penelitian nanas subang dan KB

BAB I

Pendahuluan

A. Latar belakang masalah

Di Subang sebagian besar penduduknya yang telah beruasia diatas 40 tahun hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, sehingga untuk menggerakan perekonomian rakyat perlu ditunjang dengan keterampilan. Untuk meningkatkan pembangunan saat ini lebih ditekankan pada generasi dibawah 40 tahun. 10 % warga Subang berada diluar subang untuk sekolah dan bekerja. Kondisi ini memberikan kontribusi negatif terhadap kota Subang sendiri, disebabkan masyarakat subang yang masih dalam kategori usia produkif lebih memilih sekolah dan bekerja ke luar kawasan subang.pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan hakikatnya sudah dirintis oleh pihak Pemda, namun kendala fasilitas penunjang demi kelancaran aktivitas pendidikan dipandang masih belum memadai. perlunya keterlibatan dari semua pihak, agar pendidikan di kota Subang bisa terselenggara dengan baik, yang tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi kabupaten Subang secara keseluruhan

B. rumusan masalah

  1. Potensi masyarakat jalancagak?
  2. Dimanakah letak Kecamatan Jalan Cagak?
  3. Mengapa Masyarakat Jalan Cagak memilih menjadi pedagang nanas?
  4. Kehidupan Pedagang nanas di Jalan Cagak?
  5. Nanas mengangkat daerah Subang dan “Indonesia” dan Apakah penghasilanya itu mencukupi kebutuhan hidup nya.?
  6. Keluarga berencana di jalancagak?

C. Tujuan penilitian

  1. Teridentifikasinya ketahanan keluarga berencana, ekonomi.
  2. Untuk mengatahui perekonomian di  kecamatan jalan cagak
  3. Untuk mendapatkan informasi.

 

 

D. Metode penilitian

  1. Metode pendekatan

Metode yang di pakai untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi, sehingga kami pun mulai menentukan subjek mana yang harus kami butuhkan informasinya sehingga kami mendapatkan beberapa “informan” yang menurut kami pangkal yang dapat memberikan kepada kami petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan, yaitu mereka yang pedagang pertama yang berjualan nanas di pinggiran jalan Kecamatan Jalan Cagak.

  1. Lokasi penilitian

Penelitian ini di laksanakan di kecamatan jalan cagak kabupaten subang, jawa barat. Penelitian ini berlangsung sekitar  satu minggu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. Potensi masyarakat jalan cagak

Jalancagak adalah wilayah yang bisa dikatakan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Subang sebelah selatan, karena letaknya sebagai pintu masuk kedua setelah Kecamatan Ciater dari arah Kabupaten Bandung Barat maka Kecamatan Jalancagak dianggap sangat strategis dalam aspek ekonomi. Administratif pemerintahan Kecamatan Jalancagak dibantu oleh 7 Desa  dengan luas wilayah secara keseluruhan adalah  3.844.364 M2 hak milik,  dan 312.877 M2 hak guna bangunan dengan 110.555 orang dengan komposisi 55.806 orang laki-laki dan 54.749 orang perempuan, dengan kepadatan rata-rata sebesar 2.047,31 Km2.

Jumlah penduduk yang besar merupakan modal dalam pelaksanaan pembangunan daerah, kerena dukungan dan peran aktif dari penduduk sangat dibutuhkan. Sehubungan dengan hal itu maka pertumbuhan dan perkembangan penduduk harus senantiasa diperhatikan yang nantinya diharapkan mampu bertindak sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif.

Jalancagak berdasarkan data yang dihimpun dari penelitian yang dilakukan sebagian besar (mayoritas) penduduknya dalam memenuhi kesejahteraan hidup diri sendiri dan keluarganya bersumber pada sektor usaha pertanian, perdagangan, industri kecil, dan disamping sebagian penduduk bekerja sebagai PNS. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa lapangan kerja sektor jasa di kecamatan ini terlihat cukup signifikan kontribusinya dalam menyerap pekerja yang tercipta.

Apabila menengok kebelakang dari seluruh pekerja yang ada di Kecamatan Jalancagak ini lebih dari separuhnya adalah terserap oleh sektor pertanian. Kemudian keduanya diikuti oleh sektor jasa, selebihnya bekerja di sektor agrikultur. Kondisi tersebut telah mengalami pergeseran mengikuti perkembangan pembangunan dimana sektor agrikultur mulai ditinggalkan sesuai dengan perubahan fungsi tanah dan berkembang menjadi perumahan. Sektor jasa perdagangan berkembang dengan mengikuti pertumbuhan fungsi lahan pemukiman menjadi tempat usaha yang strategis, hal ini didukung oleh regulasi kebijakan di bidang perdagangan dimana pemerintah menyediakan kemudahan perijinan usaha.

Proses pergeseran struktur pekerja menurut status pekerjaan terjadi sejalan dengan kenaikan skala unit usaha. Pertama, adanya kenaikan permintaan masyarakat terhadap barang dan  jasa serta perbaikan sarana dan prasarana perhubungan (transportasi). Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi biasanya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga meningkat. Begitu juga, jika sarana dan prasarana transportasi semakin baik yang berdampak terhadap jangkauan pemasaran dari tiap-tiap unit usaha menjadi luas, akibatnya skala pada unit usaha cenderung mengalami peningkatan. Kedua, adanya perubahan struktur produksi dengan sektor yang sensitif terhadap skala perekonomian.

 

  1. Dimanakah letak kecamatan jalan cagak

 

Kecamatan Jalan Cagak terletak di Kabupaten Subang, yaitu salah satu wilayah penghasil nanas dan juga menjadi tempat penjualan nanas. Untuk bisa menikmati atau melihat hamparan kebun nanas, tengoklah Kabupaten Subang, sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Jalancagak, selain dari Kecamatan Jalan Cagak terdapat di Kecamatan Cijambe, atau di Cisalak. Ratusan hektar tanaman “Ananas comosus” ini terhampar luas.

“SUBANG memang sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nanas paling besar di daratan Jawa Barat karena memiliki areal yang ditanami komoditas nanas cukup luas. Tiga tahun lalu, luas panen komoditas nanas tercatat mencapai 48.629.278 pohon dengan produksi sekitar 689.151 kuintal.

Nanas yang merupakan tanaman asal Amerika dan masuk ke Indonesia awalnya dikenal sebagai tanaman pekarangan, ternyata cukup luas pengaruhnya di masyarakat Subang. Sejumlah wilayah di Subang dikenal sebagai sentra penghasil tanaman nanas antara lain, Jalancagak, Cijambe, Tambakan, dan sekitarnya”.

Wilayah ini merupakan kawasan pegunungan yang ditanami teh sehingga sepanjang kecamatan Jalan Cagak sampai Ciater dipenuhi oleh perkebunan teh seperti PT.Perkebunan Nusantara VIII sebagai BUMN Indonesia. Dalam mengenali dan menemukan kecamatan Jalan Cagak ini sangatlah mudah karena memiliki ciri yang khas yaitu, terdapatnya patung nanas di jalan antara ke Bandung, Subang, dan Sumedang sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung yang kami jadikan sebagai kajian sejarah lokal, yang dimaksud dengan ‘sejarah lokal’ berarti sejarah yang terjadi dalam lokalitas yang merupakan bagian dari unit sejarah bangsa atau lebih tepat, negara” Mulyana dan Gunawan (2007: 17). Dijelaskan pula oleh Abdulloh mengenai lokal disini bahwa: “Pengertian kata lokal tidak berbeli-belit, hanyalah ‘tempat, ruang’. Jadi ‘sejarah lokal’ hanyalah berarti sejarah dari suatu ‘tempat’, suatu ‘locality’, yang batasannya ditentukan oleh ‘perjanjian’ yang diajukan penulis sejarah” (2005: 15). Mengapa penulisan disini mengenai “Buah Nanas sebagai Komoditas Dagang Masyarakat Jalan Cagak dalam Menunjang Perekonomian Keluarga” kami jadikan sebagai kajian sejarah local, Karena kajian kami disini menunjukan lokalitas tertentu.

  1. Mengapa Masyarakat Jalan Cagak memilih menjadi pedagang nanas.

Suasana dalam perjalanan Bandung-Subang seorang penumpang kendaraan baik itu kedaraan umum atau pribadi seperti mobil maupun motor pasti akan melihat banyaknya para pedagang nanas yang sedang memajangkan dagangan nanasnya di pinggiran jalan dengan saung (kios) berukuran 5m x 3m ditempat-tempat yang mereka anggap ramai dan strategis seperti tempat pariwisata, perapatan, bahkan depan kampus UPI sekalipun. Siapa sangka fenomena maraknya pedagang nanas itu berawal dari kecamatan ke-27 dari kabupaten Subang yaitu kecamatan Jalan Cagak yang masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang nanas di pinggiran jalan raya Bandung-Subang. Hal tersebut disebabkan karena luasnya perkebunan nanas di kecamatan tersebut, sehingga buah nanas ini menjadi komoditi perdagangan buah utama di kecamatan tersebut karena selain nanas terdapat pula buah “manggu” (manggis), “pisitan”, “duku”, “durian” dan “salak” namun buah-buahan ini hanya ada pada musim-musim tertentu tidak seperti buah nanas yang selalu ada menjadi penghias sepanjang jalan kecamatan Jalan Cagak.

Menurut Koentjaraningrat, metode wawancara dalam rangkan penelitian masyarakat ada dua macam wawancara yang pada dasarnya berbeda sifatnya, bahwa:

  • wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi,
  • wawancara untuk mendapatkan keterangan tentang diri pribadi, pendirian dan pandangan dari individu yang diwawancara, untuk keperluan komparatif.” (1977: 163)

Selain itu menurutnya juga dijelaskan mengenai. “siapakah yang memiliki keahlian yang terbaik mengenai hal yang ingin kita ketahui, tanpa banyak harus coba-coba dahulu, adalah suatu hal yang tak mudah. Dalam suatu masyarakat yang baru, tentu kita harus memulai dari keterangan seorang informan pangkal yang dapat memberikan kepada kita petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan”. Koenjaraningrat (1977: 163-164)

Dalam metode wawancara yang kami gunakan adalah ) wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi, sehingga kami pun mulai menentukan subjek mana yang harus kami butuhkan informasinya sehingga kami mendapatkan beberapa “informan” yang menurut kami pangkal yang dapat memberikan kepada kami petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan, yaitu mereka yang pedagang pertama yang berjualan nanas di pinggiran jalan Kecamatan Jalan Cagak.

Kecamatan Jalan Cagak merupakan kecamatan yang memproduksi buah nanas terbanyak karena terhampar luas perkebunan milik warga di kecamatan tersebut. “Pusat pembudidayaan nanas terbesar berada di Kecamatan Jalancagak, seluas 2.592 hektar, dengan lahan yang berpotensi hanya 100 hektar. Selain itu, ada Kecamatan Cisalak yang luas kebun nanasnya 137 hektar dan Cijambe seluas 38 hektar”.

Setiap tahun Subang menghasilkan tidak kurang 59.000 ton nanas. Sentra produksi buah yang kulitnya bersusun sisik ini di Kecamatan Jalancagak. Tetapi, tidak semua nanas yang dihasilkan adalah nanas “Si Madu” yang kondang ke seluruh negeri. Nanas jenis ini terkenal karena berair banyak dan mempunyai rasa manis tanpa rasa getir dan tidak menyebabkan gatal di kerongkongan.

Buah yang memiliki berat antara 3-3,5 kilogram ini menjadi istimewa karena tidak mudah ditemukan. Sama seperti satu atau dua kelapa muda kopyor yang ditemukan dalam rimbunan buah kelapa, sebutir atau dua butir nanas madu mungkin bisa ditemukan dalam satu kuintal nanas. Itu sebabnya tidak mudah bagi yang ingin mencicipi buah itu menemukannya dalam deretan kios penjual nanas yang bertebaran di sepanjang jalan di Kecamatan Jalancagak.

Sedangkan dalam pemasarannya seorang produsen tidak dapat melakukannya secara langsung jika jarak antara produsen dengan konsumen berjauhan, oleh karena itu menurut  Abdulloh, “diperlukan adanya usaha-usaha untuk menyampaikannya kepada konsumen. Usaha-usaha untuk menyampaikan barang-barang dari produsen ke konsumen tersebut. Oleh karena itu disini terdapat peranan para pedagang yang dapat berhubungan langsung baik itu dengan produsen maupun konsumen, melihat dengan potensi daerah yang dihasilkan melimpah ruah mengenai buah nanas hal itulah yang kemudian membuat masyarakat Kecamatan Jalan Cagak khususnya yang mempunyai rumah di pinggir jalan raya lebih memilih menjadi pedagang nanas, karena selain letaknya yang sangat strategis juga keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan nanas cukup besar dalam menyokong ekonomi keluarga.

Menurut Pak Edi “Tradisi ketika orang tua sudah berhenti dilanjutkan oleh anaknya” atau dalam ilmu sosiologi dikenal sebagai mobilitas generasi yang menurut pemahaman kami merupakan suatu kegiatan atau status sosial yang tidak ada perubahan dalam bidang profesi dari orang tua yang diwariskan kepada anaknya yang memiliki pekerjaan yang sama. Seperti orang tua Pak Edi kepadanya. Namun berbeda dengan Ibu Maryati anaknya menjadi guru dan ada pula yang menjadi pengusaha di Jakarta serta anaknya yang bungsu masih duduk di bangku kuliah Akademi Keperawatan Subang dan Pak Yanto yang anaknya masih kuliah di Universitas Pasundan.

  1. Kehidupan Pedagang nanas di Jalan Cagak.

Bagaimana mungkin seorang pedagang nanas yang dagangannya berukuran 5m x 3m bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Perguruan Tinggi, namun itu memang benar-benar terjadi faktanya seorang ibu rumah tangga yang profesi kesehariannya sebagai pedagang nanas bisa menyekolahkan ke-lima anaknya sampai bangku kuliah yaitu, Ibu Maryati selain Ibu Mayati juga ada bapak Yanto yang anaknya kini Kuliah di Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Kota Bandung, untuk mendapatkan informasi ini kami menggunakan wawancara dengan metode penggunaan data pengalaman individu dalam ilmu sejarah dikenal sebagai “human document” yang dijelaskan Koentjaraningrat bahwa:

“Guna dari data semacam itu dalam hal melakukan penelitian terhadap suatu masyarakat yang bersangkutan adalah bahwa si peneliti itu dapat memperoleh suatu pandangan dari dalam, melalui reaksi, tanggapan, interpretasi, dan penglihatan para warga terhadap dan mengenai masyarakat yang bersangkutan”. (1977: 197)

Disamping mempelajari data pengalaman individu sebagai bagian dari realitas gejala sosial, kami juga mempelajari hal itu untuk memperdalam pengertiannya mengenai detail yang tak akan dapat dicapai dengan metode lain. Adapun mengenai tujuan ini kami menggunakan ilmu bantu diantaranya sosiologi dan ekonomi untuk mengetahui data pengalaman individu yang penting bagi kami, untuk memperoleh pandangan dari dalam mengenai gejala-gejala sosial dalam suatu masyarakat melalui pandangan dari masyarakat yang bersangkutan.

Berdasarkan dari hasil pengamatan dilapangan nampaknya para pedagang nanas ini mencukupi kehidupan keluarga bahkan lebih dari itu, sebagaimana diakui oleh Pak Edi (30 tahun) ia bias membeli kendaraan roda empat dan kendaraan sepeda motor selama lima tahun berjualan nanas, sedangkan ibu Maryati (60 Tahun) masih bertahan dari tahun 70-an sampai sekarang bisa menyekolahkan kelima anaknya sampai bangku kuliah padahal beliau suaminya sudah meninggal dunia. Begitu juga Pak Yanto (50 tahun) yang memiliki anak yang sedang menempuh pendidikan di PTS yang ada di Bandung, dari ketiga informan ini yang dijadikan sampling menyatakan dengan berjualan nanas “cukup lumayan dalam menyokong ekonomi keluarga”.

  1. Nanas mengangkat daerah Subang dan “Indonesia”

Patung nanas “Itu terjadi tahun 1990 yang membuat nama Subang naik daun, yang kemudian diapresiasikan pemerintah melalui patung nanas,” kata Dadang, pedagang nanas di Jalancagak. Selain itu nanas Subang juga mampu mengangkat nama Indonesia seperti yang diberitakan di Kompas bahwa:

“Kenyataannya nanas Subang ternyata mampu mengangkat nama Indonesia, sehingga ada sebuah perusahaan yang mengemas dalam makanan kalengan atau kemudian dibuat jus oleh pengusaha lainnya di Bandung. Di samping itu ada pula nanas yang dibuat dodol. Pokoknya, nanas dapat diolah dengan berbagai macam cara sehingga memberi kontribusi bagi masyarakat dan pemerintah daerah”.

Karena selain padi, lanjut Wawan bahwa: “komoditas unggulan pertanian lainnya ialah buah-buahan. Nanas, pisang, dan rambutan merupakan buah andalan kabupaten ini yang dikenal hingga ke luar daerah, Nilai kegiatan ekonomi Subang terbanyak disumbangkan oleh sektor pertanian, yakni Rp 3,44 triliun atau sebesar 38,28 persen. Berikutnya adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan Rp 1,74 triliun atau 19,44 persen ekonomi Subang, disusul industri pengolahan yang menyumbangkan Rp 1,12 triliun atau 12,48 persen nilai kegiatan ekonomi kabupaten ini”.

Dengan menurut kami itu merupakan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian daerah, sektor pertanian, termasuk di dalamnya agrobisnis, memang menjadi andalan pembangunan di Kabupaten Subang. Untuk mengembangkan sektor tersebut, pemerintah kabupaten masih membuka lebar kesempatan bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di Subang. Bidang agrobisnis yang terbuka antara lain pengembangan nanas, rambutan, dan manggis dalam rangka pembangunan ekonomi daerah maupun pusat. Dan sudah sangat jelas di ungkapkan di atas bahwa penghasilan dari berbagai usaha nya sangat mencukupi sekali untuk menghidupi keluarganya.

 

  1. Keluarga berencana (KB) di jalancagak

Sebuah sepanduk besar terpang-pang di depan puskesmas jalan cagak, kabupaten subang, jawabarat, “putus benang sudah biasa tapi putus kontrasepsi berbahaya”, slogan meminjam komentar mandra,dalam kampanye bersekolah,yang gencar di televis itu, disertai sepanduk lain yang tak kalah besar, Tulisanya “tunda kehamilan karna kondisi ekonomi belum stabil”.

Krisis moneter yang berkembang menjadi krisis ekonomi berkepanjangan, memang amat terasa dampak nya dalam urusan keluarga berencana ujar pak aditio sugi harto. Alat kontrasepsi yang selama ini dapat di peroleh dengan murah: suntik, pil, susuk tiba-tiba melambung harganya. Di tengah mahalnya harga bahan pokok sangat mungkin terjadi masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan perut nya di banding untuk membeli alat kontrasepsi, maka bila ini tidak cepat-cepat di antisipasi maka yang akan muncul adalah peningkatan jumlah kelahiran di jalan cagak ini. Dan Ini akan terus menjadikan kemungkinan negative lainya: seperti halnya sang anak akan mengalami kekurangan gijzi dikarnakan sang orangtua takmampu membeli makanan-makanan yang menunjang sang anak bertumbuh dengan optimal dan jadilah sang anak menjadi penerus yang tidak siap membangun bangsa ujar ibu neneng bidan di puskesmas jalan cagak.

Dilapangan, masyarakat jalan cagak terus di dorong melakukan berbagai terobosan untuk menyelamat kan akseptor Metode yang di kembangkan peserta “KB” di jalan cagak adapun warga di jalan cagak ini mempunyai satu kelompok, yang memiliki catatan kapan akseptor harus suntik ulang atau beli pil. Dengan demikian masing-masing bisa mencek dana yang terkumpul maupun akseptor yang tidak datang pada saat nya.hingga dua bulan berjalan dan danapun sudah terkumpul beberapa ratus ribu rupiah, dana ini sudah di gunakan membantu empat peserta KB suntik dan tiga peserta KB pil, dalam hal ini peran sang bidan memang sangat penting dan sangat luarbiasa pengaruh nya pada masyarakat, di tengah harga-harga yang membubung mereka rela menyisihkan sebagian uang yang sebenarnya menjadi hak nya mereka untuk membantu akseptor yang tidak mampu.

 

 

 

 

BAB III

Penutup

  1. Kesimpulan

Seluruh pekerja yang ada di Kecamatan Jalancagak ini lebih dari separuhnya adalah terserap oleh sektor pertanian. Kemudian keduanya diikuti oleh sektor jasa, selebihnya bekerja di sektor agrikultur. Kondisi tersebut telah mengalami pergeseran mengikuti perkembangan pembangunan dimana sektor agrikultur mulai ditinggalkan sesuai dengan perubahan fungsi tanah dan berkembang menjadi perumahan. Sektor jasa perdagangan berkembang dengan mengikuti pertumbuhan fungsi lahan pemukiman menjadi tempat usaha yang strategis, hal ini didukung oleh regulasi kebijakan di bidang perdagangan dimana pemerintah menyediakan kemudahan perijinan usaha. Maka dengan kesimpulan di atas, masyarakat jalan cagak sangat menyandarkan seluruh kebutuhan hidup nya dari bertani dan berdagang.

Bidan ketua kelompok di daerah sekitar subang yaitu jalancagak sangat penting dan berpengaruh sekali di dalam mengatasi kelahiran anak yang akan mengorbankan kesehatan sang anak di masa pertumbuhan nya, dikarnakan keadaan ekonomi di jalan cagak masih hanya cukup untuk kepentingan yang lebih di pentingkan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: