gencar melakukan berbagai kegiatan promo dan edukasi kepada banyak konsumen akan produk matik pertamanya tersebut, layaknya ATPM-ATPM jepang sekarang. Tidak menutup kemungkinan varian Vespa yang berjenis Small Frame ini bisa sukses melenggang sampai sekarang ini.

Yaaaaaaaaaa

Tapi apa boleh buuuatttttt

Soooooobbb

beuuuuuuuhhhhhhhhhhhh

pembahasan ahlulbait

Dalil kewajiban mencintai, memuliakan ahlul-bait/keturunan Rasulallah saw

Ayat Asy-Syura:23 diatas ini lazim dikenal dengan nama ayat mawaddah, memberi peringatan kepada kaum muslimin, bahwa cinta kasih kepada ahlu-bait Rasulallah saw. adalah diminta oleh beliau saw. Sesuatu yang diminta oleh beliau saw, hukumnya wajib, sebab permintaan dalam hal seperti itu sama artinya dengan perintah yang diajukan dengan rendah hati, kata-kata sopan dan halus. Selain itu berarti pula, permintaan beliau mengenai itu mempunyai kedudukan hukum kuat, karena telah menjadi ketetapan yang di firmankan Allah swt.

Para imam ahli tafsir banyak membicarakan ayat tersebut, terutama mengenai kata al-qurba (orang-orang terdekat), yakni keluarga, ahlul-bait, aal dan kerabat. Sebagaimana telah kita ketahui makna umum dari kata tersebut adalah para isteri Rasulallah saw., anak cucu beliau saw. dan kerabat beliau (orang-orang Bani Hasyim) yakni mereka yang diharamkan menerima shodaqah. Sedangkan makna khususnya dalam hal itu ialah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As-Suyuthi dan lain-lain diantaranya para imam yang kami cantumkan diatas ialah Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra, Siti Fathimah Az-Zahra ra. dan dua orang puteranya, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma.

Atas pertanyaan Thawus, Ibnu ‘Abbas ra, menjawab bahwa yang dimaksud Al-qurba dalam ayat tersebut ialah ahlul-bait Muhammad saw.

Al-Muqrizy menafsirkan ayat al-mawaddah itu sebagai berikut: “Aku tidak minta imbalan apa pun kepada kalian atas agama yang kubawakan kepada kalian itu, kecuali agar kalian berkasih-sayang kepada keluargaku (keluarga Rasulallah saw.)”.

Abul-‘Aliyah mengatakan bahwa Sa’id bin Jubair ra. menafsirkan kata al-qurba dalam ayat tersebut ialah Kerabat Rasulallah saw..

Abu Ishaq mengatakan, ketika ia menanyakan makna al-qurba dalam ayat itu kepada ‘Amr bin Syu’aib ia beroleh jawaban, bahwa yang dimaksud ialah kerabat Rasulallah saw.

Imam Zamakhsyari didalam Al-Kasy-syaf sekaitan dengan penafsirannya mengenai ayat al-mawaddah itu, ia mengetengahkan sebuah hadits panjang, yang kemudian dikutip oleh Imam Al-Fakhrur-Razi didalam Al-Kabir. Hadits itu menuturkan bahwasanya Rasulallah saw. mengingatkan ummatnya agar mencintai keluaga (aal) Muhammad saw.: “Barangsiapa wafat dalam keadaan mencintai keluarga (aal) Muhammad ia mati syahid. Sungguhlah, siapa yang wafat dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, orang itu beroleh ampunan atas dosa-dosanya.. …dan seterusnya” .

Minta imbalan atas da’wah Risalah memang suatu hal yang tidak pada tempatnya, karena itu Allah swt. menegaskan lagi dalam firman-Nya yang lain: “Katakanlah hai Muhammad Aku tidak minta imbalan apa pun atas hal itu dakwah Risalah dan aku bukan orang mengada-ada” (As-Shad:86)

Menurut penafsiran Al-Khatib dan Al-Khazin makna kata minta dalam ayat Asy-Syura:23 tersebut harus ditafsirkan seruan, yakni seruan Rasulallah saw. kepada ummatnya agar menjunjung tinggi dan melaksanakan prinsip kekeluargaan dan kasih sayang diantara sesama kaum muslimin, khususnya kasih sayang terhadap ahlu-bait beliau saw.. Ath-Thabrani dan lain-lain juga mengetengahkan beberapa hadits Nabi saw. mengenai kecintaan kepada ahlu-bait Rasulallah saw. antara lain:

 “Seorang hamba Allah belum sempurna keimanannya sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada diri sendiri, sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri, sebelum kecintaannya kepada ahlu-baitku (keluargaku) melebihi kecintaan kepada keluarganya sendiri dan sebelum kecintaannya kepada dzat-ku melebihi kecintaan kepada dzat-nya sendiri”.

 “Ahlu-baitku dan para pencintanya dikalangan ummatku akan bersama-sama masuk surga seperti dua jari telunjuk ini”.

  “Hendaklah kalian tetap memelihara kasih-sayang dengan kami ahlu-bait sebab (pada hari kiamat kelak) orang yang bertemu dengan Allah dalam keadaan mencintai kami akan masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang nyawaku berada ditangan-Nya, amal seorang hamba Allah tidak bermanfaat baginya tanpa mengenal hak-hak kami”.

Ath-Tabrani dalam Al-Ausath mengetengahkan hadits dari Ibnu ‘Umar ra. mengatakan: “Perkataan terakhir yang diucapkan Rasulallah saw. adalah; ’Teruskanlah perlakuan yang telah kuberikan kepada ahlu-baitku’ ”.

Dari sumber yang sama,  Ath-Thabrani mengetengahkan hadits berikut:

“Allah swt.menetapkan tiga hurumat (hal-hal yang wajib dihormati dan tidak boleh dilanggar). Barangsiapa menjaga baik-baik tiga hurumat itu, Allah akan menjaga urusan agamanya dan keduniannya. Dan barang siapa tidak mengindahkannya, Allah tidak akan mengindahkan sesuatu baginya. Para sahabat bertanya: ‘Apa tiga hurumat itu, ya Rasulallah’?. Beliau saw. menjawab: ‘Hurumatul -Islam, hurumatku dan hurumat kerabatku’ ”.

Ath-Thabrani dalam Al-Ausath juga meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Jabir bin Abdullah yang mengatakan, ia mendengar sendiri dari Rasulallah saw. dalam suatu khutbah bersabda: “Hai manusia, barangsiapa membenci kami, ahlu-bait, pada hari kiamat Allah akan menggiringnya sebagai orang Yahudi”.

Abu Sa’id Al-Khudri ra meriwayatkan bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. tegas berkata: “Orang yang membenci kami ahlul-bait pasti akan di masukkan Allah kedalam neraka”.

Ad-Dailami mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. memberitahu ummatnya: “Barangsiapa yang hendak bertawassul (berwasilah) dan ingin mendapat syafa’atku pada hari kiamat kelak, hendaklah ia menjaga hubungan silatur-rahmi dengan ahlu-baitku dan berbuat menggembirakan mereka”.

Dalam hadits lainnya Ad-Dailami mengetengahkan berasal dari Imam ‘Ali kw. yang menuturkan: “Diantara kalian yang paling mantap berjalan diatas sirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlu-baitku dan para sahabatku ”.

Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan sebuah hadits bahwa Rasulallah saw. menuturkan: “Empat golongan yang akan memperoleh syafa’atku pada hari kiamat:  Orang yang menghormati keturunanku, orang yang memenuhi kebutuhan mereka, orang yang berusaha membantu urusan mereka pada saat diperlukan dan orang yang mencintai mereka dengan hati dan lidahnya”. Dua buah hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yaitu:

“Barangsiapa mencintaiku dan mencintai keduanya itu  yakni Al-Hasan dan Al-Husain serta mencintai ibu dan bapak mereka yakni Siti Fathimah Az-Zahra dan Imam ‘Ali bin Abi Thalib [ra] kemudian ia meninggal dunia sebagai pengikut sunnahku, ia bersamaku didalam surga yang sederajat”.

 “Pada hari kiamat aku akan menjadi syafi’ (penolong) bagi empat golongan  Yang menghormati keturunanku; yang memenuhi kebutuhan mereka; yang berupaya membantu urusan mereka pada waktu diperlukan dan yang mencintai mereka sepenuh hati”.

Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan lagi hadits marfu’, bahwasanya Rasulallah saw. telah menegaskan: “Siapa yang membenci ahlul-bait ia adalah orang munafik”. Sekaitan dengan hadits ini Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. telah menyatakan juga: “Surga diharamkan bagi orang yang berlaku dzalim terhadap ahlu-baitku dan menggangguku melalui keturunanku”.

Sebuah hadits yang diketengahkan oleh Al-Hakim dari Zaid bin Arqam ra. Rasulallah saw. menegaskan antara lain:

“…Mereka (Ahlu-Bait beliau) adalah keturunanku, diciptakan dari darah-dagingku dan dikarunia pengertian serta pengetahuanku. Celakalah orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Kepada orang-orang seperti itu Allah tidak akan menurunkan syafa’atku (pertolonganku)”.

Abu Sa’id didalam kitab Syarafuddin Nubuwwah mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. berkata kepada Siti Fathimah ra: “Hai Fathimah, engkau marah Allah marah, dan engkau ridho (puas)  Allah ridho”.

Al-‘allamah Ibnu Hajar dalam kitabnya Ash-Shawaiqul-Muhriqah menerangkan sebagai berikut: “Barangsiapa mengganggu salah seorang putera (Siti) Fathimah, ia akan menghadapi bahaya karena perbuatannya itu membuat marah (Siti) Fathimah ra. Sebaliknya, barang siapa mencintai putera-putera (termasuk keturunannya), ia akan memperoleh keridhoannya. Para ulama Khawash (para ulama yang mempunyai keistemewaan khusus) merasa didalam hatinya terdapat keistemewaan yang sempurna karena kecintaan mereka kepada Rasulallah saw., dan ahlul-bait serta keturunannya atas dasar pengertian, bahwa ahlul-bait dan keturunan beliau saw. adalah orang-orang suci (dimuliakan oleh Allah swt.). Selain itu mereka (para ulama khawash) juga mencintai anak-anak (keturunan) sepuluh orang (sahabat Nabi saw.) yang telah dijanjikan masuk surga, disamping itu mereka (para ulama khawash) juga mencintai anak-anak keturunan para sahabat Nabi yang lain. Mereka memandang semua keturunan sahabat Nabi sebagaimana mereka memandang para orang tua mereka.

Selanjutnya Ibnu Hajar mengatakan: “Orang harus menahan diri jangan sampai mengecam mereka (ahlul-bait dan keturunan Rasulallah saw.). Jika ada seorang diantara mereka yang berbuat fasik berupa bid’ah (baca keterangan apa yang dimaksud Bid’ah dibuku ini) atau lainnya, yang harus di kecam hanyalah perbuatannya, bukan dzatnya, karena dzatnya itu merupakan bagian dari Rasulallah saw., sekali pun antara dzat beliau dan dzat orang itu terdapat perantara (wasa’ith)”.

Semua pemimpin dan para ulama kaum Salaf (generasi terdahulu) dan Khalaf (generasi belakangan/berikutnya) memupuk kecintaan masing-masing kepada ahlu-bait Rasulallah saw.. Imam Bukhori didalam Shohihnya mengetengahkan ucapan khalifah Abubakar ra.: “Jagalah baik-baik wasiat Muhammad saw. mengenai ahlu-bait beliau”.

Khalifah Abubakar sendiri dengan tegas pernah berkata: “Kerabat Rasulallah saw. lebih kucintai daripada kerabatku sendiri”.

Al-Mala dalam kitab Sirah-nya mengetengahkan sebuah hadits bahwasanya Rasulallah saw mewanti-wanti: “Wasiatkanlah kebajikan bagi ahlu-baitku. Pada hari kiamat besok kalian akan kugugat mengenai ahlu-baitku. Orang yang kelak menjadi lawanku ia menjadi lawan Allah dan siapa yang menjadi lawan Allah ia akan dimasukkan kedalam neraka”.

Ibnu Taimiyyah seorang ulama yang diandalkan juga oleh golongan peng- ingkar didalam kitabnya Risholatul-Furqan halaman 163 mengetengahkan pembahasan mengenai aal (ahlul-bait) Muhammad Rasulallah saw. Banyak hadits shohih yang dikemukakan sebagai dasar dan sekaligus juga sebagai dalil. Salah satu diantaranya ialah Hadits Tsaqalain (baca hadits Tsaqalain—pada halaman lain—pen) yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam ra. Hadits ini oleh Ibnu Taimiyyah disebut dalam pembahasannya mengenai ta’rif (definisi) aal Muhammad saw. Hadits tersebut ialah:

“..Dan kutinggalkan kepada kalian dua bekal (berat). Yang pertama adalah Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Ambillah (terimalah) Kitabullah itu dan berpeganglah teguh padanya… dan (yang kedua) ahlu-baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku…kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku ! Kalian ku ingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku”.

Dalam pembicaraannya mengenai hak-hak ahlu-bait Rasulallah saw. dalam kitabnya yang berjudul Al-Washiyyatul-Kubra halaman 297, Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Demikianlah, para anggota keluarga (ahlu-bait) Rasulallah saw. mempunyai beberapa hak yang harus dipelihara dengan baik oleh umat  Muhammad. Kepada mereka Allah swt. telah memberi hak menerima bagian dari seperlima ghanimah (harta rampasan perang), yang ketentuannya telah ditetapkan Allah swt. dalam Al-Qur’anul Karim (S.Al-Anfal:41). Selain hak tersebut mereka juga mempunyai hak lain lagi, yaitu hak beroleh ucapan shalawat dari ummat Muhammad saw., sebagaimana yang telah diajarkan oleh beliau saw. kepada ummatnya, agar senantiasa berdo’a sebagai berikut:

“Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan kepada aal (ahlu-bait, keluarga) Muhammad, sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan aal Ibrahim. Sesungguhnyalah Engkau Maha Terpuji lagi maha Agung. Berkatilah Muhammad dan aal Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan aal Ibrahim”.

Sekaitan dengan hak atas ucapan sholawat yang diperoleh aal atau ahlu-bait Rasulallah saw., Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang sama ini mengetengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ka’ah bin Syajarah beberapa saat setelah surat Al-Ahzab : 56 turun. Kata Ka’ah: “Kami para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepada anda, tetapi bagaimanakah cara kami mengucapkan sholawat kepada anda’? Rasulallah saw. menjawab: ‘Ucapkanlah: Ya Allah, limpahkan lah sholawat kepada Muhammad dan kepada aal Muhammad’ ”.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan juga hadits lain yang berasal dari para sahabat Nabi saw, bahwasanya Rasulallah saw. mengingatkan para sahabat nya: “Janganlah kalian bersholawat untukku dengan sholawat batra, (yakni sholawat terputus tanpa lanjutan). Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah yang dimaksud sholawat batra’?. Beliau saw. menjawab: ‘Kalian mengucapkan: ‘Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Muhammad, lalu kalian berhenti disitu’ ! Ucapkanlah: ‘Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan kepada aal Muhammad’ “. (Lihat Mahmud Syarqawi ‘Sayyidatu Zainab ra :21).

Ibnu Taimiyyah ini tidak berbeda pendapat dengan Ibnul-Qayyim mengenai pengertian yang dimaksud aal Muhammad yaitu semua orang yang di haramkan menerima shodaqah dan mempunyai hak atas bagian dari seperlima ghanimah. Mereka ini adalah keturunan Rasulallah saw, semua orang Bani Hasyim dan para isteri Rasulallah saw. (Ummahatul-Mu’minin).

Didalam kitabnya yang lain yaitu Risalah Al-‘Aqidah Al-Washithiyyah, Ibnu Taimiyyah dalam menerangkan keyakinan kaum Ahlus-Sunnah dan mengecam kaum Rawafidh (kelompok sesat yang mendewa-dewakan dan menuhankan Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw.) dan kaum Nawashib (kelompok sesat yang memusuhi keluarga dan kerabat Rasulallah saw.), berkata antara lain: “Mereka (kaum Ahlus-Sunnah) mencintai aal (ahlu-bait, keluarga) Rasulallah saw. Mereka memandang aal beliau sebagai para pemimpin agama yang wajib dihormati dan dijaga baik-baik kedudukan dan martabatnya. Itu sesuai dengan wasiat yang diucapkan Rasulallah saw. di Ghadir Khum: ‘…Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku !’ (baca hadits Tsaqalain—pada halaman lain–pen). Mengenai cinta kasih kepada aal Muhammad saw. yang wajib diberikan oleh kaum muslimin, Ibnu Taimiyyah menyebut dua bait sya’ir dari Imam Syafi’i rahimahullah:

“Hai ahlu-bait Rasulallah, bahwa kecintaan kepada kalian

Kewajiban dari Allah yang diturunkan dalam Al-Qur’an

Cukuplah bukti betapa tinggi nilai martabat kalian

Tiada sempurna shalat tanpa sholawat bagi kalian “

Setelah menunjuk beberapa kitab sebagai rujukan dan menyebut juga be berapa hadits, Ibnu Taimiyyah menyebut jawaban Rasulallah saw. kepada pamannya, Al-‘Abbas, ketika ia mengadu kepada beliau adanya perlakuan kasar dari sementara orang terhadap dirinya. Dalam jawabannya itu Rasulallah saw. menegaskan: “Demi Allah yang nyawaku berada ditangan-Nya, mereka tidak akan masuk surga selama mereka belum mencintai kalian karena aku”.

Hadits semakna disebut juga oleh Ibnu Taimiyyah, yaitu hadits yang diketengahkan oleh Turmudzi, tercantum didalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal berasal dari Mutthalib bin Rabi’ah yang menuturkan bahwa jawaban Rasulallah saw. kepada ‘Abbas ra. ialah: “Demi Allah iman tidak akan masuk kedalam hati seseorang selama ia belum mencintai kalian karena Allah dan karena kalian itu kerabatku”! Konon beliau saw. mengucapkan jawaban tersebut dalam keadaan wajah beliau tampak agak gusar.

Didalam kitabnya yang berjudul Darajatul-Yaqin halaman 149, Ibnu Taimiyyah menyatakan: “Dalam kehidupan ummat manusia tidak ada kecintaan yang lebih besar, lebih sempurna dan lebih lengkap daripada kecintaan orang-orang beriman kepada Allah, Tuhan mereka. Di alam wujud ini tidak ada apa pun yang berhak dicintai tanpa karena Allah. Kecintaan kepada apa saja harus dilandasi kecintaan kepada Allah swt.. Muhammad saw. dicintai ummatnya demi karena Allah, ditaati karena Allah dan di ikuti pun karena Allah. Yakni sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam Al-Qur’anul-Karim (S.Aali ‘Imran : 31): ‘(Katakanlah hai Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian’ “!

Begitu juga sebagai bukti tentang betapa hormat dan betapa besar kecintaan para sahabat Nabi kepada ahlu-bait beliau saw, Ibnu Taimiyyah dalam Al-Iqtidha halaman 79 berkata: “Lihatlah ketika khalifah Umar ra. menetapkan daftar urutan pembagian jatah tunjangan dari harta Allah (Baitul-Mal) bagi kaum muslimin. Banyak orang yang mengusulkan agar nama Umar bin Al-Khattab ditempatkan pada urutan pertama. Umar tegas menolak; ‘Tidak! Tempatkanlah Umar sebagaimana Allah menempatkannya!’. Umar kemudian memulai dengan para anggota ahlu-bait Rasulallah saw. Kemudian menyusul orang-orang lain hingga tiba urutan orang-orang Bani ‘Adiy kabilah Umar ra sendiri. Mereka itu (para penerima tunjangan) adalah orang-orang Quraisy yang sudah jauh terpisah hubungan silsilahnya. Namun urutan seperti itu tetap dipertahankan oleh Khalifah Umar dalam memberikan hak-hak tertentu kepada mereka. Pada umumnya ia lebih mendahulukan orang-orang Bani Hasyim daripada orang-orang Quraisy yang lain. Mengapa demikian?

Ibnu Taimiyyah selanjutnya menjelaskan: Karena orang-orang Bani Hasyim adalah kerabat Rasulallah saw., mereka diharamkan menerima shadaqah atau zakat, dan hanya diberi hak menerima bagian dari seperlima jatah pembagian ghanimah. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam lingkungan ahlu-bait Rasulallah saw. Dan ahlu-bait beliau adalah orang-orang yang dimaksud dalam firman Allah swt. (Al-Ahzab : 33): “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak melenyapkan kotoran (rijs)  dari kalian, hai ahlul-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”.

Karena shadaqah atau zakat itu merupakan kotoran (dari harta orang lain), mereka diharamkan menerimanya, dan sebagai gantinya mereka dihalalkan menerima bagian dari seperlima pembagian ghanimah. Ibnu Taimiyyah mengetahui, bahwa dikalangan ummat Islam terdapat dua pandangan terhadap cucu Rasulallah saw. Al-Husain ra. Ada yang mencintainya sebagai ahlu-bait Rasulallah saw. dan ada pula yang karena kepentingan kekuasaan mereka membencinya, bahkan memeranginya turun-temurun. Dalam sebuah Risalah khusus yang disusun Ibnu Taimiyyah mengenai tragedi pembantaian Al-Husain ra. di Karbala oleh pasukan daulat Bani Umayyah, ia (Ibnu Taimiyyah) berkata:

“Allah memuliakan Al-Husain bersama anggota-anggota keluarganya dengan jalan memperoleh kesempatan gugur dalam pertempuran membela diri, sebagai pahlawan syahid. Allah telah melimpahkan keridhoan-Nya kepada mereka karena mereka itu orang-orang yang ridho bersembah sujud kepada-Nya. Allah merendahkan derajat mereka yang menghina Al-Husain ra. beserta kaum keluarganya. Allah menimpakan murka-Nya kepada mereka dengan menjerumuskan mereka kedalam tingkah laku durhaka, perbuatan-perbuatan dzalim dan memperkosa kehormatan martabat Al-Husain ra dan kaum keluarganya, dengan jalan menumpahkan darah mereka. Peristiwa tragis yang menimpa Al-Husain ra pada hakikatnya bukan lain adalah nikmat Allah yang terlimpah kepadanya, agar ia beroleh martabat dan kedudukan tinggi sebagai pahlawan syahid. Suatu cobaan yang Allah tidak memperkenankan terjadi atas dirinya pada masa pertumbuhan Islam (yakni masa generasi pertama kaum muslimin). Cobaan berat pun sebelum Al-Husain ra telah dialami langsung oleh datuknya, ayahnya dan paman-pamannya (yakni Rasulallah saw., Imam Ali bin Abi Thalib ra., Ja’far bin Abi Thalib ra dan Hamzah bin ‘Abdul Mutthalib ra)”.

Didalam kitabnya Al-Iqtidha halaman 144 Ibnu Taimiyyah tersebut lebih menekankan: “Allah melimpahkan kemuliaan besar kepada cucu Rasulallah saw., Al-Husain ra, dan pemuda penghuni sorga bersama keluarganya, melalui tangan-tangan durhaka. (Itu merupakan pelajaran) musibah apa pun yang menimpa ummat ini (kaum muslimin) wajib mereka hadapi dengan sikap seperti yang diambil oleh Al-Husain ra dalam menghadapi musibah”.

Ibnu Taimiyyah menyebut pula sebuah hadits yang menerangkan bahwasanya Rasulallah saw. pernah berkata kepada para sahabat: “Cintailah Allah, karena Allah mengaruniai kalian berbagai nikmat, maka hendaknyalah kalian mencintaiku karena kecintaan kalian kepada Allah, dan cintailah anggota-anggota keluargaku (ahlu-bait dan keturunanku) demi kecintaan kalian kepadaku ”. Demikianlah Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya yang tersebut diatas ini.

Mari kita ambil sebagian keterangan dari  Syeikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Jala’ul-Afham membicarakan ahlubaitun-nubuwwah (keluarga para Nabi) secara menyeluruh. Mengingat halaman dibuku ini, kami tidak menulis seluruhnya kutipan dari Syeikh Ibnu Qayyim hanya sebagian saja yang berkaitan dengan kemuliaan keturunan Rasulallah saw.. Ibnu Qayyim menulis dikitab tersebut diatas:

“Dari mulai nabi Ibrahim as. hingga ahlu-bait Muhammad saw., keluarga silsilah keturunan Nabi Ibrahim as. adalah keluarga-keluarga yang diberkati dan disucikan Allah swt. karena itu mereka adalah silsilah keluarga yang paling mulia diantara semua ummat manusia. Allah swt. berkenan menganugerahkan berbagai keistimewaan dan keutamaan kepada mereka ini. Allah swt. telah menjadikan Nabi Ibrahim as. dan keturunannya sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Baqarah:125. ‘Nabi Ibrahim dan putranya Ismail membangun baitullah (rumah Allah) Ka’bah yang kemudian oleh Allah ditetapkan sebagai kiblat kaum mu’minin dan untuk menunaikan ibadah haji’.

Begitu juga Allah swt. telah memerintahkan semua orang yang beriman agar bersholawat pada Nabi Muhammad saw. dan keluarga (aal) beliau seperti sholawat yang diucapkan bagi Nabi Ibrahim dan keluarga (aal) beliau. Allah swt. telah menjadikan baitun nubuwwah (keluarga Nabi Ibrahim as dan keturunannya hingga Nabi Muhammad saw. dan keturunannya) sebagai ‘furqan’ (batas pemisah kebenaran dan kebatilan). Bahagialah manusia yang mengikuti seruan dan jejak mereka dan celakalah mereka yang memusuhi dan menentangnya.

Allah swt. telah menciptakan dua ummat manusia terbesar didunia yaitu umat Musa as dan ummat Muhammad saw. sebagai ummat-ummat terbaik dalam pandangan Allah, guna melengkapi jumlah 70 ummat yang diciptakan-Nya. Allah swt. melestarikan kemuliaan baitun nubuwwah sepanjang zaman dengan melalui disebut-sebutnya keagungan mereka dan keluarga serta keturunan mereka, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ash-Shaffat :108-110.

Kesemuanya itu merupakan berkah dan rahmat Allah swt. yang telah di limpahkan kepada baitun-nubuwwah. Diantara mereka itu ada yang memperoleh martabat tinggi dan keutamaan-keutamaan lain, seperti Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah ; Nabi Isma’il diberi gelar Dzabihullah , Nabi Musa didekatkan kepada-Nya dan dianugerahi gelar Kalimullah, Nabi Yusuf dianugerahi kehormatan dan paras indah yang luar biasa, Nabi Sulaiman dianugerahi kerajaan dan kekuasaan yang tiada bandingnya dikalangan ummat manusia, Nabi Isa diangkat kedudukannya ke martabat yang setinggi-tingginya dan Nabi Muhammad saw. diangkat sebagai penghulu semua Nabi dan Rasul serta sebagai Nabi terakhir pembawa agama Allah, Islam.

Mengingat kemuliaan martabat baitun-nubuwwah yang dimulai sejak nabi Ibrahim a.s. secara turun-temurun hingga Nabi Muhammad saw., maka tidak lah mengherankan jika beliau saw. mewanti-wanti ummatnya supaya menghormati, mengakui kemuliaan terhadap ahlubait dan keturunannya. Ini bukan semata-mata hanya karena keagungan martabat beliau saw. sendiri sebagai Nabi dan Rasul, melainkan juga karena kemuliaan baitun-nubuwwah yang telah ditetapkan Allah swt. sejak Nabi Ibrahim a.s. Itulah rahasia besar yang terselip didalam Hadits Tqalain dan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan kedudukan ahlubait keturunan Rasulallah saw.”. Demikianlah sebagian keterangan Syeikh Ibnu Qayyim dalam kitabnya Jala’ul-Afham mengenai keutamaan baitun-nubuwwah.

Masih banyak lagi hadits-hadits yang memberitakan pesan (wasiat) beliau saw. kepada ummatnya mengenai keluarga dan keturunan beliau saw. setelah beliau saw. wafat. Tidak diragukan lagi, cukup banyak hadits Nabi saw. membuktikan bahwa mencintai ahlu-bait (keluarga atau aal) beliau saw. adalah wajib hukumnya. Menolak seruan beliau berarti membangkang dan orang yang membangkang dalam hal agama ialah orang durhaka, fasik dan fajir. Kita semua tahu bahwa dalam syari’at Rasulallah saw. mewajibkan secara umum untuk mencintai sesama muslimin, menjaga hak-haknya dan saling do’a mendo’akan. Bila ada orang yang melanggarnya maka dia akan mendapat dosa.

“Mencintai sesama muslimin itu sudah merupakan kebajikan yang harus ditaati apalagi mencintai keturunan Rasulallah saw. malah lebih ditekankan lagi oleh syari’at !! Bagaimanakah sekarang orang yang bersikap membenci, mendengki atau mencerca Ahlu-bait Rasulallah saw.? Bagaimana pula jika orang yang bersikap demikian itu mengaku dirinya beriman kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, Muhammad saw.?, jika dalam kenyataannya ia menusuk dan menyakiti hati beliau saw. karena mencerca dan membenci keluarga dan keturunan beliau saw. Mengingkari keutamaan mereka saja sudah merupakan kesalahan besar, apalagi membenci dan melecehkan mereka !

Pernah juga di Indonesia berita yang dimuat dikoran-koran beberapa silang waktu yang lalu pernyataan saudara Hasan Basri bahwa Hasan bin Ali bin Abi Thalib tidak punya keturunan dan semua keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib sudah dibantai di Karbala, pernyataan seperti ini sering diutarakan pada hari ulang tahun Al-Irsyad. Pernyataan Hasan Basri ini pernah ditanyakan oleh YAPI sumber dalil pernyataannya tersebut tapi tidak pernah terjawab. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak ada dalilnya sama sekali baik secara aqli (akal) maupun naqli (nash), tidak lain karena ketidak senangannya atau kedengkian pada golongan ‘Alawiyyun (salah satu julukan keturunan Nabi yang dari Hadramaut/Yaman Selatan), dan orang-orang semacam ini sangat bahaya sekali karena bisa mengelabui atau menghancurkan kebenaran sejarah Islam.

Bila Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. dianggap tidak ada dalam sejarah maka akan fiktif pula lah teman-teman beliau seperti Az-Zuhri dan Sa’id bin Musayyab yang kedua tokoh ini merupakan sumber banyak hadits sunni. Begitu juga kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fiqih serta sejarah Islam yang memuat banyak nama-nama cucu dari sayyidina Hasan dan sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, semuanya ini harus dihapus atau dibuang !

Begitu juga cucu keempat Rasulallah saw. –Imam Ja’far Ash-Shodiq ra.– yang terkenal dalam sejarah dan dikenal oleh empat Imam juga (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal [ra.] ) dan pengikutnya serta dikenal juga oleh semua madzhab baik itu Ahlus-sunnah Wal jama’ah, Syiah, Zaidiyyah, Salafi/Wahabi  dan lainnya. Cucu beliau yang keempat ini banyak juga melahirkan tokoh-tokoh ulama besar Islam. Nama dan nasabnya ialah Imam Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib kw. Beliau lahir tahun 80 H/699 M dan wafat tahun 150 H/765M. Ibu beliau ialah cucu dari khalifah Abu Bakar ra. yang bernama Ummu Farwah binti Al-Qasin bin Muhammad bin Abu Bakar As-Siddiq. Menurut riwayat yang pernah berguru juga dengan Imam Ja’far ini yaitu Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767M) dan Imam Malik bin Anas (93-179H/712-795M).

Kalau kita ziarah ke kuburan Baqi’ di Madinah maka disana akan kita dapati kuburan secara berurutan yang telah dikenal baik dikalangan ulama-ulama pakar seluruh dunia maupun dikalangan ummat muslimin yaitu kuburan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib kw. dan kuburan Imam Ja’far As Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Segala sesuatu baik Al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. serta sejarah disampaikan melalui riwayat yang ditulis oleh para perawi dan diteruskan serta dikembangkan oleh ulama-ulama pakar baik dari zaman dahulu sampai akhir zaman nanti. Begitupun juga mengenai nasab keturunan manusia banyak kita ketahui dengan melalui riwayat yang ditulis dari zaman dahulu sampai akhir zaman. Karena semua itu anjuran agama agar manusia selalu menulis hal-hal yang dianggap penting. Dengan adanya riwayat-riwayat ini kita bisa mengenal sejarah Islam, datuk-datuk dan keturunan Rasulallah saw., para Nabi dan Rasul lainnya, para sahabat dan para tabi’in dan para ulama-ulama atau suku-suku lainnya !! Wallahu a’lam.

penelitian nanas subang dan KB

BAB I

Pendahuluan

A. Latar belakang masalah

Di Subang sebagian besar penduduknya yang telah beruasia diatas 40 tahun hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, sehingga untuk menggerakan perekonomian rakyat perlu ditunjang dengan keterampilan. Untuk meningkatkan pembangunan saat ini lebih ditekankan pada generasi dibawah 40 tahun. 10 % warga Subang berada diluar subang untuk sekolah dan bekerja. Kondisi ini memberikan kontribusi negatif terhadap kota Subang sendiri, disebabkan masyarakat subang yang masih dalam kategori usia produkif lebih memilih sekolah dan bekerja ke luar kawasan subang.pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan hakikatnya sudah dirintis oleh pihak Pemda, namun kendala fasilitas penunjang demi kelancaran aktivitas pendidikan dipandang masih belum memadai. perlunya keterlibatan dari semua pihak, agar pendidikan di kota Subang bisa terselenggara dengan baik, yang tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi kabupaten Subang secara keseluruhan

B. rumusan masalah

  1. Potensi masyarakat jalancagak?
  2. Dimanakah letak Kecamatan Jalan Cagak?
  3. Mengapa Masyarakat Jalan Cagak memilih menjadi pedagang nanas?
  4. Kehidupan Pedagang nanas di Jalan Cagak?
  5. Nanas mengangkat daerah Subang dan “Indonesia” dan Apakah penghasilanya itu mencukupi kebutuhan hidup nya.?
  6. Keluarga berencana di jalancagak?

C. Tujuan penilitian

  1. Teridentifikasinya ketahanan keluarga berencana, ekonomi.
  2. Untuk mengatahui perekonomian di  kecamatan jalan cagak
  3. Untuk mendapatkan informasi.

 

 

D. Metode penilitian

  1. Metode pendekatan

Metode yang di pakai untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi, sehingga kami pun mulai menentukan subjek mana yang harus kami butuhkan informasinya sehingga kami mendapatkan beberapa “informan” yang menurut kami pangkal yang dapat memberikan kepada kami petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan, yaitu mereka yang pedagang pertama yang berjualan nanas di pinggiran jalan Kecamatan Jalan Cagak.

  1. Lokasi penilitian

Penelitian ini di laksanakan di kecamatan jalan cagak kabupaten subang, jawa barat. Penelitian ini berlangsung sekitar  satu minggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. Potensi masyarakat jalan cagak

Jalancagak adalah wilayah yang bisa dikatakan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Subang sebelah selatan, karena letaknya sebagai pintu masuk kedua setelah Kecamatan Ciater dari arah Kabupaten Bandung Barat maka Kecamatan Jalancagak dianggap sangat strategis dalam aspek ekonomi. Administratif pemerintahan Kecamatan Jalancagak dibantu oleh 7 Desa  dengan luas wilayah secara keseluruhan adalah  3.844.364 M2 hak milik,  dan 312.877 M2 hak guna bangunan dengan 110.555 orang dengan komposisi 55.806 orang laki-laki dan 54.749 orang perempuan, dengan kepadatan rata-rata sebesar 2.047,31 Km2.

Jumlah penduduk yang besar merupakan modal dalam pelaksanaan pembangunan daerah, kerena dukungan dan peran aktif dari penduduk sangat dibutuhkan. Sehubungan dengan hal itu maka pertumbuhan dan perkembangan penduduk harus senantiasa diperhatikan yang nantinya diharapkan mampu bertindak sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif.

Jalancagak berdasarkan data yang dihimpun dari penelitian yang dilakukan sebagian besar (mayoritas) penduduknya dalam memenuhi kesejahteraan hidup diri sendiri dan keluarganya bersumber pada sektor usaha pertanian, perdagangan, industri kecil, dan disamping sebagian penduduk bekerja sebagai PNS. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa lapangan kerja sektor jasa di kecamatan ini terlihat cukup signifikan kontribusinya dalam menyerap pekerja yang tercipta.

Apabila menengok kebelakang dari seluruh pekerja yang ada di Kecamatan Jalancagak ini lebih dari separuhnya adalah terserap oleh sektor pertanian. Kemudian keduanya diikuti oleh sektor jasa, selebihnya bekerja di sektor agrikultur. Kondisi tersebut telah mengalami pergeseran mengikuti perkembangan pembangunan dimana sektor agrikultur mulai ditinggalkan sesuai dengan perubahan fungsi tanah dan berkembang menjadi perumahan. Sektor jasa perdagangan berkembang dengan mengikuti pertumbuhan fungsi lahan pemukiman menjadi tempat usaha yang strategis, hal ini didukung oleh regulasi kebijakan di bidang perdagangan dimana pemerintah menyediakan kemudahan perijinan usaha.

Proses pergeseran struktur pekerja menurut status pekerjaan terjadi sejalan dengan kenaikan skala unit usaha. Pertama, adanya kenaikan permintaan masyarakat terhadap barang dan  jasa serta perbaikan sarana dan prasarana perhubungan (transportasi). Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi biasanya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga meningkat. Begitu juga, jika sarana dan prasarana transportasi semakin baik yang berdampak terhadap jangkauan pemasaran dari tiap-tiap unit usaha menjadi luas, akibatnya skala pada unit usaha cenderung mengalami peningkatan. Kedua, adanya perubahan struktur produksi dengan sektor yang sensitif terhadap skala perekonomian.

 

  1. Dimanakah letak kecamatan jalan cagak

 

Kecamatan Jalan Cagak terletak di Kabupaten Subang, yaitu salah satu wilayah penghasil nanas dan juga menjadi tempat penjualan nanas. Untuk bisa menikmati atau melihat hamparan kebun nanas, tengoklah Kabupaten Subang, sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Jalancagak, selain dari Kecamatan Jalan Cagak terdapat di Kecamatan Cijambe, atau di Cisalak. Ratusan hektar tanaman “Ananas comosus” ini terhampar luas.

“SUBANG memang sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nanas paling besar di daratan Jawa Barat karena memiliki areal yang ditanami komoditas nanas cukup luas. Tiga tahun lalu, luas panen komoditas nanas tercatat mencapai 48.629.278 pohon dengan produksi sekitar 689.151 kuintal.

Nanas yang merupakan tanaman asal Amerika dan masuk ke Indonesia awalnya dikenal sebagai tanaman pekarangan, ternyata cukup luas pengaruhnya di masyarakat Subang. Sejumlah wilayah di Subang dikenal sebagai sentra penghasil tanaman nanas antara lain, Jalancagak, Cijambe, Tambakan, dan sekitarnya”.

Wilayah ini merupakan kawasan pegunungan yang ditanami teh sehingga sepanjang kecamatan Jalan Cagak sampai Ciater dipenuhi oleh perkebunan teh seperti PT.Perkebunan Nusantara VIII sebagai BUMN Indonesia. Dalam mengenali dan menemukan kecamatan Jalan Cagak ini sangatlah mudah karena memiliki ciri yang khas yaitu, terdapatnya patung nanas di jalan antara ke Bandung, Subang, dan Sumedang sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung yang kami jadikan sebagai kajian sejarah lokal, yang dimaksud dengan ‘sejarah lokal’ berarti sejarah yang terjadi dalam lokalitas yang merupakan bagian dari unit sejarah bangsa atau lebih tepat, negara” Mulyana dan Gunawan (2007: 17). Dijelaskan pula oleh Abdulloh mengenai lokal disini bahwa: “Pengertian kata lokal tidak berbeli-belit, hanyalah ‘tempat, ruang’. Jadi ‘sejarah lokal’ hanyalah berarti sejarah dari suatu ‘tempat’, suatu ‘locality’, yang batasannya ditentukan oleh ‘perjanjian’ yang diajukan penulis sejarah” (2005: 15). Mengapa penulisan disini mengenai “Buah Nanas sebagai Komoditas Dagang Masyarakat Jalan Cagak dalam Menunjang Perekonomian Keluarga” kami jadikan sebagai kajian sejarah local, Karena kajian kami disini menunjukan lokalitas tertentu.

  1. Mengapa Masyarakat Jalan Cagak memilih menjadi pedagang nanas.

Suasana dalam perjalanan Bandung-Subang seorang penumpang kendaraan baik itu kedaraan umum atau pribadi seperti mobil maupun motor pasti akan melihat banyaknya para pedagang nanas yang sedang memajangkan dagangan nanasnya di pinggiran jalan dengan saung (kios) berukuran 5m x 3m ditempat-tempat yang mereka anggap ramai dan strategis seperti tempat pariwisata, perapatan, bahkan depan kampus UPI sekalipun. Siapa sangka fenomena maraknya pedagang nanas itu berawal dari kecamatan ke-27 dari kabupaten Subang yaitu kecamatan Jalan Cagak yang masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang nanas di pinggiran jalan raya Bandung-Subang. Hal tersebut disebabkan karena luasnya perkebunan nanas di kecamatan tersebut, sehingga buah nanas ini menjadi komoditi perdagangan buah utama di kecamatan tersebut karena selain nanas terdapat pula buah “manggu” (manggis), “pisitan”, “duku”, “durian” dan “salak” namun buah-buahan ini hanya ada pada musim-musim tertentu tidak seperti buah nanas yang selalu ada menjadi penghias sepanjang jalan kecamatan Jalan Cagak.

Menurut Koentjaraningrat, metode wawancara dalam rangkan penelitian masyarakat ada dua macam wawancara yang pada dasarnya berbeda sifatnya, bahwa:

  • wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi,
  • wawancara untuk mendapatkan keterangan tentang diri pribadi, pendirian dan pandangan dari individu yang diwawancara, untuk keperluan komparatif.” (1977: 163)

Selain itu menurutnya juga dijelaskan mengenai. “siapakah yang memiliki keahlian yang terbaik mengenai hal yang ingin kita ketahui, tanpa banyak harus coba-coba dahulu, adalah suatu hal yang tak mudah. Dalam suatu masyarakat yang baru, tentu kita harus memulai dari keterangan seorang informan pangkal yang dapat memberikan kepada kita petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan”. Koenjaraningrat (1977: 163-164)

Dalam metode wawancara yang kami gunakan adalah ) wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi, sehingga kami pun mulai menentukan subjek mana yang harus kami butuhkan informasinya sehingga kami mendapatkan beberapa “informan” yang menurut kami pangkal yang dapat memberikan kepada kami petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan, yaitu mereka yang pedagang pertama yang berjualan nanas di pinggiran jalan Kecamatan Jalan Cagak.

Kecamatan Jalan Cagak merupakan kecamatan yang memproduksi buah nanas terbanyak karena terhampar luas perkebunan milik warga di kecamatan tersebut. “Pusat pembudidayaan nanas terbesar berada di Kecamatan Jalancagak, seluas 2.592 hektar, dengan lahan yang berpotensi hanya 100 hektar. Selain itu, ada Kecamatan Cisalak yang luas kebun nanasnya 137 hektar dan Cijambe seluas 38 hektar”.

Setiap tahun Subang menghasilkan tidak kurang 59.000 ton nanas. Sentra produksi buah yang kulitnya bersusun sisik ini di Kecamatan Jalancagak. Tetapi, tidak semua nanas yang dihasilkan adalah nanas “Si Madu” yang kondang ke seluruh negeri. Nanas jenis ini terkenal karena berair banyak dan mempunyai rasa manis tanpa rasa getir dan tidak menyebabkan gatal di kerongkongan.

Buah yang memiliki berat antara 3-3,5 kilogram ini menjadi istimewa karena tidak mudah ditemukan. Sama seperti satu atau dua kelapa muda kopyor yang ditemukan dalam rimbunan buah kelapa, sebutir atau dua butir nanas madu mungkin bisa ditemukan dalam satu kuintal nanas. Itu sebabnya tidak mudah bagi yang ingin mencicipi buah itu menemukannya dalam deretan kios penjual nanas yang bertebaran di sepanjang jalan di Kecamatan Jalancagak.

Sedangkan dalam pemasarannya seorang produsen tidak dapat melakukannya secara langsung jika jarak antara produsen dengan konsumen berjauhan, oleh karena itu menurut  Abdulloh, “diperlukan adanya usaha-usaha untuk menyampaikannya kepada konsumen. Usaha-usaha untuk menyampaikan barang-barang dari produsen ke konsumen tersebut. Oleh karena itu disini terdapat peranan para pedagang yang dapat berhubungan langsung baik itu dengan produsen maupun konsumen, melihat dengan potensi daerah yang dihasilkan melimpah ruah mengenai buah nanas hal itulah yang kemudian membuat masyarakat Kecamatan Jalan Cagak khususnya yang mempunyai rumah di pinggir jalan raya lebih memilih menjadi pedagang nanas, karena selain letaknya yang sangat strategis juga keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan nanas cukup besar dalam menyokong ekonomi keluarga.

Menurut Pak Edi “Tradisi ketika orang tua sudah berhenti dilanjutkan oleh anaknya” atau dalam ilmu sosiologi dikenal sebagai mobilitas generasi yang menurut pemahaman kami merupakan suatu kegiatan atau status sosial yang tidak ada perubahan dalam bidang profesi dari orang tua yang diwariskan kepada anaknya yang memiliki pekerjaan yang sama. Seperti orang tua Pak Edi kepadanya. Namun berbeda dengan Ibu Maryati anaknya menjadi guru dan ada pula yang menjadi pengusaha di Jakarta serta anaknya yang bungsu masih duduk di bangku kuliah Akademi Keperawatan Subang dan Pak Yanto yang anaknya masih kuliah di Universitas Pasundan.

  1. Kehidupan Pedagang nanas di Jalan Cagak.

Bagaimana mungkin seorang pedagang nanas yang dagangannya berukuran 5m x 3m bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Perguruan Tinggi, namun itu memang benar-benar terjadi faktanya seorang ibu rumah tangga yang profesi kesehariannya sebagai pedagang nanas bisa menyekolahkan ke-lima anaknya sampai bangku kuliah yaitu, Ibu Maryati selain Ibu Mayati juga ada bapak Yanto yang anaknya kini Kuliah di Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Kota Bandung, untuk mendapatkan informasi ini kami menggunakan wawancara dengan metode penggunaan data pengalaman individu dalam ilmu sejarah dikenal sebagai “human document” yang dijelaskan Koentjaraningrat bahwa:

“Guna dari data semacam itu dalam hal melakukan penelitian terhadap suatu masyarakat yang bersangkutan adalah bahwa si peneliti itu dapat memperoleh suatu pandangan dari dalam, melalui reaksi, tanggapan, interpretasi, dan penglihatan para warga terhadap dan mengenai masyarakat yang bersangkutan”. (1977: 197)

Disamping mempelajari data pengalaman individu sebagai bagian dari realitas gejala sosial, kami juga mempelajari hal itu untuk memperdalam pengertiannya mengenai detail yang tak akan dapat dicapai dengan metode lain. Adapun mengenai tujuan ini kami menggunakan ilmu bantu diantaranya sosiologi dan ekonomi untuk mengetahui data pengalaman individu yang penting bagi kami, untuk memperoleh pandangan dari dalam mengenai gejala-gejala sosial dalam suatu masyarakat melalui pandangan dari masyarakat yang bersangkutan.

Berdasarkan dari hasil pengamatan dilapangan nampaknya para pedagang nanas ini mencukupi kehidupan keluarga bahkan lebih dari itu, sebagaimana diakui oleh Pak Edi (30 tahun) ia bias membeli kendaraan roda empat dan kendaraan sepeda motor selama lima tahun berjualan nanas, sedangkan ibu Maryati (60 Tahun) masih bertahan dari tahun 70-an sampai sekarang bisa menyekolahkan kelima anaknya sampai bangku kuliah padahal beliau suaminya sudah meninggal dunia. Begitu juga Pak Yanto (50 tahun) yang memiliki anak yang sedang menempuh pendidikan di PTS yang ada di Bandung, dari ketiga informan ini yang dijadikan sampling menyatakan dengan berjualan nanas “cukup lumayan dalam menyokong ekonomi keluarga”.

  1. Nanas mengangkat daerah Subang dan “Indonesia”

Patung nanas “Itu terjadi tahun 1990 yang membuat nama Subang naik daun, yang kemudian diapresiasikan pemerintah melalui patung nanas,” kata Dadang, pedagang nanas di Jalancagak. Selain itu nanas Subang juga mampu mengangkat nama Indonesia seperti yang diberitakan di Kompas bahwa:

“Kenyataannya nanas Subang ternyata mampu mengangkat nama Indonesia, sehingga ada sebuah perusahaan yang mengemas dalam makanan kalengan atau kemudian dibuat jus oleh pengusaha lainnya di Bandung. Di samping itu ada pula nanas yang dibuat dodol. Pokoknya, nanas dapat diolah dengan berbagai macam cara sehingga memberi kontribusi bagi masyarakat dan pemerintah daerah”.

Karena selain padi, lanjut Wawan bahwa: “komoditas unggulan pertanian lainnya ialah buah-buahan. Nanas, pisang, dan rambutan merupakan buah andalan kabupaten ini yang dikenal hingga ke luar daerah, Nilai kegiatan ekonomi Subang terbanyak disumbangkan oleh sektor pertanian, yakni Rp 3,44 triliun atau sebesar 38,28 persen. Berikutnya adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan Rp 1,74 triliun atau 19,44 persen ekonomi Subang, disusul industri pengolahan yang menyumbangkan Rp 1,12 triliun atau 12,48 persen nilai kegiatan ekonomi kabupaten ini”.

Dengan menurut kami itu merupakan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian daerah, sektor pertanian, termasuk di dalamnya agrobisnis, memang menjadi andalan pembangunan di Kabupaten Subang. Untuk mengembangkan sektor tersebut, pemerintah kabupaten masih membuka lebar kesempatan bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di Subang. Bidang agrobisnis yang terbuka antara lain pengembangan nanas, rambutan, dan manggis dalam rangka pembangunan ekonomi daerah maupun pusat. Dan sudah sangat jelas di ungkapkan di atas bahwa penghasilan dari berbagai usaha nya sangat mencukupi sekali untuk menghidupi keluarganya.

 

  1. Keluarga berencana (KB) di jalancagak

Sebuah sepanduk besar terpang-pang di depan puskesmas jalan cagak, kabupaten subang, jawabarat, “putus benang sudah biasa tapi putus kontrasepsi berbahaya”, slogan meminjam komentar mandra,dalam kampanye bersekolah,yang gencar di televis itu, disertai sepanduk lain yang tak kalah besar, Tulisanya “tunda kehamilan karna kondisi ekonomi belum stabil”.

Krisis moneter yang berkembang menjadi krisis ekonomi berkepanjangan, memang amat terasa dampak nya dalam urusan keluarga berencana ujar pak aditio sugi harto. Alat kontrasepsi yang selama ini dapat di peroleh dengan murah: suntik, pil, susuk tiba-tiba melambung harganya. Di tengah mahalnya harga bahan pokok sangat mungkin terjadi masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan perut nya di banding untuk membeli alat kontrasepsi, maka bila ini tidak cepat-cepat di antisipasi maka yang akan muncul adalah peningkatan jumlah kelahiran di jalan cagak ini. Dan Ini akan terus menjadikan kemungkinan negative lainya: seperti halnya sang anak akan mengalami kekurangan gijzi dikarnakan sang orangtua takmampu membeli makanan-makanan yang menunjang sang anak bertumbuh dengan optimal dan jadilah sang anak menjadi penerus yang tidak siap membangun bangsa ujar ibu neneng bidan di puskesmas jalan cagak.

Dilapangan, masyarakat jalan cagak terus di dorong melakukan berbagai terobosan untuk menyelamat kan akseptor Metode yang di kembangkan peserta “KB” di jalan cagak adapun warga di jalan cagak ini mempunyai satu kelompok, yang memiliki catatan kapan akseptor harus suntik ulang atau beli pil. Dengan demikian masing-masing bisa mencek dana yang terkumpul maupun akseptor yang tidak datang pada saat nya.hingga dua bulan berjalan dan danapun sudah terkumpul beberapa ratus ribu rupiah, dana ini sudah di gunakan membantu empat peserta KB suntik dan tiga peserta KB pil, dalam hal ini peran sang bidan memang sangat penting dan sangat luarbiasa pengaruh nya pada masyarakat, di tengah harga-harga yang membubung mereka rela menyisihkan sebagian uang yang sebenarnya menjadi hak nya mereka untuk membantu akseptor yang tidak mampu.

 

 

 

 

BAB III

Penutup

  1. Kesimpulan

Seluruh pekerja yang ada di Kecamatan Jalancagak ini lebih dari separuhnya adalah terserap oleh sektor pertanian. Kemudian keduanya diikuti oleh sektor jasa, selebihnya bekerja di sektor agrikultur. Kondisi tersebut telah mengalami pergeseran mengikuti perkembangan pembangunan dimana sektor agrikultur mulai ditinggalkan sesuai dengan perubahan fungsi tanah dan berkembang menjadi perumahan. Sektor jasa perdagangan berkembang dengan mengikuti pertumbuhan fungsi lahan pemukiman menjadi tempat usaha yang strategis, hal ini didukung oleh regulasi kebijakan di bidang perdagangan dimana pemerintah menyediakan kemudahan perijinan usaha. Maka dengan kesimpulan di atas, masyarakat jalan cagak sangat menyandarkan seluruh kebutuhan hidup nya dari bertani dan berdagang.

Bidan ketua kelompok di daerah sekitar subang yaitu jalancagak sangat penting dan berpengaruh sekali di dalam mengatasi kelahiran anak yang akan mengorbankan kesehatan sang anak di masa pertumbuhan nya, dikarnakan keadaan ekonomi di jalan cagak masih hanya cukup untuk kepentingan yang lebih di pentingkan.

 

 

 

ekologi manusia

 

Ekologi: adalah ilmu ttg hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya);

Dalam ekologi sifat nya masih netral belum ada nilai baik dan buruk, belum ada moral di terima dan di tolak,kareuna masih menganut moral alam, belum di sentuh dengan moral manusia dan moral agama…..

Berbeda dengan konsep ekologi manusia, ketika manusia melihat anak nya di terkam harimau, maka sang ayah akan melawan nya, dan bila perlu di tembak agar hewan itu matii, karna disitu sudah ada terdapat nilai, dampak, posotif negative, baik buruk,  karna ekologi manusia lebih menekan kan pada proses interaksi manusia itu sendiri, dengan lingkunangan nya,,,,,,,,,,,,,,

FILSAFAT ILMU (MISTIK)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1)    Latar Belakang

Kata “mistik”, menurut de Jong, seperti juga kata “misteri”berasal dari kata kerja yunani”mu-ein” yang ,mempunyai dua arti. Arti pertama adalah menutup mata dan mulut, dan arti kedua adalah mengantarkan seseorang kedalam rahasia lewat upacara. Pada awal penggunaannya di barat pada abad ke-5 kata”mystical”menunjukan suatu corak teologiyang hanya mengindahkan pendekatan yang melampaui akal dan pengalaman manusia. Pada pendekatan etimologis ini tampak bahwa mistik tak akrab dengan corak berfikir analitis akali yang menjadi watak ilmu pengetahuan. Berdasarkan pada uraian mengenai refleksi budaya serta mistik di atas maka dapat disimpulkan bahwa refleksi budaya mistik adalah upaya untuk melihat sisi mistik(misteri)terhadap suatu obyek. Dan karena obyek penelitian ini adalah film kuntilanak.

  1. B.   Rumusan Masalah
  2. Bagaimana hubungan filsafat ilmu dengan mistik?
  3. Mistik apa saja yang masih digunakan oleh masyarakat?
  4. Apa pemahaman masyarakat terhadap mistik?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      DEFINISI MISTIK

Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.

Beberapa pendapat tentang paham misitk atau mistisisme :

  • Kepercayaan tentang adanya kontak antara manusia bumi (aardse mens) dan tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan tentang persatuan mesra (innige vereneging) ruh manusia (ziel) dengan Tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan kepada suatu kemungkinan terjadinya persatuan langsung (onmiddelijke vereneging) manusia dengan Dzat Ketuhanan (goddelijke wezen) dan perjuangan bergairah kepada persatuan itu (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).
  • Kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia (geheimnissen) dan hal-hal yang tersembunyi (verborgenheden). (J. Kramers. Jz).
  • Kecenderungan hati (neiging) kepada kepercayaan yang menakjubkan (wondergeloof) atau kepada ilmu yang rahasia (geheime wetenschap). (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).

Selain diperolehnya definisi, pendapat-pendapat tentang paham mistik diatas berdasarkan materi ajarannya juga memberikan adanya pemilahan antara paham mistik keagamaan (terkait dengan tuhan dan ketuhanan) dan paham mistik non-keagamaan (tidak terkait dengan tuhan ataupun ketuhaan).

  1. 2.      Ajaran dan Sumbernya

a)      Subyektif

Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obeyktif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya.

Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap memiliki keistimewaan pribadi yang disebut kharisma. Anggapan adanya keistimewaan ini dapat disebabkan oleh :

  1. Pernah melakukan kegiatan yang istimewa.
  2. Pernah mengatasi kesulitan, penderitaan, bencana atau bahaya yang mengancam dirinya apalagi masyarakat umum.
  3. Masih keturunan atau ada hubungan darah, bekas murid atau kawan dengan atau dari orang yang memiliki kharisma.
  4. Pernah meramalkan dengan tepat suatu kejadian besar/penting.

Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yang diajarkannya itu biasanya melalui petualangan batin, pengasingan diri, bertapa, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi tokoh itu sendiri dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain.Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah di antara kita ada yang menyebutnya paham, ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer).

Mengingat pengajarannya tidak mungkin dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham mistik mudah memunculkan cabang baru menjadi aliran-aliran baru sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau juga sebaliknya mudah timbul penggabungan atau percampuran ajaran paham-paham yang telah ada sebelumnya.Karena serba mistik maka paham mistik atau kelompok penganut paham mistik tidak terlalu sulit digunakan oleh orang-orang yang ada tujuan tertentu dan yang perlu dirahasiakan karena menyalahi atau bertentangan dengan opini umum atau hukum yang berlaku sebagai tempat sembunyi.

  1. 3.     Abstrak dan Spekulatif

Materinya serba abstrak artinya tidak konkrit, misal tentang tuhan (paham mistik ketuhanan), tentang keruhanian atau kejiwaan, alam di balik alam dunia dll (paham mistik non-keagamaan). Dengan demikian pembicaraannya serba spekulatif, yaitu serba menduga-duga, mencari-cari, memungkin-mungkinkan dll (tidak komputatif). Pembicaraannya serba berpanjang-panjang, serba berlebih-lebihan dalam arti melebihi kewajaran atau melebihi pengetahuan dan pengertiannya sendiri (meski sudah mengakui tidak tahu, masih mencoba memungkin-mungkinkan). Oleh karena itu di kalangan penganut paham mistik tidak dikenal pembahasan disiplin mengenai ajarannya sebagaimana yang berlaku dalam diskusi atau munaqasyah.

  1. 4.      Sebab orang menganut paham mistik
  1. Kurang puas yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada tuhan menurut ajaran agamanya yang ada saja.
  2. Rasa kecewa yang berlebihan, Orang yang hidupnya kurang bersungguh-sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia di bidang science dan teknologi yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup. Malah mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka ‘lari’ dari kehidupan modern menuju ke kehidupan yang serba subyektif, abstrak dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.
  3. Mencari hakekat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakekat hidup sebenarnya juga ada yang terjebak bahwa kebenaran hanya akan didapat dari pengalaman mistiknya.

Di antara mereka masih ada yang berusaha merasionalkan ajaran paham mistik yang dianutnya, dan ada pula yang tegas-tegas lepas sama sekali dari tuntutan kemajuan zaman ini.

FILSAFAT MISTIS IBN ARABI

  1. ESSENSI DAN EKSISTENSI

Hubungan antara Eksistensi dan Essensi menurut Ibn Arabi adalah bahwa eksistensi merupakan wujud dari essensi. Segala sesuatu bisa dikatakan eksis, wujud, atau ada jika termanifestasikan ke dalam tahapan wujud (marathib al wujud), yang menurutnya pula terdiri empat hal:

  1. Eksis dalam wujud sesuatu (wujud al syai’ fi ainih), artinya sesuatu ada dalam dirinya sendiri atau secara dzatnya benar-benar wujud.
  1. Eksis dalam pikiran (wujud al syai’ fi al ‘ilm), yaitu sesuatu muncul dalam pikiran meskipun hanya sekedar konsep atau secara mudahnya terbayang dan terangan-angan. Sesuatu itu muncul secara nyata dalam pikiran dan tidak dapat dinafikan tentang keberadaannya.
  2. Eksis dalam ucapan (wujud al syai’ fi al alfazh), mengandung makna bawasannya adanya sesuatu keluar melalui lisan dalam betuk ucapan. Sesuatu itu dapat dibicarakan dan dibincangkan bahkan dapat diperdebatkan, tapi meskipun kemunculannya – taruhlah – hanya sekedar dalam satu kata dan satu kali ucapan, sudah cukup mewakili status sesuatu itu telah mencapai tahapan wujud dalam ucapan.
    1. Eksis dalam tulisan (wujud al syai’ fi ruqum), juga tidak jauh bermakna eksis dalam ucapan. Maksudnya, hampir bisa dikatakan bawasannya ketika sesuatu itu bisa diaktualisasikan dalam ucapan – yang berari bisa dibahasakan – maka sesuatu itu pun bisa diaktualisasikan dalam tulisan. Ketika sesuatu itu telah muncul dalam tulisan di situlah sesuatu eksis dalam tulisan.

Maujudnya sesuatu ke dalam salah satu dari keempat hal tersebut sudah cukup memberikan status bahwa sesuatu itu eksis, karena dengan salah satu dari empat hal tersebut sesuatu bisa dibicarakan, dibahas, dan sekaligus menjadi bahan kajian.

Semua yang wujud dalam artian punya eksistensi – bagi Ibn Arabi dalam perspektif ontologis – terbagi dalam dua bagian, yaitu Wujud Mutlak dan Wujud Nisbi. Wujud Mutlak merupakan istilah lain dari Tuhan, yang tidak bisa didefinisikan tentang pengertiannya, karena Ia merupakan Dzat yang tidak mempunyai batas dalam semua hal. Segala sesuatu yang dapat didefinisikan berarti itu terbatas, sehingga Tuhan hanya dapat disifati tapi tidak bisa didefinisikan. Segala uraian tentang-Nya adalah kebohongan, pengkerdilan, dan pembatasan. Sedangkan Wujud Nisbi adalah sesuatu yang eksistensinya terjadi oleh dan untuk wujud lain (Tuhan). Dalam kata lain segala sesuatu yang selain Tuhan. Wujud Nisbi ini mempunyai dua bagian, yaitu wujud bebas (dzat1) dan wujud bergantung (a’radh2). Wujud bebas berupa substansi-substansi yang juga terbagi menjadi material dan spiritual. Sedangkan wujud bergantung berupa atribut-atribut, kejadian-kejadian, dan hubungan-hubungan yang berifat spesial dan temporal.

Namun dalam wujud nisbi pun tidak sepenuhnya entitas temporal (terbatas ruang dan waktu), tapi juga entitas permanen (al a’yan al tsabitah)3. Wujud nisbi yang teraktualisasikan sebagi alam dalam semua keadaan, tidak pernah meninggalkan kepermanenannya dan ketidakberubahannya, melainkan selamanya ada dalam ilmu Tuhan yang kekal dalam kebesaran-Nya.

 

 

Dari sinilah tampak jelas adanya paradoks antara entitas-entitas dalam ilmu Tuhan dengan entitas semesta, karena pada hakikatnya entitas-entitas dalam ilmu Tuhan bebas dari ruang dan waktu, tidak berwujud konkrit. Sedangkan dalam entitas semesta (alam) berwujud konkret dan terikat ruang dan waktu.

 

 

  1. A.   Hubungan Filsafat Ilmu Dengan mistik dalam kebudayaan Hukum Indonesia

Kebudayaan mempengaruhi hukum dalam masyarakat, mistik sebagai pengetahuan yang mempengaruhi pola fikir manusia pada akhirnya akan muncul dalam bentuk budaya proses kebudayaan mempengaruhi hukum menjadi budaya hukum.secara filosofis keberadaan mistik dalam budaya hukum dapat dilihat dari 3 aspek yaitu:

  • Aspek ontologis
  • Aspek epistemologis
  • Aspek aksiologis

Persoalannya menjadi pelik,apabila mistik budaya hukum, terlalu dominan sehingga telah menjadi pola fikir masyarakat,seperti dalam menentukan pada pilihan umum, atau wakil rakyat dalam menentukan ketentuan hukum apa yang diatur,oleh karena itu kenbenaran mistik sebagai suatu budaya hukum harus ditmpatkan pada posisi yang tepat serta harus di sertai dengan upaya pembuktian hukum yang tepat jika akan menjadi bagaian ketentuan tertulis, seperti pengaturan mengenai santet dalam KUH Pidana.

 

Menurut Koencaraningrat, kebudayaan tersebut paling sedikit memiliki 3 (tiga) wujud.:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide,gagasan,nilai-nilai,norma-norma,peraturan dsb.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda dalam karya manusia.

 

 

 

 

  1. Proses munculnya mistik dikaitkan dengan budaya hukum

Membahas mengenai epistemologi mistik, berarti berusaha mencari tahu bagaimana sejarah munculnya mistik dan bagaimana memperoleh keyakinan mistik tersebut. Sebagaimana dijelaskan mengenai hakekat mistik yang gaib, maka alat yang dapat digunakan untuk mengeahui mistik ini diantaranya adalah rasa, hati dan keyakinan seseorang. Jadi tidak melalui indera atau pun rasio atau akal manusia.

Adapun yang menjadi obyek dari mistik tersebut merupakan obyek yang gaib, kasat mata dan supra rasional, maka cara memperolehnya pun sering kali tidak menggunakan akal rasional. Mistik dapat diperkenalkan sebagai suatu bentuk dari intuisiDijelaskan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam pejabaran-penjabaran mistik memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung yang mengatasi pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan indra. Pengetahuan mistik telah diberi definisi sebagai kondisi orang yang amat sadar tentang kehadiran yang Maha riil. (Hubungan aku dengan tuhan / Kesadaran Kosmis)

 

Berikut ini beberapa cara yang dimungkinkan masuknya keyakinan mistik kepada seseorang :

– Apabila seseorang mengalami guncangan psikis, seperti perasaan tersingkir, hilangannya pegangan hidup maupun teringkari, maka dapat secara mudah gerakan kultus yang fanatik, eksklusif dan tak jarang anti sosial dapat masuk. Artinya tanpa adanya pegangan hidup, maka mistik dalam bentuk kultus dapat masuk ke diri seseorang.

– Dapat juga dengan melakukan meditasi dan pendalaman suatu aliran kebatinan yang hanya menyatakan diri berhubungan langsung dengan tuhan tanpa memiliki syarat atau aturan tertentu

WAHDAT AL WUJUD

Dengan pemahaman seperti ini, bagi Ibn Arabi, seluruh realitas yang beragam sejatinya hanya satu, yaitu Tuhan sebagai satu-satunya realitas dan realitas yang sesungguhnya. Ibn Arabi mengartikan alam sebagai Tuhan dan sekaligus bukan Tuhan, temporal sekaligus abadi, nisbi sekaligus permanen. Alam adalah bentuk eksistensi sifat-sifat Tuhan yang termanifestasikan ke dalam kosmos, sehingga segala yang ada di dalamnya adalah entifikasi-Nya. Sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al hadhrah al ilahiyyah), yaitu wujud yang serba meliputi yang ditunjukkan oleh kata “Allah”.4 Dua keadaan yang paradoksal ini terkumpul dalam realitas alam yang oleh Ibn Arabi dinyatakan dengan mengguakan prinsip al Jam’u bayn al Addad (kesatuan diantara pertentangan-pertentangan), atau dalam filsafat Barat dikenal dengan coincidentia oppositorum.5

Dalam usahanya untuk menjelaskan hubungan ontologis Tuhan dan alam, Ibn Arabi menyimbolkannya dengan cermin. Pertama, untuk menjelaskan tentang penciptaan alam. Penciptaan ini merupakan bentuk penampakan Tuhan. Kedua, untuk menjelaskan hubungan Yang Satu dengan yang banyak, diibaratkan Tuhan bercermin dengan bermacam model dan bentuk cermin sehingga muncul gambar yang banyak dan beragam.

Oleh karena itu, bagi Ibn Arabi, tidak ada jalan lain untuk bisa memahami realitas wujud yang hakiki kecuali dengan menyelami secara langsung lewat penghayatan dalam mistik. Pengetahuan intuitif yang diperoleh lewat penghayatan mistik inilah pengetahuan yang sebenarnya, yang paling unggul, dan yang terpercaya.6 Untuk bisa mencapai semua itu seseorang sufistik harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu untuk menghadap Allah denga penuh cinta dan rindu. Ada lima tahapan yang harus dilalui dalam proses pembersihan jiwa tersebut, yaitu:

  1. Membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan, kemudian mengisi amalan-amalan dengan perbuatan baik.
  1. Zuhud, menghentikan pemandangan terhadap aspek fenomena dunia, dan kesadaran terhadap aspek nyata yang menjadi dasar fenomenanya.
  2. Menjauhkan diri dari segala atribut dan segala kualitas wujud kontingen dengan kesadaran bahwa semua itu adalah milik Allah semata.
  3. Menghilangkan semua yang selain Allah, tapi tidak pada tindakan itu sendiri. Di sinilah seseorang yang sedang melakukannya, kehilangan kesadaran dirinya sebagai orang yang memandang.
  4. Memandang Allah lebih sebagai essensi daripada Sebab Pertama dari realitas semesta.

Jikalau seseorang sudah bisa mencapai pada tingkatan tertinggi dan telah menyatu dengan – sifat-sifat, asma-asma, dan bayangan, bukan pada Dzat – Allah, ia akan memperoleh pengetahuan secara langsung dari Allah dalam bentuk ilham. Pengetahuan tersebut tampak memancar dari Allah dalam batinnya. Seperti halnya yang terjadi pada diri Ibn Arabi sendiri. Rujukan-rujukan dari para tokoh sebelumnya hanya digunakan untuk menerangkan dan mengibaratkan pengalaman-pengalaman batinnya. Hal ini diperkuat oleh bukti dan peryataan bahwa Ibn Arabi tidak terpaku pada salah satu tokoh.

Pada tingkatan tersebut kesempurnaan sebagai paduan seimbang antara penegasan ketakserupaan (tanzih) Allah dan penegasan keserupaan (tasybih)-Nya. Dari segi tasybih, Allah sama dengan alam, karena alam tidak lain perwujudan dan aktualisasi sifat-sifat-Nya. Sedangkan dari segi tanzih, Allah berbeda dengan alam, karena alam terikat oleh ruang dan waktu, dan Allah bersifat Absolut dan mutlak. Antra tanzih dan tasybih berhubungan langsung dengan epistemologinya. Akal diciptakan untuk memahami dan menetapkan perbedaan dan kergaman sehingga bisa berpikir abstrak. Akan tetapi ini sangat dipengaruhi sifat bawaan modus pemahaman rasional yang inheren, menjaga jarak dengan Allah dengan menegaskan tanzih dan menolak tasybih.

 

 

 

Macam-Macam Mistik Puasa( Ala kejawen)

  1. Mutih

Dalam puasa mutih ini seseorang tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja.nasi putihnya pun tidak ditambah oleh apa-apa lagi(seperti gula,garam dll) sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku harus melakukan keramas dulu sebelum membaca mantra ini.: “niat ingsun mutih”mutihaken awak,kang reged putih kaya bocah mentes lahir dia pun ijabahi ku gusti allah.

  1. Puasa Ngeruh

Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran/buah-buahan saja, tidak diperbolehkan memakan daging,ikan dan telur.

  1. Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktivitas normal sehari-hari, seseorang yang melakoni puasa ngbleng tidak boleh makan,minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktivitas seksual. Waktu tidurpun harus dikurangi. Biasanya yang melakukan puasa ngbleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam(24 jam) pada saat malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahayapun yang menerangi kamar tersebut. kamarny harus gelap gulita tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
  2. Puasa Patigeni

Hampir sama dengan puasa ngbleng, tetapi ada perbedaan tidak boleh keluar kamar Alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekalipun. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada yang melakukan 3 hari, 7 hari dsb.jika seseorang melakukan puasa patigeni ingin buang air, maka buang airnya harus di dalam kamar(dengan melakukan pispot dan yg lainnya).ini adalah mantra patigeni “niat ingsun patigeni,amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni napsu angkara.

 

  1. Puasa Ngelowong

Dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu, hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja dalam 24 jam diperbolehkan keluar rumah.

 

 

  1. Puasa Ngrowot

Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh samapi magrib, saat sahur seseorang yang melakukan puasa ngrowot ini hanya makan buah-buahan saja.misalnya pisang 3 buah saja,dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur. Dan masih banyak lagi puasa-puasa lainnya yang berhubungan dengan mistik.

 

Dalam melakoni puasa-puasa di atas, bagi pemula sangatlah berat jika belum terbiasa, oleh karena itu disini akan dibekali dengan ilmu lambung karang, ilmu ini berfungsi  membantu menahan lapar dan dahaga.dengan kata lain ilmu ini akan membantu bagi orang-orang yang masih ragu-ragu dalam melakoni puasa di atas,selain praktis dan mudah di pelajari, sebenarnya ilmu lambung karang ini berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya yang kebanyakan harus ditebus/dimarahi dengan puasa. Selain itu syarat/cara mengamalkannya pun sangat mudah yaitu:

  1. Mandi keramas/jinabat untuk membersihkan diri dari segala macam kekotor.
  2. Menjaga Hawa Nafsu
  3. Baca mantra lambang karang ini sebanyak 7 kali setelah shalat 5 waktu:yaitu bissmillahirahmanirahim,cempla-cempli ghendene, Wetengku saciplukan bajang
    Gorokanku sak dami aking
    Kapan ingsun nuruti budine
    Aluamah kudu amangan wareg
    Ngungakna mekkah madinah
    Wareg tanpa mangan
    Kapan ingsun nuruti budine
    Aluamah kudu angombe
    Ngungakna segara kidul
    Wareg tanpa angombe
    Laailahaillallah Muhammad Ra

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Membahas mengenai epistemologi mistik, berarti berusaha mencari tahu bagaimana sejarah munculnya mistik dan bagaimana memperoleh keyakinan mistik tersebut. Sebagaimana dijelaskan mengenai hakekat mistik yang gaib, maka alat yang dapat digunakan untuk mengeahui mistik ini diantaranya adalah rasa, hati dan keyakinan seseorang. Jadi tidak melalui indera atau pun rasio atau akal manusia.

Adapun yang menjadi obyek dari mistik tersebut merupakan obyek yang gaib, kasat mata dan supra rasional, maka cara memperolehnya pun sering kali tidak menggunakan akal rasional. Mistik dapat diperkenalkan sebagai suatu bentuk dari intuisiDijelaskan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam pejabaran-penjabaran mistik memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung yang mengatasi pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan indra. Pengetahuan mistik telah diberi definisi sebagai kondisi orang yang amat sadar tentang kehadiran yang Maha riil. (Hubungan aku dengan tuhan / Kesadaran Kosmis)

 

Berikut ini beberapa cara yang dimungkinkan masuknya keyakinan mistik kepada seseorang :

– Apabila seseorang mengalami guncangan psikis, seperti perasaan tersingkir, hilangannya pegangan hidup maupun teringkari, maka dapat secara mudah gerakan kultus yang fanatik, eksklusif dan tak jarang anti sosial dapat masuk. Artinya tanpa adanya pegangan hidup, maka mistik dalam bentuk kultus dapat masuk ke diri seseorang.

– Dapat juga dengan melakukan meditasi dan pendalaman suatu aliran kebatinan yang hanya menyatakan diri berhubungan langsung dengan tuhan tanpa memiliki syarat atau aturan tertentu

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amien Jaiz, Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan (PT Alma’arif, Bandung, Cetakan 1980)
  2. Soleh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hal. 145,149,143)
  3. Chitick, William C. “Ibn Arabi” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (eds.). 2003. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, Buku Pertama. (hal. 622)
  4. http://www.google.com

 

« Older entries