fungsi agama dalam masyarakat “(B.R Wilson)”

BAB II

Pembahasan

Gambar

 

  1. A.      Pengertian Agama

Menurut hendro puspito agama adalah suatu jenis sistem sosial yang di buat oleh penganut-penganut nya yang berproses pada kekuatan-kekuatan non empiris yang di percayainya dan di daya gunakan nya untuk mencapai keselamatan bagi mereka dan masyarakat luas umum nya. Adapun menurut sebagian tokoh lain mengatakan bahwa agama adalah sebuah sandaran hidup bagi penganut nya. Dalam kamus sosiologi ada tiga macam yaitu

  1. Kepercayaan pada hal hal yang spiritual
  2. Perangkat kepercayaan dan praktik-praktik spiritual yang di anggap sebagai tujuan tersendiri.
  3. Ideologi mengenai hal hal yang bersipat natural.

Merumuskan pengertian agama bukan suatu perkara mudah, dan ketidak sanggupan manusia untuk mendefinisikan agama karena disebabkan oleh persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena itu tidak mengherankan jika secara internal  muncul pendapat-pendapat yang secara apriori menyatakan bahwa agama tertentu saja sebagai satu-satunya agama samawi, meskipun dalam waktu yang bersamaan menyatakan bahwa agama samawi itu meliputi Islam, Kristen dan Yahudi.

Sumber terjadinya agama terdapat dua katagori, pada umumnya agama Samawi dari langit, agama yang diperoleh melalui Wahyu Illahi antara lain Islam, Kristen dan Yahudi.—-dan agama Wad’i atau agama bumi yang juga sering disebut sebagai agama budaya yang diperoleh berdasarkan kekuatan pikiran atau akal budi manusia antara lain Hindu, Buddha, Tao, Khonghucu dan berbagai aliran keagamaan lain atau kepercayaan.

Dalam prakteknya, sulit memisahkan antara wahyu Illahi dengan budaya, karena pandangan-pandangan, ajaran-ajaran, seruan-seruan pemuka agama meskipun diluar Kitab Sucinya, tetapi oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai Perintah Illahi, sedangkan pemuka-pemuka agama itu sendiri merupakan bagian dari budaya dan tidak dapat melepaskan diri dari budaya dalam masa kehidupannya, manusia selalu dalam jalinan lingkup budaya karena manusia berpikir dan berperilaku.

Beberapa acuan yang berkaitan dengan kata  “Agama” pada umumnya; berdasarkan Sansekerta yang menunjukkan adanya keyakinan manusia berdasarkan Wahyu Illahi dari kata A-GAM-A, awalan A berarti “tidak” dan GAM berarti “pergi atau berjalan, sedangkan akhiran A bersifat menguatkan yang kekal, dengan demikian “agama: berarti pedoman hidup yang kekal” Berdasarkan kitab, SUNARIGAMA yang memunculkan dua istilah; AGAMA dan UGAMA, agama berasal dari kata A-GA-MA, huruf A berarti “awang-awang, kosong atau hampa”, GA berarti “genah atau tempat” dan MA berarti “matahari, terang atau bersinar”, sehingga agama dimaknai sebagai ajaran untuk menguak rahasia misteri Tuhan, sedangkan istilah UGAMA mengandung makna, U atau UDDAHA yang berarti “tirta atau air suci” dan kata GA atau Gni berarti “api”, sedangkan MA atau Maruta berarti “angin atau udara” sehingga dalam hal ini agama berarti sebagai upacara yang harus dilaksanakan dengan sarana air, api, kidung kemenyan atau mantra. Berdasarkan kitab SADARIGAMA dari bahasa sansekerta IGAMA yang mengandung arti I atau Iswara, GA berarti Jasmani atau tubuh dan MA berarti Amartha berarti “hidup”, sehingga agama berarti Ilmu guna memahami tentang hakikat hidup dan keberadaan Tuhan.

  1. B.       Pengertian masyarakat

Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang menghasilkan kebudayaan (Soerjono Soekanto, 1983). Sedangkan agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan tersebut. Sedangkan Agama di Indonesia memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia, Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Sejumlah agama di Indonesia berpengaruh secara kolektif terhadap politik, ekonomi dan budaya. Di tahun 2000, kira-kira 86,1% dari 240.271.522 penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam, 5,7% Protestan, 3% Katolik, 1,8% Hindu, dan 3,4% kepercayaan lainnya.

Dalam UUD 1945 dinyatakan bahwa “tiap-tiap penduduk diberikan kebebasan untuk memilih dan mempraktikkan kepercayaannya” dan “menjamin semuanya akan kebebasan untuk menyembah, menurut agama atau kepercayaannya”. Pemerintah, bagaimanapun, secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu.

Dengan banyaknya agama maupun aliran kepercayaan yang ada di Indonesia, konflik antar agama sering kali tidak terelakkan. Lebih dari itu, kepemimpinan politis Indonesia memainkan peranan penting dalam hubungan antar kelompok maupun golongan. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

Berdasar sejarah, kaum pendatang telah menjadi pendorong utama keanekaragaman agama dan kultur di dalam negeri dengan pendatang dari India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda. Bagaimanapun, hal ini sudah berubah sejak beberapa perubahan telah dibuat untuk menyesuaikan kultur di Indonesia.

  1. C.      Fungsi agama dalam masyarakat (Bryan Wilson)

Menurut Bryan Wilson, agama memiliki fungsi[1] manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. Sedangkan fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan. Untuk mendapatkan gambaran dari persoalan-persoalan yang di kaji, para sosiolog menggunakan dua corak metodologi penelitian, yaitu kuantitatif dan kualitatif.

Penelitian kuantitatif dalam sosiologi agama disandarkan pada skala besar survey terhadap keyakinan keagamaan, nilai-nilai etis dan praktik kehadiran di gereja. Pendekatan seperti ini digunakan oleh Rodney Stark dan William Bainbridge dalam The Future of Religion saat mengumpulkan sejumlah besar database statistik nasional dan regional tentang kehadiran di gereja dan keanggotaan peribadatan dalam upaya menghasilkan teori sosial yang telah direvisi mengenai posisi agama dalam masyarakat modern. Sedangkan penelitian kualitatif terhadap agama disandarkan pada komunitas atau jama’ah keagamaan dalam skala kecil dengan menggunakan metode seperti pengamatan partisipan atau wawancara mendalam. Metode ini diprakarsai oleh Max Weber dan kemudian disempurnakan oleh Ernst Troeltsch dari Jerman. Jelasnya bahwa dua metode tersebut (kuantitatif dan kualitatif) dapat digunakan untuk meneliti agama melalui pendekatan sosiologi.

Menurut B. R. Wilson, agama terlibat sedikit dalam masyarakat. Namun, dia mengakui terlalu pagi untuk mengatakan bahwa masyarakat modern dapat berfungsi tanpa agama. Masyarakat sekuler masa kini, demikian Wilson, di mana pemikiran, praktik, dan institusi  keagamaan hanya sebagian kecil saja, hanya mewarisi sedikit nilai, watak, dan orientasi agama masa lampau. Masyarakat yang sepenuhnya sekuler belum ada. Mungkin, apabila respon terhadap institusionalisme makin subur, birokrasi dalam masyarakat modern makin berkembang, demikian Wilson, agama akan menemukan fungsi-funsgi baru untuk dijalankan–tetapi, barangkali bukan agama yang menerima nilai-nilai institusionalisme dan agama ekumenisme, melainkan agama sekte-sekte.

  1. Sekte sekte B.R Wilson

Sekte adalah gerakan ideologi yang mempunyai sasaran yang eksplisit dan di ikrarkan, mempertahankan, dan bahan penyebaran ideologi tersebut. Oleh karna itu, dapat di catat bahwa orang orang yang kepentingan nya terletak di atas semua ideologi (sumber dan kredibilietas gagasan mengenai tuhan, dan pembenaran atas perlakuan namanya). Mempunyai kepentingan yang absah atas namanya. Dalam pembahasan mengenai sekte-sekte agama ada beberapa macam sekte yang di kemukakan oleh B.R Wilson, yaitu sebagai berikut:

  • Sekte konversionis

            Sekte[2] konversionis adalah sekte khas dari kristen mentalis dan “evangelis” reaksinya terhadap dunia luar menunjukan bahwa sekte terahir ini menyimpang karna manusia menyimpang. Jika manusia dapat di ubah maka dunia akan berubah. Tipe sekte ini tidak berminat untuk melakukan repormasi sosial atau menempuh cara pemecahan politik terhadam masalah sosial, dan bahkan secara aktif membencinya.

  • Sekte introversionist

            Tipe introversionist memberikan respon kepada dunia dalam bentuk ketidak pedulian terhadap mualaaf. Dan juga tak peduli kejadian apapun di dunia, melainkan menarik dari diri dunia dan asik dengan kelompok sendiri yang di pimpin oleh pemimimpin yang suci. Tipe sekte ini sepenuh nya tak acuh terhadap segala repormasi sosial, terhadap konverensi individual dan revolusi sosial.

  • Sekte manipulationist

            Sekte manipulationist adalah yang terutama berdasarkan pada pengetahuan husus tertentu. Mereka mendefinisikan dirinya sebagai lawan (vis-a-vis) dunia luar secara esensial dengan cara menerima tujuan tujuan nya.mereka meringkali pernyataan persi yang lebih spirit tual dari tujuan kebudayaan masyarakat secara keseluruhan tetapi tidak menolaknya. Sekte ini lebih suka berusaha mengebah metode-metode yang sesuai untuk mencapai tujuan itu.

  • sekteThaumaturgikal[3]

            sekte thaumaturgikal adalah gerakan yang berpendapat bahwa manusia dapat mengalami akibat yang luarbiasa dari supernatural dalam kehidupan mereka. Sekte ini mendefinisikan diri sendiri dalam kaitanya dengan masyarakat yang lebih luas dengan menegaskan bahwa kenyataan dan penyebab normal dapat di paduklan untuk manfaat difensiasi husus dan pribadi, dan merekapun tidak mengakui adanya proses fisik menua dan matti dan berhimpun untuk menegaskan pengecualian husus dari pernyataan sehari-hari yang diberi jaminan setiap individu dan orang yang di cintainya hidup abadi di akhirat nanti.

  • Sekte reformist

            Sekte reformist maknanya merupakan kasus tersendiri. Tetapi pendekatan analitik yang dinamik terhadap gerakan keagamaan membutuhkan suatu kategori yang sesuai dengan kelompok nya, walaupun sektarian di dalam hal-hal tertentu, telah mempengaruhi transpormasi dalam respon awal mereka terhadap dunia luar. Meski pada mulanya sekte ini revolusioner, sikap ini kemudian bisa menjadi introvet.

  • Sekte utopia

            Sekte utopia barangkali adalah tipe sekteyang paling komplek sebagian responya terhadap dunia luar adalah penarikan diri: dan sebagianlagi bercita-cita membangun lagi dunia agar lebih baik. Dalam kasus sekte utopian agak nya sangat tidak perlu membedakan antara orang-orang yang di anggap membutuhkan”koloni” sebagai misi keagamaan mereka yang esensial, sebagai sarana yang spesipik dalam mencapai kemulyaan, dan orang-orang yang menganggap misi itu untuk mencapai kepentingan rasional tertentu.

  • Sekte legion

Sekte legion adalah sekte yang berpengaruh terhadap kristen. Dalam sejumlah kasus tertentu para pemimpin mereka adalah para penduduk asli yang memperoleh kesempatan yang langka untuk memperoleh martabat dan kekuasaan yang di tawarkan oleh misi yang dimana mereka dididik. Sebagai contoh kasus rimbangon.[4]

 

 

 

 

BAB III

Penutup

  1. A.      Kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan bahwa agama memiliki fungsi manifes dan fungsi laten. Fungsi manifesnya adalah memberikan keselamatan identitas personal dan jiwa bagi laki-laki dan perempuan. fungsi latennya adalah memberdayakan personal dan spiritual dalam menghadapi gangguan emosional inner, kondisi spiritual dan upaya untuk menghadapi ancaman keimanan dan penyembahan.

Agama pun dapat berfungsi pada masyarakat dalam perananya mengatasi persoalan-persoalan yang timbul di masyarakat yang tidak dapat di pecahkan secara empiris karana adanya keterbatasan dan kemampuan dan ketidak pastian.

  1. B.       Daftar pustaka

Kahmad dadang sosiologi agama

Dadang Kahmad, “Sosiologi Agam” (Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002)

Dikutip dari fotocopy roland robersont,ed agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis oleh Drs. Fedyani achmad s, M.A (Rajagrafindo persada, jakarta, 1995)


[1] Dua fungsi menurut B.R Wilson, lihat pada buku Aneka pendekatan studi agama terjemaahan, imam khoiri halaman 284/287

[2] Pembahasan mengenai sekte sekte menurut B.R. Wilson, lihat pada buku agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis terjemaahan Achmad Fedyani S, halaman 432/439

[3] Pembahasan mengenai sekte sekte menurut B.R. Wilson, lihat pada buku agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis terjemaahan Achmad Fedyani S, halaman 441/456

[4] Kasus kimbangon. lihat pada buku agama dalam analisa dan interpretasi sosiologis terjemaahan Achmad Fedyani S, halaman 455

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: