pembahasan ahlulbait

Dalil kewajiban mencintai, memuliakan ahlul-bait/keturunan Rasulallah saw

Ayat Asy-Syura:23 diatas ini lazim dikenal dengan nama ayat mawaddah, memberi peringatan kepada kaum muslimin, bahwa cinta kasih kepada ahlu-bait Rasulallah saw. adalah diminta oleh beliau saw. Sesuatu yang diminta oleh beliau saw, hukumnya wajib, sebab permintaan dalam hal seperti itu sama artinya dengan perintah yang diajukan dengan rendah hati, kata-kata sopan dan halus. Selain itu berarti pula, permintaan beliau mengenai itu mempunyai kedudukan hukum kuat, karena telah menjadi ketetapan yang di firmankan Allah swt.

Para imam ahli tafsir banyak membicarakan ayat tersebut, terutama mengenai kata al-qurba (orang-orang terdekat), yakni keluarga, ahlul-bait, aal dan kerabat. Sebagaimana telah kita ketahui makna umum dari kata tersebut adalah para isteri Rasulallah saw., anak cucu beliau saw. dan kerabat beliau (orang-orang Bani Hasyim) yakni mereka yang diharamkan menerima shodaqah. Sedangkan makna khususnya dalam hal itu ialah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam As-Suyuthi dan lain-lain diantaranya para imam yang kami cantumkan diatas ialah Imam ‘Ali bin Abi Thalib ra, Siti Fathimah Az-Zahra ra. dan dua orang puteranya, Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallahu ‘anhuma.

Atas pertanyaan Thawus, Ibnu ‘Abbas ra, menjawab bahwa yang dimaksud Al-qurba dalam ayat tersebut ialah ahlul-bait Muhammad saw.

Al-Muqrizy menafsirkan ayat al-mawaddah itu sebagai berikut: “Aku tidak minta imbalan apa pun kepada kalian atas agama yang kubawakan kepada kalian itu, kecuali agar kalian berkasih-sayang kepada keluargaku (keluarga Rasulallah saw.)”.

Abul-‘Aliyah mengatakan bahwa Sa’id bin Jubair ra. menafsirkan kata al-qurba dalam ayat tersebut ialah Kerabat Rasulallah saw..

Abu Ishaq mengatakan, ketika ia menanyakan makna al-qurba dalam ayat itu kepada ‘Amr bin Syu’aib ia beroleh jawaban, bahwa yang dimaksud ialah kerabat Rasulallah saw.

Imam Zamakhsyari didalam Al-Kasy-syaf sekaitan dengan penafsirannya mengenai ayat al-mawaddah itu, ia mengetengahkan sebuah hadits panjang, yang kemudian dikutip oleh Imam Al-Fakhrur-Razi didalam Al-Kabir. Hadits itu menuturkan bahwasanya Rasulallah saw. mengingatkan ummatnya agar mencintai keluaga (aal) Muhammad saw.: “Barangsiapa wafat dalam keadaan mencintai keluarga (aal) Muhammad ia mati syahid. Sungguhlah, siapa yang wafat dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, orang itu beroleh ampunan atas dosa-dosanya.. …dan seterusnya” .

Minta imbalan atas da’wah Risalah memang suatu hal yang tidak pada tempatnya, karena itu Allah swt. menegaskan lagi dalam firman-Nya yang lain: “Katakanlah hai Muhammad Aku tidak minta imbalan apa pun atas hal itu dakwah Risalah dan aku bukan orang mengada-ada” (As-Shad:86)

Menurut penafsiran Al-Khatib dan Al-Khazin makna kata minta dalam ayat Asy-Syura:23 tersebut harus ditafsirkan seruan, yakni seruan Rasulallah saw. kepada ummatnya agar menjunjung tinggi dan melaksanakan prinsip kekeluargaan dan kasih sayang diantara sesama kaum muslimin, khususnya kasih sayang terhadap ahlu-bait beliau saw.. Ath-Thabrani dan lain-lain juga mengetengahkan beberapa hadits Nabi saw. mengenai kecintaan kepada ahlu-bait Rasulallah saw. antara lain:

 “Seorang hamba Allah belum sempurna keimanannya sebelum kecintaannya kepadaku melebihi kecintaannya kepada diri sendiri, sebelum kecintaannya kepada keturunanku melebihi kecintaannya kepada keturunannya sendiri, sebelum kecintaannya kepada ahlu-baitku (keluargaku) melebihi kecintaan kepada keluarganya sendiri dan sebelum kecintaannya kepada dzat-ku melebihi kecintaan kepada dzat-nya sendiri”.

 “Ahlu-baitku dan para pencintanya dikalangan ummatku akan bersama-sama masuk surga seperti dua jari telunjuk ini”.

  “Hendaklah kalian tetap memelihara kasih-sayang dengan kami ahlu-bait sebab (pada hari kiamat kelak) orang yang bertemu dengan Allah dalam keadaan mencintai kami akan masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang nyawaku berada ditangan-Nya, amal seorang hamba Allah tidak bermanfaat baginya tanpa mengenal hak-hak kami”.

Ath-Tabrani dalam Al-Ausath mengetengahkan hadits dari Ibnu ‘Umar ra. mengatakan: “Perkataan terakhir yang diucapkan Rasulallah saw. adalah; ’Teruskanlah perlakuan yang telah kuberikan kepada ahlu-baitku’ ”.

Dari sumber yang sama,  Ath-Thabrani mengetengahkan hadits berikut:

“Allah swt.menetapkan tiga hurumat (hal-hal yang wajib dihormati dan tidak boleh dilanggar). Barangsiapa menjaga baik-baik tiga hurumat itu, Allah akan menjaga urusan agamanya dan keduniannya. Dan barang siapa tidak mengindahkannya, Allah tidak akan mengindahkan sesuatu baginya. Para sahabat bertanya: ‘Apa tiga hurumat itu, ya Rasulallah’?. Beliau saw. menjawab: ‘Hurumatul -Islam, hurumatku dan hurumat kerabatku’ ”.

Ath-Thabrani dalam Al-Ausath juga meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Jabir bin Abdullah yang mengatakan, ia mendengar sendiri dari Rasulallah saw. dalam suatu khutbah bersabda: “Hai manusia, barangsiapa membenci kami, ahlu-bait, pada hari kiamat Allah akan menggiringnya sebagai orang Yahudi”.

Abu Sa’id Al-Khudri ra meriwayatkan bahwasanya ia mendengar Rasulallah saw. tegas berkata: “Orang yang membenci kami ahlul-bait pasti akan di masukkan Allah kedalam neraka”.

Ad-Dailami mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. memberitahu ummatnya: “Barangsiapa yang hendak bertawassul (berwasilah) dan ingin mendapat syafa’atku pada hari kiamat kelak, hendaklah ia menjaga hubungan silatur-rahmi dengan ahlu-baitku dan berbuat menggembirakan mereka”.

Dalam hadits lainnya Ad-Dailami mengetengahkan berasal dari Imam ‘Ali kw. yang menuturkan: “Diantara kalian yang paling mantap berjalan diatas sirath ialah yang paling besar kecintaannya kepada ahlu-baitku dan para sahabatku ”.

Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan sebuah hadits bahwa Rasulallah saw. menuturkan: “Empat golongan yang akan memperoleh syafa’atku pada hari kiamat:  Orang yang menghormati keturunanku, orang yang memenuhi kebutuhan mereka, orang yang berusaha membantu urusan mereka pada saat diperlukan dan orang yang mencintai mereka dengan hati dan lidahnya”. Dua buah hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yaitu:

“Barangsiapa mencintaiku dan mencintai keduanya itu  yakni Al-Hasan dan Al-Husain serta mencintai ibu dan bapak mereka yakni Siti Fathimah Az-Zahra dan Imam ‘Ali bin Abi Thalib [ra] kemudian ia meninggal dunia sebagai pengikut sunnahku, ia bersamaku didalam surga yang sederajat”.

 “Pada hari kiamat aku akan menjadi syafi’ (penolong) bagi empat golongan  Yang menghormati keturunanku; yang memenuhi kebutuhan mereka; yang berupaya membantu urusan mereka pada waktu diperlukan dan yang mencintai mereka sepenuh hati”.

Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan lagi hadits marfu’, bahwasanya Rasulallah saw. telah menegaskan: “Siapa yang membenci ahlul-bait ia adalah orang munafik”. Sekaitan dengan hadits ini Imam Ahmad bin Hanbal mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. telah menyatakan juga: “Surga diharamkan bagi orang yang berlaku dzalim terhadap ahlu-baitku dan menggangguku melalui keturunanku”.

Sebuah hadits yang diketengahkan oleh Al-Hakim dari Zaid bin Arqam ra. Rasulallah saw. menegaskan antara lain:

“…Mereka (Ahlu-Bait beliau) adalah keturunanku, diciptakan dari darah-dagingku dan dikarunia pengertian serta pengetahuanku. Celakalah orang dari ummatku yang mendustakan keutamaan mereka dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Kepada orang-orang seperti itu Allah tidak akan menurunkan syafa’atku (pertolonganku)”.

Abu Sa’id didalam kitab Syarafuddin Nubuwwah mengetengahkan sebuah hadits, bahwasanya Rasulallah saw. berkata kepada Siti Fathimah ra: “Hai Fathimah, engkau marah Allah marah, dan engkau ridho (puas)  Allah ridho”.

Al-‘allamah Ibnu Hajar dalam kitabnya Ash-Shawaiqul-Muhriqah menerangkan sebagai berikut: “Barangsiapa mengganggu salah seorang putera (Siti) Fathimah, ia akan menghadapi bahaya karena perbuatannya itu membuat marah (Siti) Fathimah ra. Sebaliknya, barang siapa mencintai putera-putera (termasuk keturunannya), ia akan memperoleh keridhoannya. Para ulama Khawash (para ulama yang mempunyai keistemewaan khusus) merasa didalam hatinya terdapat keistemewaan yang sempurna karena kecintaan mereka kepada Rasulallah saw., dan ahlul-bait serta keturunannya atas dasar pengertian, bahwa ahlul-bait dan keturunan beliau saw. adalah orang-orang suci (dimuliakan oleh Allah swt.). Selain itu mereka (para ulama khawash) juga mencintai anak-anak (keturunan) sepuluh orang (sahabat Nabi saw.) yang telah dijanjikan masuk surga, disamping itu mereka (para ulama khawash) juga mencintai anak-anak keturunan para sahabat Nabi yang lain. Mereka memandang semua keturunan sahabat Nabi sebagaimana mereka memandang para orang tua mereka.

Selanjutnya Ibnu Hajar mengatakan: “Orang harus menahan diri jangan sampai mengecam mereka (ahlul-bait dan keturunan Rasulallah saw.). Jika ada seorang diantara mereka yang berbuat fasik berupa bid’ah (baca keterangan apa yang dimaksud Bid’ah dibuku ini) atau lainnya, yang harus di kecam hanyalah perbuatannya, bukan dzatnya, karena dzatnya itu merupakan bagian dari Rasulallah saw., sekali pun antara dzat beliau dan dzat orang itu terdapat perantara (wasa’ith)”.

Semua pemimpin dan para ulama kaum Salaf (generasi terdahulu) dan Khalaf (generasi belakangan/berikutnya) memupuk kecintaan masing-masing kepada ahlu-bait Rasulallah saw.. Imam Bukhori didalam Shohihnya mengetengahkan ucapan khalifah Abubakar ra.: “Jagalah baik-baik wasiat Muhammad saw. mengenai ahlu-bait beliau”.

Khalifah Abubakar sendiri dengan tegas pernah berkata: “Kerabat Rasulallah saw. lebih kucintai daripada kerabatku sendiri”.

Al-Mala dalam kitab Sirah-nya mengetengahkan sebuah hadits bahwasanya Rasulallah saw mewanti-wanti: “Wasiatkanlah kebajikan bagi ahlu-baitku. Pada hari kiamat besok kalian akan kugugat mengenai ahlu-baitku. Orang yang kelak menjadi lawanku ia menjadi lawan Allah dan siapa yang menjadi lawan Allah ia akan dimasukkan kedalam neraka”.

Ibnu Taimiyyah seorang ulama yang diandalkan juga oleh golongan peng- ingkar didalam kitabnya Risholatul-Furqan halaman 163 mengetengahkan pembahasan mengenai aal (ahlul-bait) Muhammad Rasulallah saw. Banyak hadits shohih yang dikemukakan sebagai dasar dan sekaligus juga sebagai dalil. Salah satu diantaranya ialah Hadits Tsaqalain (baca hadits Tsaqalain—pada halaman lain—pen) yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam ra. Hadits ini oleh Ibnu Taimiyyah disebut dalam pembahasannya mengenai ta’rif (definisi) aal Muhammad saw. Hadits tersebut ialah:

“..Dan kutinggalkan kepada kalian dua bekal (berat). Yang pertama adalah Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Ambillah (terimalah) Kitabullah itu dan berpeganglah teguh padanya… dan (yang kedua) ahlu-baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku…kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku ! Kalian ku ingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku”.

Dalam pembicaraannya mengenai hak-hak ahlu-bait Rasulallah saw. dalam kitabnya yang berjudul Al-Washiyyatul-Kubra halaman 297, Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Demikianlah, para anggota keluarga (ahlu-bait) Rasulallah saw. mempunyai beberapa hak yang harus dipelihara dengan baik oleh umat  Muhammad. Kepada mereka Allah swt. telah memberi hak menerima bagian dari seperlima ghanimah (harta rampasan perang), yang ketentuannya telah ditetapkan Allah swt. dalam Al-Qur’anul Karim (S.Al-Anfal:41). Selain hak tersebut mereka juga mempunyai hak lain lagi, yaitu hak beroleh ucapan shalawat dari ummat Muhammad saw., sebagaimana yang telah diajarkan oleh beliau saw. kepada ummatnya, agar senantiasa berdo’a sebagai berikut:

“Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan kepada aal (ahlu-bait, keluarga) Muhammad, sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan aal Ibrahim. Sesungguhnyalah Engkau Maha Terpuji lagi maha Agung. Berkatilah Muhammad dan aal Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan aal Ibrahim”.

Sekaitan dengan hak atas ucapan sholawat yang diperoleh aal atau ahlu-bait Rasulallah saw., Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya yang sama ini mengetengahkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ka’ah bin Syajarah beberapa saat setelah surat Al-Ahzab : 56 turun. Kata Ka’ah: “Kami para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepada anda, tetapi bagaimanakah cara kami mengucapkan sholawat kepada anda’? Rasulallah saw. menjawab: ‘Ucapkanlah: Ya Allah, limpahkan lah sholawat kepada Muhammad dan kepada aal Muhammad’ ”.

Ibnu Taimiyyah mengemukakan juga hadits lain yang berasal dari para sahabat Nabi saw, bahwasanya Rasulallah saw. mengingatkan para sahabat nya: “Janganlah kalian bersholawat untukku dengan sholawat batra, (yakni sholawat terputus tanpa lanjutan). Para sahabat bertanya: ‘Ya Rasulallah, apakah yang dimaksud sholawat batra’?. Beliau saw. menjawab: ‘Kalian mengucapkan: ‘Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Muhammad, lalu kalian berhenti disitu’ ! Ucapkanlah: ‘Ya Allah limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan kepada aal Muhammad’ “. (Lihat Mahmud Syarqawi ‘Sayyidatu Zainab ra :21).

Ibnu Taimiyyah ini tidak berbeda pendapat dengan Ibnul-Qayyim mengenai pengertian yang dimaksud aal Muhammad yaitu semua orang yang di haramkan menerima shodaqah dan mempunyai hak atas bagian dari seperlima ghanimah. Mereka ini adalah keturunan Rasulallah saw, semua orang Bani Hasyim dan para isteri Rasulallah saw. (Ummahatul-Mu’minin).

Didalam kitabnya yang lain yaitu Risalah Al-‘Aqidah Al-Washithiyyah, Ibnu Taimiyyah dalam menerangkan keyakinan kaum Ahlus-Sunnah dan mengecam kaum Rawafidh (kelompok sesat yang mendewa-dewakan dan menuhankan Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw.) dan kaum Nawashib (kelompok sesat yang memusuhi keluarga dan kerabat Rasulallah saw.), berkata antara lain: “Mereka (kaum Ahlus-Sunnah) mencintai aal (ahlu-bait, keluarga) Rasulallah saw. Mereka memandang aal beliau sebagai para pemimpin agama yang wajib dihormati dan dijaga baik-baik kedudukan dan martabatnya. Itu sesuai dengan wasiat yang diucapkan Rasulallah saw. di Ghadir Khum: ‘…Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku !’ (baca hadits Tsaqalain—pada halaman lain–pen). Mengenai cinta kasih kepada aal Muhammad saw. yang wajib diberikan oleh kaum muslimin, Ibnu Taimiyyah menyebut dua bait sya’ir dari Imam Syafi’i rahimahullah:

“Hai ahlu-bait Rasulallah, bahwa kecintaan kepada kalian

Kewajiban dari Allah yang diturunkan dalam Al-Qur’an

Cukuplah bukti betapa tinggi nilai martabat kalian

Tiada sempurna shalat tanpa sholawat bagi kalian “

Setelah menunjuk beberapa kitab sebagai rujukan dan menyebut juga be berapa hadits, Ibnu Taimiyyah menyebut jawaban Rasulallah saw. kepada pamannya, Al-‘Abbas, ketika ia mengadu kepada beliau adanya perlakuan kasar dari sementara orang terhadap dirinya. Dalam jawabannya itu Rasulallah saw. menegaskan: “Demi Allah yang nyawaku berada ditangan-Nya, mereka tidak akan masuk surga selama mereka belum mencintai kalian karena aku”.

Hadits semakna disebut juga oleh Ibnu Taimiyyah, yaitu hadits yang diketengahkan oleh Turmudzi, tercantum didalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal berasal dari Mutthalib bin Rabi’ah yang menuturkan bahwa jawaban Rasulallah saw. kepada ‘Abbas ra. ialah: “Demi Allah iman tidak akan masuk kedalam hati seseorang selama ia belum mencintai kalian karena Allah dan karena kalian itu kerabatku”! Konon beliau saw. mengucapkan jawaban tersebut dalam keadaan wajah beliau tampak agak gusar.

Didalam kitabnya yang berjudul Darajatul-Yaqin halaman 149, Ibnu Taimiyyah menyatakan: “Dalam kehidupan ummat manusia tidak ada kecintaan yang lebih besar, lebih sempurna dan lebih lengkap daripada kecintaan orang-orang beriman kepada Allah, Tuhan mereka. Di alam wujud ini tidak ada apa pun yang berhak dicintai tanpa karena Allah. Kecintaan kepada apa saja harus dilandasi kecintaan kepada Allah swt.. Muhammad saw. dicintai ummatnya demi karena Allah, ditaati karena Allah dan di ikuti pun karena Allah. Yakni sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam Al-Qur’anul-Karim (S.Aali ‘Imran : 31): ‘(Katakanlah hai Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian’ “!

Begitu juga sebagai bukti tentang betapa hormat dan betapa besar kecintaan para sahabat Nabi kepada ahlu-bait beliau saw, Ibnu Taimiyyah dalam Al-Iqtidha halaman 79 berkata: “Lihatlah ketika khalifah Umar ra. menetapkan daftar urutan pembagian jatah tunjangan dari harta Allah (Baitul-Mal) bagi kaum muslimin. Banyak orang yang mengusulkan agar nama Umar bin Al-Khattab ditempatkan pada urutan pertama. Umar tegas menolak; ‘Tidak! Tempatkanlah Umar sebagaimana Allah menempatkannya!’. Umar kemudian memulai dengan para anggota ahlu-bait Rasulallah saw. Kemudian menyusul orang-orang lain hingga tiba urutan orang-orang Bani ‘Adiy kabilah Umar ra sendiri. Mereka itu (para penerima tunjangan) adalah orang-orang Quraisy yang sudah jauh terpisah hubungan silsilahnya. Namun urutan seperti itu tetap dipertahankan oleh Khalifah Umar dalam memberikan hak-hak tertentu kepada mereka. Pada umumnya ia lebih mendahulukan orang-orang Bani Hasyim daripada orang-orang Quraisy yang lain. Mengapa demikian?

Ibnu Taimiyyah selanjutnya menjelaskan: Karena orang-orang Bani Hasyim adalah kerabat Rasulallah saw., mereka diharamkan menerima shadaqah atau zakat, dan hanya diberi hak menerima bagian dari seperlima jatah pembagian ghanimah. Mereka adalah orang-orang yang termasuk dalam lingkungan ahlu-bait Rasulallah saw. Dan ahlu-bait beliau adalah orang-orang yang dimaksud dalam firman Allah swt. (Al-Ahzab : 33): “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak melenyapkan kotoran (rijs)  dari kalian, hai ahlul-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”.

Karena shadaqah atau zakat itu merupakan kotoran (dari harta orang lain), mereka diharamkan menerimanya, dan sebagai gantinya mereka dihalalkan menerima bagian dari seperlima pembagian ghanimah. Ibnu Taimiyyah mengetahui, bahwa dikalangan ummat Islam terdapat dua pandangan terhadap cucu Rasulallah saw. Al-Husain ra. Ada yang mencintainya sebagai ahlu-bait Rasulallah saw. dan ada pula yang karena kepentingan kekuasaan mereka membencinya, bahkan memeranginya turun-temurun. Dalam sebuah Risalah khusus yang disusun Ibnu Taimiyyah mengenai tragedi pembantaian Al-Husain ra. di Karbala oleh pasukan daulat Bani Umayyah, ia (Ibnu Taimiyyah) berkata:

“Allah memuliakan Al-Husain bersama anggota-anggota keluarganya dengan jalan memperoleh kesempatan gugur dalam pertempuran membela diri, sebagai pahlawan syahid. Allah telah melimpahkan keridhoan-Nya kepada mereka karena mereka itu orang-orang yang ridho bersembah sujud kepada-Nya. Allah merendahkan derajat mereka yang menghina Al-Husain ra. beserta kaum keluarganya. Allah menimpakan murka-Nya kepada mereka dengan menjerumuskan mereka kedalam tingkah laku durhaka, perbuatan-perbuatan dzalim dan memperkosa kehormatan martabat Al-Husain ra dan kaum keluarganya, dengan jalan menumpahkan darah mereka. Peristiwa tragis yang menimpa Al-Husain ra pada hakikatnya bukan lain adalah nikmat Allah yang terlimpah kepadanya, agar ia beroleh martabat dan kedudukan tinggi sebagai pahlawan syahid. Suatu cobaan yang Allah tidak memperkenankan terjadi atas dirinya pada masa pertumbuhan Islam (yakni masa generasi pertama kaum muslimin). Cobaan berat pun sebelum Al-Husain ra telah dialami langsung oleh datuknya, ayahnya dan paman-pamannya (yakni Rasulallah saw., Imam Ali bin Abi Thalib ra., Ja’far bin Abi Thalib ra dan Hamzah bin ‘Abdul Mutthalib ra)”.

Didalam kitabnya Al-Iqtidha halaman 144 Ibnu Taimiyyah tersebut lebih menekankan: “Allah melimpahkan kemuliaan besar kepada cucu Rasulallah saw., Al-Husain ra, dan pemuda penghuni sorga bersama keluarganya, melalui tangan-tangan durhaka. (Itu merupakan pelajaran) musibah apa pun yang menimpa ummat ini (kaum muslimin) wajib mereka hadapi dengan sikap seperti yang diambil oleh Al-Husain ra dalam menghadapi musibah”.

Ibnu Taimiyyah menyebut pula sebuah hadits yang menerangkan bahwasanya Rasulallah saw. pernah berkata kepada para sahabat: “Cintailah Allah, karena Allah mengaruniai kalian berbagai nikmat, maka hendaknyalah kalian mencintaiku karena kecintaan kalian kepada Allah, dan cintailah anggota-anggota keluargaku (ahlu-bait dan keturunanku) demi kecintaan kalian kepadaku ”. Demikianlah Ibnu Taimiyyah dalam kitab-kitabnya yang tersebut diatas ini.

Mari kita ambil sebagian keterangan dari  Syeikh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Jala’ul-Afham membicarakan ahlubaitun-nubuwwah (keluarga para Nabi) secara menyeluruh. Mengingat halaman dibuku ini, kami tidak menulis seluruhnya kutipan dari Syeikh Ibnu Qayyim hanya sebagian saja yang berkaitan dengan kemuliaan keturunan Rasulallah saw.. Ibnu Qayyim menulis dikitab tersebut diatas:

“Dari mulai nabi Ibrahim as. hingga ahlu-bait Muhammad saw., keluarga silsilah keturunan Nabi Ibrahim as. adalah keluarga-keluarga yang diberkati dan disucikan Allah swt. karena itu mereka adalah silsilah keluarga yang paling mulia diantara semua ummat manusia. Allah swt. berkenan menganugerahkan berbagai keistimewaan dan keutamaan kepada mereka ini. Allah swt. telah menjadikan Nabi Ibrahim as. dan keturunannya sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh ummat manusia sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Baqarah:125. ‘Nabi Ibrahim dan putranya Ismail membangun baitullah (rumah Allah) Ka’bah yang kemudian oleh Allah ditetapkan sebagai kiblat kaum mu’minin dan untuk menunaikan ibadah haji’.

Begitu juga Allah swt. telah memerintahkan semua orang yang beriman agar bersholawat pada Nabi Muhammad saw. dan keluarga (aal) beliau seperti sholawat yang diucapkan bagi Nabi Ibrahim dan keluarga (aal) beliau. Allah swt. telah menjadikan baitun nubuwwah (keluarga Nabi Ibrahim as dan keturunannya hingga Nabi Muhammad saw. dan keturunannya) sebagai ‘furqan’ (batas pemisah kebenaran dan kebatilan). Bahagialah manusia yang mengikuti seruan dan jejak mereka dan celakalah mereka yang memusuhi dan menentangnya.

Allah swt. telah menciptakan dua ummat manusia terbesar didunia yaitu umat Musa as dan ummat Muhammad saw. sebagai ummat-ummat terbaik dalam pandangan Allah, guna melengkapi jumlah 70 ummat yang diciptakan-Nya. Allah swt. melestarikan kemuliaan baitun nubuwwah sepanjang zaman dengan melalui disebut-sebutnya keagungan mereka dan keluarga serta keturunan mereka, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ash-Shaffat :108-110.

Kesemuanya itu merupakan berkah dan rahmat Allah swt. yang telah di limpahkan kepada baitun-nubuwwah. Diantara mereka itu ada yang memperoleh martabat tinggi dan keutamaan-keutamaan lain, seperti Nabi Ibrahim sebagai Khalilullah ; Nabi Isma’il diberi gelar Dzabihullah , Nabi Musa didekatkan kepada-Nya dan dianugerahi gelar Kalimullah, Nabi Yusuf dianugerahi kehormatan dan paras indah yang luar biasa, Nabi Sulaiman dianugerahi kerajaan dan kekuasaan yang tiada bandingnya dikalangan ummat manusia, Nabi Isa diangkat kedudukannya ke martabat yang setinggi-tingginya dan Nabi Muhammad saw. diangkat sebagai penghulu semua Nabi dan Rasul serta sebagai Nabi terakhir pembawa agama Allah, Islam.

Mengingat kemuliaan martabat baitun-nubuwwah yang dimulai sejak nabi Ibrahim a.s. secara turun-temurun hingga Nabi Muhammad saw., maka tidak lah mengherankan jika beliau saw. mewanti-wanti ummatnya supaya menghormati, mengakui kemuliaan terhadap ahlubait dan keturunannya. Ini bukan semata-mata hanya karena keagungan martabat beliau saw. sendiri sebagai Nabi dan Rasul, melainkan juga karena kemuliaan baitun-nubuwwah yang telah ditetapkan Allah swt. sejak Nabi Ibrahim a.s. Itulah rahasia besar yang terselip didalam Hadits Tqalain dan hadits-hadits lainnya yang berkaitan dengan kedudukan ahlubait keturunan Rasulallah saw.”. Demikianlah sebagian keterangan Syeikh Ibnu Qayyim dalam kitabnya Jala’ul-Afham mengenai keutamaan baitun-nubuwwah.

Masih banyak lagi hadits-hadits yang memberitakan pesan (wasiat) beliau saw. kepada ummatnya mengenai keluarga dan keturunan beliau saw. setelah beliau saw. wafat. Tidak diragukan lagi, cukup banyak hadits Nabi saw. membuktikan bahwa mencintai ahlu-bait (keluarga atau aal) beliau saw. adalah wajib hukumnya. Menolak seruan beliau berarti membangkang dan orang yang membangkang dalam hal agama ialah orang durhaka, fasik dan fajir. Kita semua tahu bahwa dalam syari’at Rasulallah saw. mewajibkan secara umum untuk mencintai sesama muslimin, menjaga hak-haknya dan saling do’a mendo’akan. Bila ada orang yang melanggarnya maka dia akan mendapat dosa.

“Mencintai sesama muslimin itu sudah merupakan kebajikan yang harus ditaati apalagi mencintai keturunan Rasulallah saw. malah lebih ditekankan lagi oleh syari’at !! Bagaimanakah sekarang orang yang bersikap membenci, mendengki atau mencerca Ahlu-bait Rasulallah saw.? Bagaimana pula jika orang yang bersikap demikian itu mengaku dirinya beriman kepada Allah swt. dan Rasul-Nya, Muhammad saw.?, jika dalam kenyataannya ia menusuk dan menyakiti hati beliau saw. karena mencerca dan membenci keluarga dan keturunan beliau saw. Mengingkari keutamaan mereka saja sudah merupakan kesalahan besar, apalagi membenci dan melecehkan mereka !

Pernah juga di Indonesia berita yang dimuat dikoran-koran beberapa silang waktu yang lalu pernyataan saudara Hasan Basri bahwa Hasan bin Ali bin Abi Thalib tidak punya keturunan dan semua keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib sudah dibantai di Karbala, pernyataan seperti ini sering diutarakan pada hari ulang tahun Al-Irsyad. Pernyataan Hasan Basri ini pernah ditanyakan oleh YAPI sumber dalil pernyataannya tersebut tapi tidak pernah terjawab. Pernyataan seperti itu sudah tentu tidak ada dalilnya sama sekali baik secara aqli (akal) maupun naqli (nash), tidak lain karena ketidak senangannya atau kedengkian pada golongan ‘Alawiyyun (salah satu julukan keturunan Nabi yang dari Hadramaut/Yaman Selatan), dan orang-orang semacam ini sangat bahaya sekali karena bisa mengelabui atau menghancurkan kebenaran sejarah Islam.

Bila Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib ra. dianggap tidak ada dalam sejarah maka akan fiktif pula lah teman-teman beliau seperti Az-Zuhri dan Sa’id bin Musayyab yang kedua tokoh ini merupakan sumber banyak hadits sunni. Begitu juga kitab-kitab hadits dan kitab-kitab fiqih serta sejarah Islam yang memuat banyak nama-nama cucu dari sayyidina Hasan dan sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, semuanya ini harus dihapus atau dibuang !

Begitu juga cucu keempat Rasulallah saw. –Imam Ja’far Ash-Shodiq ra.– yang terkenal dalam sejarah dan dikenal oleh empat Imam juga (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal [ra.] ) dan pengikutnya serta dikenal juga oleh semua madzhab baik itu Ahlus-sunnah Wal jama’ah, Syiah, Zaidiyyah, Salafi/Wahabi  dan lainnya. Cucu beliau yang keempat ini banyak juga melahirkan tokoh-tokoh ulama besar Islam. Nama dan nasabnya ialah Imam Ja’far Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib kw. Beliau lahir tahun 80 H/699 M dan wafat tahun 150 H/765M. Ibu beliau ialah cucu dari khalifah Abu Bakar ra. yang bernama Ummu Farwah binti Al-Qasin bin Muhammad bin Abu Bakar As-Siddiq. Menurut riwayat yang pernah berguru juga dengan Imam Ja’far ini yaitu Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767M) dan Imam Malik bin Anas (93-179H/712-795M).

Kalau kita ziarah ke kuburan Baqi’ di Madinah maka disana akan kita dapati kuburan secara berurutan yang telah dikenal baik dikalangan ulama-ulama pakar seluruh dunia maupun dikalangan ummat muslimin yaitu kuburan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Imam Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib kw. dan kuburan Imam Ja’far As Shodiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Segala sesuatu baik Al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. serta sejarah disampaikan melalui riwayat yang ditulis oleh para perawi dan diteruskan serta dikembangkan oleh ulama-ulama pakar baik dari zaman dahulu sampai akhir zaman nanti. Begitupun juga mengenai nasab keturunan manusia banyak kita ketahui dengan melalui riwayat yang ditulis dari zaman dahulu sampai akhir zaman. Karena semua itu anjuran agama agar manusia selalu menulis hal-hal yang dianggap penting. Dengan adanya riwayat-riwayat ini kita bisa mengenal sejarah Islam, datuk-datuk dan keturunan Rasulallah saw., para Nabi dan Rasul lainnya, para sahabat dan para tabi’in dan para ulama-ulama atau suku-suku lainnya !! Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: