FILSAFAT ILMU (MISTIK)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1)    Latar Belakang

Kata “mistik”, menurut de Jong, seperti juga kata “misteri”berasal dari kata kerja yunani”mu-ein” yang ,mempunyai dua arti. Arti pertama adalah menutup mata dan mulut, dan arti kedua adalah mengantarkan seseorang kedalam rahasia lewat upacara. Pada awal penggunaannya di barat pada abad ke-5 kata”mystical”menunjukan suatu corak teologiyang hanya mengindahkan pendekatan yang melampaui akal dan pengalaman manusia. Pada pendekatan etimologis ini tampak bahwa mistik tak akrab dengan corak berfikir analitis akali yang menjadi watak ilmu pengetahuan. Berdasarkan pada uraian mengenai refleksi budaya serta mistik di atas maka dapat disimpulkan bahwa refleksi budaya mistik adalah upaya untuk melihat sisi mistik(misteri)terhadap suatu obyek. Dan karena obyek penelitian ini adalah film kuntilanak.

  1. B.   Rumusan Masalah
  2. Bagaimana hubungan filsafat ilmu dengan mistik?
  3. Mistik apa saja yang masih digunakan oleh masyarakat?
  4. Apa pemahaman masyarakat terhadap mistik?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. 1.      DEFINISI MISTIK

Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.

Beberapa pendapat tentang paham misitk atau mistisisme :

  • Kepercayaan tentang adanya kontak antara manusia bumi (aardse mens) dan tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan tentang persatuan mesra (innige vereneging) ruh manusia (ziel) dengan Tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan kepada suatu kemungkinan terjadinya persatuan langsung (onmiddelijke vereneging) manusia dengan Dzat Ketuhanan (goddelijke wezen) dan perjuangan bergairah kepada persatuan itu (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).
  • Kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia (geheimnissen) dan hal-hal yang tersembunyi (verborgenheden). (J. Kramers. Jz).
  • Kecenderungan hati (neiging) kepada kepercayaan yang menakjubkan (wondergeloof) atau kepada ilmu yang rahasia (geheime wetenschap). (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).

Selain diperolehnya definisi, pendapat-pendapat tentang paham mistik diatas berdasarkan materi ajarannya juga memberikan adanya pemilahan antara paham mistik keagamaan (terkait dengan tuhan dan ketuhanan) dan paham mistik non-keagamaan (tidak terkait dengan tuhan ataupun ketuhaan).

  1. 2.      Ajaran dan Sumbernya

a)      Subyektif

Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obeyktif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya.

Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap memiliki keistimewaan pribadi yang disebut kharisma. Anggapan adanya keistimewaan ini dapat disebabkan oleh :

  1. Pernah melakukan kegiatan yang istimewa.
  2. Pernah mengatasi kesulitan, penderitaan, bencana atau bahaya yang mengancam dirinya apalagi masyarakat umum.
  3. Masih keturunan atau ada hubungan darah, bekas murid atau kawan dengan atau dari orang yang memiliki kharisma.
  4. Pernah meramalkan dengan tepat suatu kejadian besar/penting.

Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yang diajarkannya itu biasanya melalui petualangan batin, pengasingan diri, bertapa, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi tokoh itu sendiri dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain.Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah di antara kita ada yang menyebutnya paham, ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer).

Mengingat pengajarannya tidak mungkin dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham mistik mudah memunculkan cabang baru menjadi aliran-aliran baru sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau juga sebaliknya mudah timbul penggabungan atau percampuran ajaran paham-paham yang telah ada sebelumnya.Karena serba mistik maka paham mistik atau kelompok penganut paham mistik tidak terlalu sulit digunakan oleh orang-orang yang ada tujuan tertentu dan yang perlu dirahasiakan karena menyalahi atau bertentangan dengan opini umum atau hukum yang berlaku sebagai tempat sembunyi.

  1. 3.     Abstrak dan Spekulatif

Materinya serba abstrak artinya tidak konkrit, misal tentang tuhan (paham mistik ketuhanan), tentang keruhanian atau kejiwaan, alam di balik alam dunia dll (paham mistik non-keagamaan). Dengan demikian pembicaraannya serba spekulatif, yaitu serba menduga-duga, mencari-cari, memungkin-mungkinkan dll (tidak komputatif). Pembicaraannya serba berpanjang-panjang, serba berlebih-lebihan dalam arti melebihi kewajaran atau melebihi pengetahuan dan pengertiannya sendiri (meski sudah mengakui tidak tahu, masih mencoba memungkin-mungkinkan). Oleh karena itu di kalangan penganut paham mistik tidak dikenal pembahasan disiplin mengenai ajarannya sebagaimana yang berlaku dalam diskusi atau munaqasyah.

  1. 4.      Sebab orang menganut paham mistik
  1. Kurang puas yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada tuhan menurut ajaran agamanya yang ada saja.
  2. Rasa kecewa yang berlebihan, Orang yang hidupnya kurang bersungguh-sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia di bidang science dan teknologi yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup. Malah mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka ‘lari’ dari kehidupan modern menuju ke kehidupan yang serba subyektif, abstrak dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.
  3. Mencari hakekat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakekat hidup sebenarnya juga ada yang terjebak bahwa kebenaran hanya akan didapat dari pengalaman mistiknya.

Di antara mereka masih ada yang berusaha merasionalkan ajaran paham mistik yang dianutnya, dan ada pula yang tegas-tegas lepas sama sekali dari tuntutan kemajuan zaman ini.

FILSAFAT MISTIS IBN ARABI

  1. ESSENSI DAN EKSISTENSI

Hubungan antara Eksistensi dan Essensi menurut Ibn Arabi adalah bahwa eksistensi merupakan wujud dari essensi. Segala sesuatu bisa dikatakan eksis, wujud, atau ada jika termanifestasikan ke dalam tahapan wujud (marathib al wujud), yang menurutnya pula terdiri empat hal:

  1. Eksis dalam wujud sesuatu (wujud al syai’ fi ainih), artinya sesuatu ada dalam dirinya sendiri atau secara dzatnya benar-benar wujud.
  1. Eksis dalam pikiran (wujud al syai’ fi al ‘ilm), yaitu sesuatu muncul dalam pikiran meskipun hanya sekedar konsep atau secara mudahnya terbayang dan terangan-angan. Sesuatu itu muncul secara nyata dalam pikiran dan tidak dapat dinafikan tentang keberadaannya.
  2. Eksis dalam ucapan (wujud al syai’ fi al alfazh), mengandung makna bawasannya adanya sesuatu keluar melalui lisan dalam betuk ucapan. Sesuatu itu dapat dibicarakan dan dibincangkan bahkan dapat diperdebatkan, tapi meskipun kemunculannya – taruhlah – hanya sekedar dalam satu kata dan satu kali ucapan, sudah cukup mewakili status sesuatu itu telah mencapai tahapan wujud dalam ucapan.
    1. Eksis dalam tulisan (wujud al syai’ fi ruqum), juga tidak jauh bermakna eksis dalam ucapan. Maksudnya, hampir bisa dikatakan bawasannya ketika sesuatu itu bisa diaktualisasikan dalam ucapan – yang berari bisa dibahasakan – maka sesuatu itu pun bisa diaktualisasikan dalam tulisan. Ketika sesuatu itu telah muncul dalam tulisan di situlah sesuatu eksis dalam tulisan.

Maujudnya sesuatu ke dalam salah satu dari keempat hal tersebut sudah cukup memberikan status bahwa sesuatu itu eksis, karena dengan salah satu dari empat hal tersebut sesuatu bisa dibicarakan, dibahas, dan sekaligus menjadi bahan kajian.

Semua yang wujud dalam artian punya eksistensi – bagi Ibn Arabi dalam perspektif ontologis – terbagi dalam dua bagian, yaitu Wujud Mutlak dan Wujud Nisbi. Wujud Mutlak merupakan istilah lain dari Tuhan, yang tidak bisa didefinisikan tentang pengertiannya, karena Ia merupakan Dzat yang tidak mempunyai batas dalam semua hal. Segala sesuatu yang dapat didefinisikan berarti itu terbatas, sehingga Tuhan hanya dapat disifati tapi tidak bisa didefinisikan. Segala uraian tentang-Nya adalah kebohongan, pengkerdilan, dan pembatasan. Sedangkan Wujud Nisbi adalah sesuatu yang eksistensinya terjadi oleh dan untuk wujud lain (Tuhan). Dalam kata lain segala sesuatu yang selain Tuhan. Wujud Nisbi ini mempunyai dua bagian, yaitu wujud bebas (dzat1) dan wujud bergantung (a’radh2). Wujud bebas berupa substansi-substansi yang juga terbagi menjadi material dan spiritual. Sedangkan wujud bergantung berupa atribut-atribut, kejadian-kejadian, dan hubungan-hubungan yang berifat spesial dan temporal.

Namun dalam wujud nisbi pun tidak sepenuhnya entitas temporal (terbatas ruang dan waktu), tapi juga entitas permanen (al a’yan al tsabitah)3. Wujud nisbi yang teraktualisasikan sebagi alam dalam semua keadaan, tidak pernah meninggalkan kepermanenannya dan ketidakberubahannya, melainkan selamanya ada dalam ilmu Tuhan yang kekal dalam kebesaran-Nya.

 

 

Dari sinilah tampak jelas adanya paradoks antara entitas-entitas dalam ilmu Tuhan dengan entitas semesta, karena pada hakikatnya entitas-entitas dalam ilmu Tuhan bebas dari ruang dan waktu, tidak berwujud konkrit. Sedangkan dalam entitas semesta (alam) berwujud konkret dan terikat ruang dan waktu.

 

 

  1. A.   Hubungan Filsafat Ilmu Dengan mistik dalam kebudayaan Hukum Indonesia

Kebudayaan mempengaruhi hukum dalam masyarakat, mistik sebagai pengetahuan yang mempengaruhi pola fikir manusia pada akhirnya akan muncul dalam bentuk budaya proses kebudayaan mempengaruhi hukum menjadi budaya hukum.secara filosofis keberadaan mistik dalam budaya hukum dapat dilihat dari 3 aspek yaitu:

  • Aspek ontologis
  • Aspek epistemologis
  • Aspek aksiologis

Persoalannya menjadi pelik,apabila mistik budaya hukum, terlalu dominan sehingga telah menjadi pola fikir masyarakat,seperti dalam menentukan pada pilihan umum, atau wakil rakyat dalam menentukan ketentuan hukum apa yang diatur,oleh karena itu kenbenaran mistik sebagai suatu budaya hukum harus ditmpatkan pada posisi yang tepat serta harus di sertai dengan upaya pembuktian hukum yang tepat jika akan menjadi bagaian ketentuan tertulis, seperti pengaturan mengenai santet dalam KUH Pidana.

 

Menurut Koencaraningrat, kebudayaan tersebut paling sedikit memiliki 3 (tiga) wujud.:

  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide,gagasan,nilai-nilai,norma-norma,peraturan dsb.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda dalam karya manusia.

 

 

 

 

  1. Proses munculnya mistik dikaitkan dengan budaya hukum

Membahas mengenai epistemologi mistik, berarti berusaha mencari tahu bagaimana sejarah munculnya mistik dan bagaimana memperoleh keyakinan mistik tersebut. Sebagaimana dijelaskan mengenai hakekat mistik yang gaib, maka alat yang dapat digunakan untuk mengeahui mistik ini diantaranya adalah rasa, hati dan keyakinan seseorang. Jadi tidak melalui indera atau pun rasio atau akal manusia.

Adapun yang menjadi obyek dari mistik tersebut merupakan obyek yang gaib, kasat mata dan supra rasional, maka cara memperolehnya pun sering kali tidak menggunakan akal rasional. Mistik dapat diperkenalkan sebagai suatu bentuk dari intuisiDijelaskan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam pejabaran-penjabaran mistik memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung yang mengatasi pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan indra. Pengetahuan mistik telah diberi definisi sebagai kondisi orang yang amat sadar tentang kehadiran yang Maha riil. (Hubungan aku dengan tuhan / Kesadaran Kosmis)

 

Berikut ini beberapa cara yang dimungkinkan masuknya keyakinan mistik kepada seseorang :

– Apabila seseorang mengalami guncangan psikis, seperti perasaan tersingkir, hilangannya pegangan hidup maupun teringkari, maka dapat secara mudah gerakan kultus yang fanatik, eksklusif dan tak jarang anti sosial dapat masuk. Artinya tanpa adanya pegangan hidup, maka mistik dalam bentuk kultus dapat masuk ke diri seseorang.

– Dapat juga dengan melakukan meditasi dan pendalaman suatu aliran kebatinan yang hanya menyatakan diri berhubungan langsung dengan tuhan tanpa memiliki syarat atau aturan tertentu

WAHDAT AL WUJUD

Dengan pemahaman seperti ini, bagi Ibn Arabi, seluruh realitas yang beragam sejatinya hanya satu, yaitu Tuhan sebagai satu-satunya realitas dan realitas yang sesungguhnya. Ibn Arabi mengartikan alam sebagai Tuhan dan sekaligus bukan Tuhan, temporal sekaligus abadi, nisbi sekaligus permanen. Alam adalah bentuk eksistensi sifat-sifat Tuhan yang termanifestasikan ke dalam kosmos, sehingga segala yang ada di dalamnya adalah entifikasi-Nya. Sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al hadhrah al ilahiyyah), yaitu wujud yang serba meliputi yang ditunjukkan oleh kata “Allah”.4 Dua keadaan yang paradoksal ini terkumpul dalam realitas alam yang oleh Ibn Arabi dinyatakan dengan mengguakan prinsip al Jam’u bayn al Addad (kesatuan diantara pertentangan-pertentangan), atau dalam filsafat Barat dikenal dengan coincidentia oppositorum.5

Dalam usahanya untuk menjelaskan hubungan ontologis Tuhan dan alam, Ibn Arabi menyimbolkannya dengan cermin. Pertama, untuk menjelaskan tentang penciptaan alam. Penciptaan ini merupakan bentuk penampakan Tuhan. Kedua, untuk menjelaskan hubungan Yang Satu dengan yang banyak, diibaratkan Tuhan bercermin dengan bermacam model dan bentuk cermin sehingga muncul gambar yang banyak dan beragam.

Oleh karena itu, bagi Ibn Arabi, tidak ada jalan lain untuk bisa memahami realitas wujud yang hakiki kecuali dengan menyelami secara langsung lewat penghayatan dalam mistik. Pengetahuan intuitif yang diperoleh lewat penghayatan mistik inilah pengetahuan yang sebenarnya, yang paling unggul, dan yang terpercaya.6 Untuk bisa mencapai semua itu seseorang sufistik harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu untuk menghadap Allah denga penuh cinta dan rindu. Ada lima tahapan yang harus dilalui dalam proses pembersihan jiwa tersebut, yaitu:

  1. Membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan, kemudian mengisi amalan-amalan dengan perbuatan baik.
  1. Zuhud, menghentikan pemandangan terhadap aspek fenomena dunia, dan kesadaran terhadap aspek nyata yang menjadi dasar fenomenanya.
  2. Menjauhkan diri dari segala atribut dan segala kualitas wujud kontingen dengan kesadaran bahwa semua itu adalah milik Allah semata.
  3. Menghilangkan semua yang selain Allah, tapi tidak pada tindakan itu sendiri. Di sinilah seseorang yang sedang melakukannya, kehilangan kesadaran dirinya sebagai orang yang memandang.
  4. Memandang Allah lebih sebagai essensi daripada Sebab Pertama dari realitas semesta.

Jikalau seseorang sudah bisa mencapai pada tingkatan tertinggi dan telah menyatu dengan – sifat-sifat, asma-asma, dan bayangan, bukan pada Dzat – Allah, ia akan memperoleh pengetahuan secara langsung dari Allah dalam bentuk ilham. Pengetahuan tersebut tampak memancar dari Allah dalam batinnya. Seperti halnya yang terjadi pada diri Ibn Arabi sendiri. Rujukan-rujukan dari para tokoh sebelumnya hanya digunakan untuk menerangkan dan mengibaratkan pengalaman-pengalaman batinnya. Hal ini diperkuat oleh bukti dan peryataan bahwa Ibn Arabi tidak terpaku pada salah satu tokoh.

Pada tingkatan tersebut kesempurnaan sebagai paduan seimbang antara penegasan ketakserupaan (tanzih) Allah dan penegasan keserupaan (tasybih)-Nya. Dari segi tasybih, Allah sama dengan alam, karena alam tidak lain perwujudan dan aktualisasi sifat-sifat-Nya. Sedangkan dari segi tanzih, Allah berbeda dengan alam, karena alam terikat oleh ruang dan waktu, dan Allah bersifat Absolut dan mutlak. Antra tanzih dan tasybih berhubungan langsung dengan epistemologinya. Akal diciptakan untuk memahami dan menetapkan perbedaan dan kergaman sehingga bisa berpikir abstrak. Akan tetapi ini sangat dipengaruhi sifat bawaan modus pemahaman rasional yang inheren, menjaga jarak dengan Allah dengan menegaskan tanzih dan menolak tasybih.

 

 

 

Macam-Macam Mistik Puasa( Ala kejawen)

  1. Mutih

Dalam puasa mutih ini seseorang tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja.nasi putihnya pun tidak ditambah oleh apa-apa lagi(seperti gula,garam dll) sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku harus melakukan keramas dulu sebelum membaca mantra ini.: “niat ingsun mutih”mutihaken awak,kang reged putih kaya bocah mentes lahir dia pun ijabahi ku gusti allah.

  1. Puasa Ngeruh

Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran/buah-buahan saja, tidak diperbolehkan memakan daging,ikan dan telur.

  1. Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktivitas normal sehari-hari, seseorang yang melakoni puasa ngbleng tidak boleh makan,minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktivitas seksual. Waktu tidurpun harus dikurangi. Biasanya yang melakukan puasa ngbleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam(24 jam) pada saat malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahayapun yang menerangi kamar tersebut. kamarny harus gelap gulita tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
  2. Puasa Patigeni

Hampir sama dengan puasa ngbleng, tetapi ada perbedaan tidak boleh keluar kamar Alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekalipun. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada yang melakukan 3 hari, 7 hari dsb.jika seseorang melakukan puasa patigeni ingin buang air, maka buang airnya harus di dalam kamar(dengan melakukan pispot dan yg lainnya).ini adalah mantra patigeni “niat ingsun patigeni,amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni napsu angkara.

 

  1. Puasa Ngelowong

Dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu, hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja dalam 24 jam diperbolehkan keluar rumah.

 

 

  1. Puasa Ngrowot

Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh samapi magrib, saat sahur seseorang yang melakukan puasa ngrowot ini hanya makan buah-buahan saja.misalnya pisang 3 buah saja,dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur. Dan masih banyak lagi puasa-puasa lainnya yang berhubungan dengan mistik.

 

Dalam melakoni puasa-puasa di atas, bagi pemula sangatlah berat jika belum terbiasa, oleh karena itu disini akan dibekali dengan ilmu lambung karang, ilmu ini berfungsi  membantu menahan lapar dan dahaga.dengan kata lain ilmu ini akan membantu bagi orang-orang yang masih ragu-ragu dalam melakoni puasa di atas,selain praktis dan mudah di pelajari, sebenarnya ilmu lambung karang ini berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya yang kebanyakan harus ditebus/dimarahi dengan puasa. Selain itu syarat/cara mengamalkannya pun sangat mudah yaitu:

  1. Mandi keramas/jinabat untuk membersihkan diri dari segala macam kekotor.
  2. Menjaga Hawa Nafsu
  3. Baca mantra lambang karang ini sebanyak 7 kali setelah shalat 5 waktu:yaitu bissmillahirahmanirahim,cempla-cempli ghendene, Wetengku saciplukan bajang
    Gorokanku sak dami aking
    Kapan ingsun nuruti budine
    Aluamah kudu amangan wareg
    Ngungakna mekkah madinah
    Wareg tanpa mangan
    Kapan ingsun nuruti budine
    Aluamah kudu angombe
    Ngungakna segara kidul
    Wareg tanpa angombe
    Laailahaillallah Muhammad Ra

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Membahas mengenai epistemologi mistik, berarti berusaha mencari tahu bagaimana sejarah munculnya mistik dan bagaimana memperoleh keyakinan mistik tersebut. Sebagaimana dijelaskan mengenai hakekat mistik yang gaib, maka alat yang dapat digunakan untuk mengeahui mistik ini diantaranya adalah rasa, hati dan keyakinan seseorang. Jadi tidak melalui indera atau pun rasio atau akal manusia.

Adapun yang menjadi obyek dari mistik tersebut merupakan obyek yang gaib, kasat mata dan supra rasional, maka cara memperolehnya pun sering kali tidak menggunakan akal rasional. Mistik dapat diperkenalkan sebagai suatu bentuk dari intuisiDijelaskan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam pejabaran-penjabaran mistik memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung yang mengatasi pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan indra. Pengetahuan mistik telah diberi definisi sebagai kondisi orang yang amat sadar tentang kehadiran yang Maha riil. (Hubungan aku dengan tuhan / Kesadaran Kosmis)

 

Berikut ini beberapa cara yang dimungkinkan masuknya keyakinan mistik kepada seseorang :

– Apabila seseorang mengalami guncangan psikis, seperti perasaan tersingkir, hilangannya pegangan hidup maupun teringkari, maka dapat secara mudah gerakan kultus yang fanatik, eksklusif dan tak jarang anti sosial dapat masuk. Artinya tanpa adanya pegangan hidup, maka mistik dalam bentuk kultus dapat masuk ke diri seseorang.

– Dapat juga dengan melakukan meditasi dan pendalaman suatu aliran kebatinan yang hanya menyatakan diri berhubungan langsung dengan tuhan tanpa memiliki syarat atau aturan tertentu

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Amien Jaiz, Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan (PT Alma’arif, Bandung, Cetakan 1980)
  2. Soleh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hal. 145,149,143)
  3. Chitick, William C. “Ibn Arabi” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (eds.). 2003. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, Buku Pertama. (hal. 622)
  4. http://www.google.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: